Tarakan dikenal sebagai kota yang strategis di utara Kalimantan, letaknya yang dikelilingi laut membuat kota ini menjadi pintu gerbang penting perdagangan dan logistik.
Namun, di balik posisi yang menguntungkan itu, ada keluhan klasik yang terus berulang. Harga bahan pokok di Tarakan selalu lebih mahal dibandingkan daerah lain.
Masyarakat Tarakan kerap harus menghela napas dengan kencang setiap kali ke pasar maupun toko sembako.
Pasalnya beras, cabai, bawang, minyak goreng, hingga telur semuanya hampir selalu berada di atas rata-rata harga nasional. Lalu, mengapa kondisi ini terus terjadi?
Sebagai pulau kecil yang tidak memiliki jalur darat dengan wilayah lain, Tarakan memang sepenuhnya bergantung pada jalur laut dan udara untuk distribusi barang. Artinya, setiap lonjakan biaya transportasi otomatis ikut menambah beban harga di tingkat konsumen.
Tapi apakah alasan geografis cukup untuk dijadikan jawaban mutlak? Rasanya tidak. Masalah harga mahal di Tarakan juga menyimpan sisi manajemen distribusi dan kebijakan yang belum optimal.
Rantai distribusi yang panjang hingga keterbatasan stok membuat harga di pasaran sulit terkendali.
Sementara itu, masyarakatlah yang menanggung akibat. Di saat pendapatan mayoritas warga tidak meningkat signifikan, pengeluaran untuk kebutuhan dapur justru makin besar. Khawatirnya, daya beli bisa saja melemah dan kesenjangan ekonomi akan terasa.
Tarakan sebenarnya memiliki potensi besar dalam sektor perikanan, pertanian, maupun perkebunan di sekitar wilayah Kalimantan Utara. Namun, alih-alih memanfaatkan potensi lokal untuk menekan harga, beberapa bahan pangan justru mengambil pasokan dari luar.
Akibatnya, stabilisasi harga menjadi sulit dicapai. Opini publik di Tarakan pun sering mengerucut pada satu kesimpulan, yaitu harga di Tarakan mahal-mahal.
Sudah saatnya pemerintah daerah serius mencari terobosan. Misalnya, dengan memperkuat jalur distribusi yang lebih efisien, mendorong produksi lokal agar bisa menopang kebutuhan dasar, hingga mengawasi praktik-praktik monopoli harga di pasar.
Masyarakat tentu bisa memahami jika ada faktor alamiah yang membuat harga sedikit berbeda, tetapi yang tidak bisa diterima adalah ketika perbedaan itu terlalu jauh dan dibiarkan tanpa solusi.
Tanpa langkah konkret, keluhan masyarakat akan tetap sama setiap tahun, “belanja di Tarakan selalu lebih mahal.” (*wld)
Editor : Azwar Halim