TARAKAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menginformasikan bahwa Tarakan berdekatan dengan Patahan atau Sesar Tarakan sehingga kapanpun gempa akan bisa terjadi lagi.
Kepala BMKG Tarakan, M. Shulam Khilmi menjelaskan, sejak beberapa tahun lalu pihaknya sudah menyampaikan kepada para stekholder dan masyarakat bahwa Tarakan berdampingan dengan patahan dan dalam sejarahnya dan secara historis pernah menyebabkan gempa berkekuatan magnitudo 7,0 dan dengan karakter gempa yang cenderung berulang.
"Maka kami perlu menyampaikan kepada masyarakat potensi gempa bisa terjadi sewaktu-waktu di Tarakan," ujarnya, Kamis (6/11).
Selanjutnya, hingga kini, belum ada teknologi di seluruh dunia yang dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi secara spesifik kemudian dari BMKG hanya dapat memetakan potensi gempa dan menentukan intensitas maksimum gempa di suatu wilayah.
"Jadi sekali lagi belum ada teknologi yang bisa memperkirakan secara detail kapan gempa akan terjadi," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, salah satu kelemahan di Tarakan adalah minimnya sensor gempa bumi di Kalimantan Utara. Jumlah sensor yang terbatas ini mengurangi kecepatan BMKG dalam menganalisis gempa, yang dapat memengaruhi akurasi data awal magnitudo seperti yang terjadi pada insiden sebelumnya.
"Kita memang punya sensor gempa bumi di Kaltara, namun tidak banyak sehingga ini bisa mengurangi kecepatan dalam menganalisis gempa seperti tadi malam awalnya itu magnitudo 4,4 kemudian setelah di perbarui menjadi magnitudo 4,8 dan juga sensor kita selama ini baru di daratan sedangkan sensor di dasar laut belum ada, seandainya sensor lebih banyak dan ada juga di dasar laut kemungkinan pengelolaan data juga akan lebih cepat lagi," ungkapnya.
Khilmi menegaskan, penting untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa di Tarakan ada potensi gempa dan bagaimana melatih respons yang tepat saat gempa terjadi agar tidak panik.
BMKG juga selalu menyampaikan peringatan dini tentang dampak gempa dan memberikan informasi cepat, termasuk klarifikasi mengenai potensi tsunami, untuk menjaga ketenangan masyarakat.
"Tak kala penting juga BMKG mengedukasi masyarakat dan stekholder apa yang tindakan yang harus di ambil ketika terjadi gempa agar saat gempa tidak panik kemudian masyarakat agar tidak mudah mempercayai berita atau isu yang sumbernya tidak jelas," pungkasnya. (*nkh/).
Editor : Azwar Halim