TARAKAN - Carut marutnya situasi perekonomian global berdampak pada perekonomian dalam negeri. Sehingga kondisi ini membuat pemerintah Indonesia harus memutar otak untuk keluar dari ketergantungan kondisi ini.
Meskipun demikian, Kaltara memiliki peluang menjaga kestabilan ekonomi lantaran memiliki potensi besar dalam melakukan percepatan proyek Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) yang berfokus pada hilirisasi.
Hal itulah yang diungkapkan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, dalam forum “Benuanta Investment and Economic Summit" yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, beberapa waktu lalu.
Ia menyampaikan, saat ini proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025 menunjukkan perlambatan bahkan turun dari 7,3 persen menjadi 3,1 persen.
"Faktor seperti ketidakpastian global, adalah terjadinya temporary government shutdown di Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik antara AS dan Tiongkok, menyebabkan potensi permintaan ekspor produk Kaltara menghadapi tantangan.
Ketidakpastian global ini mengindikasikan bahwa tantangan kita, khususnya dari sisi X eksternal, itu cukup menantang,” ujarnya, Minggu (23/11).
"Ketergantungan ekspor Komoditas kita sekitar 80 persen ekspor Kaltara didominasi oleh batu bara. Dengan tren transisi energi dan penurunan permintaan global terhadap batu bara, Kaltara harus mencari sumber ekonomi baru.
Adapun saat ini kita dihadapkan oleh kendala Infrastruktur dan Regulasi. Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), masalah utama investasi di Kaltara adalah infrastruktur fisik serta perizinan dan regulasi," sambungnya.
Dikatakannya, jika daerah mengandalkan pertambangan terus menerus, maka perekonomian daerah tidak akan bisa tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya. Lanjutnya, titik terang dan harapan Kaltara untuk keluar dari ketergantungan komoditas adalah pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI).
Proyek smelter pengolahan aluminium di KIPI saat ini sedang dalam proses commissioning dan dijadwalkan mulai berproduksi pada awal tahun depan.
"Kami menekankan hilirisasi merupakan pengungkit ekonomi masa depan Kaltara. Pengolahan bauksit menjadi aluminium dapat meningkatkan nilai tambah hingga 8 kali lipat, dan dari aluminium menjadi produk hilir lainnya bisa mencapai 15 kali lipat. Kami berharap ekonomi Kaltara tahun depan akan jauh lebih tinggi seiring dengan berproduksinya aluminium yang ada di kawasan kita. Ini sangat menjanjikan, karena global terhadap berbagai kebutuhan termasuk aluminium itu sangat menjanjikan,” terangnya.
"Saat ini ekonomi kita ditopang oleh kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah yang meningkat di triwulan 3. Ada beberapa sumber-sumber pertumbuhan. Misalnya di Kalimantan kita secara keseluruhan secara nasional kita menumbuhkan 8,02 persen porsi ekonomi Kalimantan. Sementara utamanya masih berasal dari ekonomi di Jawa dan Sumatera," jelasnya. (zac)
Editor : Azwar Halim