TARAKAN - Kota Tarakan masih dihadapkan pada tantangan serius dalam bidang kesehatan, terutama terkait angka kematian ibu dan bayi. Berdasarkan data terbaru, angka kematian ibu dan bayi di Kota Tarakan masih relatif tinggi.
Pengelola Program Gizi dan Anak Dinkes Tarakan, Susanna mengatakan, kasus kematian ibu menurun dari 6 kasus pada tahun 2023 menjadi 4 kasus pada tahun 2024. Namun, angka kematian bayi meningkat dari 29 kasus pada tahun 2023 menjadi 31 kasus pada tahun 2024.
"Kemudian kasus kematian ibu di semester pertama tahun 2025 ada 2 kasus lalu kematian bayi ada 22 kasus sampai saat ini," ujarnya, Rabu (6/8).
Kematian ibu dibagi menjadi dua, yaitu kematian langsung yang disebabkan oleh persalinannya, kehamilannya, dan nifas, serta kematian tidak langsung yang disebabkan oleh adanya penyakit bawaan.
"Selama ini banyak disebabkan oleh kematian tidak langsung dengan bawaan penyakit jantung," sambungnya.
Kematian bayi juga disebabkan oleh Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) lalu bawaan dari ibu, jika si ibu saat hamil Kurang Energi Kronis (KEK), penyakit anemia, TBC, malaria, HIV, dan penyakit bawaan infeksi lainnya.
"Penyebab kematian bayi paling banyak karena lahir dengan berat di bawah 2.5 kilogram bahkan ada yang cuma di angka 700 hingga 900 gram sehingga kemungkinan hidup sangat kecil," ungkapnya.
Dinkes juga berupaya meningkatkan kualitas teman-teman bidan dan dokter dan ke kader PKK dengan memberikan edukasi dan membantu menyampaikan ke masyarakat khususnya ibu hamil untuk mengecek kehamilannya minimal 6 kali selama hamil.
"Dinkes menyediakan skrining layak hamil yang dimulai dari remaja putri dan ada program pemberian tablet tambah darah diharapkan dapat menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi," pungkasnya.
Dinkes juga menghimbau untuk para remaja putri dan calon-calon ibu agar selalu memperhatikan pola makan dan hindari kebiasaan merokok, minum kopi dan begadang supaya bisa menjadi calon ibu yang sehat, kemudian kehamilannya dan melahirkan bayi juga akan sehat. (*nkh).
Editor : Azwar Halim