Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pemerintah Wacanakan Redenominasi Rupiah, Praktisi Jelaskan Untung Ruginya

Zakaria RT • Kamis, 13 November 2025 | 17:55 WIB

 

AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN Praktisi sekaligus Akademisi ekonomi Dr Margiyono S.E, M.Si
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN Praktisi sekaligus Akademisi ekonomi Dr Margiyono S.E, M.Si

TARAKAN - Adanya wacana pemerintah terhadap redenominasi atau penyederhanaan nominal rupiah disambut baik oleh masyarakat. Mengingat saat ini, nominal nilai uang yang digunakan dinggap memiliki angka yang cukup banyak.

Sehingga hal ini dinilai menyulitkan baik transaksi maupun pencatatan keuangan pada perbankan. Di sisi lain, redenominasi tersebut dikhawatirkan mempengaruhi psikologis masyarakat yang terbiasa menggunakan nilai uang dengan angka yang banyak.

Saat dikonfirmasi, Praktisi sekaligus Akademisi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si menerangkan, sejauh ini rencana redenominasi masih dinilai positif lantaran tidak memiliki resiko yang berdampak langsung pada nilai rupiah.

Kendati demikian, redenominasi menurutnya juga memiliki kekurangan seperti adanya adaptasi dalam beberapa tahun serta dikhawatirkan dapat menyebabkan kebingungan sementara masyarakat.

"Kalau melihat rencana redenominasi nominal rupiah ini sebenarnya ada plus minusnya. Pertama kalau dilakukan, ini belum tentu menguatkan rupiah. Kedua jika kebijakan ini dilakukan akan memerlukan waktu sehingga sementara waktu masyarakat akan menggunakan nominal lama yang dicampur dengan format nominal baru sehingga dikhawatirkan menimbulkan kebingungan masyarakat khususnya di pedesaan," ujarnya, Kamis (13/11).

"Selanjutnya, dengan redenominasi ini memperlemah laporan keuangan pendapatan daerah. Misalnya daerah A biasanya mendapat penghasilan Rp 1 trilliun, dengan redenominasi, nominalnya akan berubah menjadi Rp 1 milliar. Meski nilainya tetap sama, tapi secara nominal besaran tersebut berkurang ini akan menimbulkan kesan pendapatan kita menurun meski nilainya tetap sama," sambungnya.

Kendati demikian, redenominasi dinilai memiliki keuntungan seperti memudahkan transaksi dan pencatatan keuangan khususnya pada dunia perbankan. Serta membuat rupiah terkesan lebih bermarwah yang memiliki angka tidak terlalu banyak.

"Tapi di sisi lain, redenominasi ini menguntungkan dunia perbankan dengan meminimalisir kesalahan pencatatan dan catatan laporan keuangan. Selain itu membuat rupiah terkesan lebih bermawah dibandingkan dengan memakai formal nol yang banyak," urainya.

"Tapi kembali lagi redenominasi bukanlah suatu cara untuk memperkuat rupiah. Memperkuat rupiah tetap dengan upaya - upaya meningkatkan produksi barang dalam negeri, ekspor serta menekan inflasi. Saya kira dalam hal ini, pemerintah cukup paham terhadap urgensi dari redenominasi ini," jelas ya.

"Tentu redenominasi ini juga memiliki alasan psikologis untuk mempermudah transaksi keuangan masyarakat dan perbankan. Tapi di sisi lain, ini memerlukan waktu untuk adaptasi masyarakat dalam penyesuaian. Tapi secara garis besar, ini tidak berdampak langsung terhadap menguatnya atau melemahnya mata uang kita (rupiah),"pungkasnya. (zac)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #redenominasi #wacanakan