TARAKAN – Upaya pencegahan peredaran dan penyalahgunaan narkotika terus diperkuat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara.
Tidak hanya mengandalkan personel internal, BNNP Kaltara kini memperluas jejaring dengan melibatkan komunitas masyarakat dari berbagai latar belakang.
Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Kick Off Meeting Peluncuran Perjanjian Kerja Sama, Rabu (3/12).
Plt Kepala BNNP Kaltara, Dr. Agus Surya Dewi, M.Pd, menegaskan bahwa kolaborasi dengan kelompok masyarakat menjadi salah satu strategi penting dalam menjawab kondisi darurat narkoba yang masih terjadi di Indonesia, termasuk di wilayah perbatasan seperti Kaltara.
“Kerja sama ini tindak lanjut dari pelatihan soft skill yang sebelumnya sudah diberikan kepada perguruan tinggi dan kelompok masyarakat. Ada yang dari kampus, ada dari organisasi keagamaan, ada juga ketua-ketua komunitas. Ini perlu diperkuat agar mereka benar-benar tahu apa yang harus dilakukan di lapangan,” ujarnya.
Program soft skill yang dimaksud merupakan pelatihan yang dalam beberapa bulan terakhir diberikan BNNP kepada mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi, termasuk LB3I yang kini telah bertransformasi menjadi politeknik.
“Kami sudah mulai dari kampus Politeknik, dan beberapa komunitas. Sekarang kami kembangkan lagi supaya mereka paham soft skill terkait intelijen, pencegahan, rehabilitasi hingga pemberdayaan masyarakat,” jelas Agus.
Menurutnya, mahasiswa dan kelompok komunitas selama ini kerap dihadapkan pada situasi narkoba di lingkungan sekitar, namun belum memahami prosedur, langkah pengamanan, maupun cara melaporkan informasi secara tepat.
Dalam Kick Off Meeting ini, BNNP menghadirkan empat bidang strategis yang akan memberikan materi langsung kepada peserta. Diantaranya yaitu bidang intelijen, pencegahan, rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Di bidang intelijen, kami butuh informasi-informasi dari masyarakat. Kalau mereka melihat sesuatu—misalnya transaksi narkoba terjadi di depan mata—itu tidak bisa dicuekin. Harus ada tindakan. Mereka harus tahu alurnya, melapor ke siapa, dan bagaimana menyampaikan informasi yang benar,” tegas Agus.
Pembekalan juga dilakukan untuk bidang pencegahan, rehabilitasi, serta pemberdayaan masyarakat sebagai langkah memperkuat seluruh lini.
“Saya pikir ini adalah upaya memberdayakan masyarakat karena kita sedang dalam kondisi darurat. Tidak boleh diam. Semua masyarakat harus bergerak,” ucapnya.
BNNP menargetkan para peserta Kick Off Meeting ini dapat menjadi agent of change sekaligus perpanjangan tangan BNN di lingkungan masing-masing.
“Mereka nanti menjadi ujung pemberdayaan masyarakat. Mereka yang membuat program, merancang aksi lapangan sesuai kondisi lingkungan. Dari BNN ada pembekalan dan penguatan, tetapi kreativitas program akan dikembangkan masing-masing komunitas,” jelas Agus.
Kelompok yang dilibatkan bukan hanya komunitas kampus dan organisasi keagamaan, tetapi juga ketua-ketua komunitas di wilayah tertentu yang memiliki pengaruh langsung pada masyarakat.
Selain kelompok masyarakat, BNNP Kaltara juga terus menjalin kolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Menurut Agus, kolaborasi lintas sektor ini menjadi penting karena permasalahan narkoba tidak hanya berada di ranah penindakan.
“OPD juga kita kerja samakan, terutama yang terkait pencegahan. Jadi kerjasamanya berada pada level teknis. Semua harus terlibat karena ini kerja besar,” katanya.
Ia menegaskan, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum. Kekuatan masyarakat harus dimobilisasi secara terstruktur dan berkelanjutan.
Dengan pola pendampingan dan penguatan ini, BNNP berharap masyarakat dapat berperan lebih aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi.
“Ini adalah salah satu penguatan yang membuat masyarakat bisa jadi perpanjangan tangan BNN. Selama ini kan mereka belum tahu harus berbuat apa ketika melihat masalah narkoba. Setelah kegiatan ini, mereka sudah punya dasar tindakan,” tutupnya. (zar)
Editor : Azwar Halim