Tarakan – Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Ada yang dibesarkan di penjual es teh sederhana, ada yang tumbuh di dalam pesantren, ada pula yang belajar di jurusan alat berat di SMK. Tapi satu hal menyatukan Zasqia, Alhazmi, dan Takbir. Mereka semua kini resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI), kampus terbaik di tanah air.
Ketiganya membuktikan bahwa anak-anak dari ujung utara Kalimantan pun bisa menembus kampus impian, meski tanpa privilege besar. Mereka masuk lewat jalur prestasi SNBP yang kemudian membawa serta harapan keluarga dan mimpi untuk masa depan yang lebih baik.
Zasqia: Dari Warung Es Teh ke Gedung Rumpun Ilmu Keperawatan UI
Zasqia Arrun Dhita, lulusan SMK Kesehatan Kaltara, awalnya tidak berniat kuliah. Mimpinya adalah langsung bekerja di Jepang. Tapi dorongan keluarga dan keberanian mencoba membuatnya nekat mendaftar ke satu-satunya universitas. Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Keperawatan.
“Waktu itu iseng aja daftar. Aku bahkan nggak bilang ke mama,” kenangnya.
Sang ibu, Elis Santi, sedang jaga warung es teh saat pengumuman keluar. Tak tahu-menahu, ia menangis haru ketika tahu anaknya lolos UI. Sang ayah sambung, seorang driver ojek online, juga tak bisa menyembunyikan bangga.
Zasqia tidak masuk daftar siswa berprestasi di sekolah, tapi ia pernah jadi juara 1 LKS bidang Health and Social Care tingkat provinsi dan medali excellence di tingkat nasional.
“Aku dulu minder. Tapi justru aku yang keterima UI. Rejeki itu bisa datang dari mana saja,” ucapnya. Ia kini aktif mencari beasiswa dan punya cita-cita menjadi dosen dan mengabdi di Kaltara.
Alhazmi: Hafal 30 Juz, Santri Pertama Tarakan yang Tembus UI
Alhazmi Hashfidwirza, lulusan SMA Muhammadiyah Boarding School Tarakan, membuktikan bahwa prestasi non-akademik juga bisa jadi pintu masuk ke UI. Ia tidak punya deretan piala lomba akademik, tapi hafalannya kuat. Ia juara 3 hafalan 5 juz tingkat kota (dua kali) dan juara 3 hafalan 30 juz pada 2024.
“Saya cantumkan itu semua waktu daftar SNBP jalur prestasi,” katanya.
Masuk UI adalah ide orangtua. Mereka mendorong Alhazmi mengambil jurusan Okupasi Terapi, bidang kesehatan yang langka tapi dibutuhkan. Awalnya ia menargetkan UMS di Surakarta, tapi justru UI yang menerima.
Waktu pengumuman keluar, ibunya menangis, ayahnya tersenyum bangga. Kini ia tinggal di asrama UI, terbiasa jauh dari orangtua sejak di pesantren. Ia adalah santri pertama dari sekolahnya yang masuk UI, dan punya mimpi untuk lanjut S2 serta mengabdi di kampung halaman. yaitu Kaltara.
“Kalau kamu minder mau daftar UI, coba aja. Saya buktinya. Ikhtiar dulu, insyaallah ada jalan,” ucap Alhazmi.
Takbir: Dari SMK Teknik Alat Berat, Kini Jadi Mahasiswa Teknik Mesin UI
Muhammad Takbir Riszwansyah tidak percaya bahwa anak SMK seperti dirinya bisa masuk kampus nomor 1. Ia ambil jurusan Teknik Alat Berat di SMKN 2 Tarakan, dan UI hanya ia pilih sebagai ‘jaga-jaga’.
Tapi ternyata, takdir berkata lain.
“Aku pikir nggak mungkin keterima. Bahkan orang tua nggak tahu aku daftar UI,” katanya.
Waktu pengumuman keluar, ia membuka sendirian. Diam-diam. Setelah lolos, ia memberi tahu orangtuanya. Ayahnya, seorang driver Grab, hanya bisa bertanya, “Kamu mau lanjut?”
Ibunya, Bu Risna, memeluk erat dan berpesan: “Jaga diri, banggain orang tua, dan jangan macam-macam.”
Takbir kini tinggal di asrama UI di Depok. Ia anak pertama dari empat bersaudara dan yang pertama kuliah. Ia bercita-cita bekerja di Freeport, dan suatu hari ingin membangun hidup yang lebih baik untuk keluarganya.
“Ekonomi keluarga saya sederhana. Tapi saya tahu ini tanggung jawab besar. Saya ingin mengangkat derajat keluarga.”
Satu Kota, Tiga Cerita, Satu Pesan: Jangan Takut Bermimpi
Ketiganya menjadi cermin harapan bagi pemuda-pemudi Kaltara. Mereka berasal dari lingkungan sederhana, tapi berani bermimpi besar. Mereka tidak dibentuk oleh kemewahan, tapi oleh kerja keras, dukungan keluarga, dan keberanian mengambil peluang.
Kini, Zasqia, Alhazmi, dan Takbir tengah menapaki jalan mereka masing-masing di kampus kuning legendaris, membawa serta nama Tarakan, doa orangtua, dan mimpi yang belum selesai.
Untuk anak muda Kaltara, mereka punya satu pesan:
“Jangan takut mencoba. Jangan malu bermimpi tinggi. Rezeki itu nggak pernah salah alamat.” (Eru)