Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kisah Sari Wulandari, Sosok di Balik Suksesnya Brand Parfum Lokal E&B, Pernah Jadi TKW Hingga Diusir dari Toko

Radar Tarakan • Selasa, 12 Agustus 2025 | 10:20 WIB
Sari Wulandari.
Sari Wulandari.

Tarakan - Namanya Sari Wulandari. Usianya 32 tahun. Lahir di Palu, anak ke-6 dari 7 bersaudara.

Di balik wajahnya yang tenang, ada perjalanan panjang penuh jatuh bangun yang membawa nama ENB Parfum jadi brand lokal kesayangan Gen Z dan dewasa muda di Tarakan. Bahkan sudah merambah luar kota dan pulau.

Awalnya Hanya Menemani Kakak Jualan. Cerita ENB dimulai bukan dari bisnis besar, tapi dari niat sederhana, menolong kakak sendiri.

ENB awalnya dimiliki oleh sang kakak, Erick Bogar, sekitar tahun 2010-an. Saat itu, Sari baru saja kembali ke Indonesia setelah 3 tahun jadi TKW di Arab Saudi. Ia pernah juga kerja di warung nasi Padang di Maluku Utara. Hidupnya nomaden, asal bisa kerja dan bertahan.

Hingga suatu hari, kakaknya memintanya ke Tarakan untuk membantu menjaga toko parfum kecil di Karang Anyar. Modalnya? Nol. Pengetahuan soal parfum? Nihil. Tapi dia belajar.

Zaman itu belum ada media sosial, hanya Blackberry Messenger untuk promosi. Dan saat itu yang laku hanya bisa dihitung dengan jari. Toko belum seramai sekarang. Sari digaji 500 ribu per bulan. Tapi dia sabar, telaten, dan mencintai pekerjaannya.

Dari 6 Cabang ke Titik Nol

Seiring waktu, ENB mulai dikenal. Cabang berkembang hingga enam lokasi. Tapi badai datang. Pandemi COVID-19.

Penjualan anjlok. Satu per satu cabang tutup. Kakaknya stres, menjual rumah dan mobil, lalu pindah ke Makassar. Sari ikut. Ia kembali menjaga toko ENB di sana. Tapi hati Sari ternyata tertinggal di Tarakan.

Tahun berikutnya, Sari memutuskan pulang. Hanya tiga cabang yang tersisa. Ia kembali ke Karang Anyar dan bersama suaminya, memulai dari nol. Ia memberanikan diri membuka ENB versi mereka sendiri.

“Awalnya kami enggak punya modal. Kami pinjam uang di koperasi. Tanpa jaminan. Untungnya ada yang percaya. Karena tempatku meminjam ini langganan kami juga," ucap Sari kepada Radar Tarakan.

Toko pertamanya hanya 3x3 meter di Sebengkok. Mereka tidur di toko itu berlima, bersama anak-anaknya dan sempit-sempitan.

Dan masih teringat jelas kala itu, Sari pernah makan hanya nasi dan garam. Kompor dititipkan di rumah orang karena tak punya ruang. Tikus menggigit. Kamar mandi pakai fasilitas umum. Tapi mereka bertahan.

Dan kalau orang tanya kenapa usaha parfum? "Karena cuma itu ilmu yang aku punya. Sayang kalau disia-siakan.” Bebernya.

Bangkit dan Menjadi Favorit Gen Z

Dengan modal seadanya, mereka terus promosi walau uang pas-pasan. Tak jarang Sari jualan es teler dan risol saat Ramadan untuk menutup biaya harian dan cicilan koperasi.

Semua dilakukan sendiri. Sari sendiri yang racik, layani pelanggan, handle media sosial, dan dibantu suami tercinta menjadi kurir untuk mengantar barang ke rumah konsumen.

Kini, ENB punya dua cabang. Yaitu di Sebengkok dan Kampung Satu. Mereka juga mulai rutin pakai influencer. Parfum racikan ENB jadi buah bibir. Gen Z suka karena.

Banyak varian dan racikan baru, Pelayanan ramah dan langsung dari owner-nya, Harga terjangkau, Packaging kekinian, dan Aktif di media sosial dan selalu ikuti tren viral.

“Setiap hari aku di toko. Aku dengerin langsung masukan dari pelanggan.” Katanya.

Perempuan, Diremehkan, Tapi Tetap Bangkit

Sebagai perempuan, Sari mengaku sering diremehkan. Dibilang, “Cabang satu aja belum tentu laku, ngapain buka dua?” Tapi ia cuek. Karena ia tahu tujuan dan tekadnya.

Tahun 2025 ini, ENB tak hanya dikenal di Tarakan. Produk mereka sudah dikirim ke seluruh Kalimantan Utara, hingga Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi. Lewat penjualan online, Sari membuktikan bahwa brand lokal bisa bersaing dengan produk besar.

Tahun 2025, Allah memberikan rejeki kepada Sari dan Suami. Kini ia bersyukur karena bisa beli mobil dan sebidang tanah meski masih dicicil. Yang penting, anak-anaknya tak harus tidur di toko sempit lagi.

Mimpi dan Pesan untuk Anak Muda

“Aku cuma ingin ENB buka di mana-mana. Dan semoga kami bisa punya rumah sendiri, bukan cuma sewa. Kalau rumah sudah ada, aku ingin buka cabang di luar Tarakan.”

Pesan untuk anak muda, terutama perempuan? "Kalau punya niat buka usaha, coba saja. Kalau ditantang, itu berarti ada jalan.”

Sari juga bercerita, ia pernah buka toko di Berau. Baru dua bulan, sudah diusir. Ia jual laptop untuk bertahan. Pindah ke Samarinda, tapi gagal juga.

Ia bahkan pernah kehilangan penciuman selama berbulan-bulan. Padahal ia harus mencium aroma parfum untuk meracik.

Tapi dari semua jatuh, Sari memilih bangkit. Dari seorang penjaga toko, kini ia pemilik brand parfum lokal yang dikenal banyak orang. (Eru)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #brand parfum lokal #Kisah Sari Wulandari