Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Mengenal Sosok Edy Artil, Tokoh Masyarakat Selumit Pantai Tarakan yang Melawan Peredaran Narkoba melalui Ilmu Agama.

Zakaria RT • Selasa, 1 Juli 2025 | 13:21 WIB
Tokoh Masyarakat Kampung Bersinar Selumit Pantai Edy Artil. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Tokoh Masyarakat Kampung Bersinar Selumit Pantai Edy Artil. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

MUNGKIN belum banyak yang mengenal sosok Edy Artil seorang tokoh masyarakat di Selumit Pantai yang saat ini telah digelari Kampung Bersinar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan untuk memperbaiki stigma di wilayah tersebut.

Kampung Bersinar merupakan sebuah wilayah gabungan RT 12 dan 13 yang berada di Kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan.

Sekilas sosok Edy Artil tidak jauh berbeda dari warga lainnya. Namun pria 65 tahun ini telah belasan tahun ini mengabdikan dirinya untuk berjuang memutus regenerasi pelaku peredaran narkoba di wilayah tersebut melalui ilmu agama.

Hal itu bermula dari keresahan pribadi Edy melihat aktivitas peredaran narkoba di wilayah yang cukup memperihatinkan, bahkan merambah ke anak-anak.

Sebagai masyarakat yang memiliki banyak anak, ia cukup khawatir lingkungan tersebut menjerumuskan anak-anaknya pada peredaran. Selain itu ia khawatir terhadap pelaku peredaran narkoba yang terus beregenerasi yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya.

Atas keprihatinan tersebut, Edy merasa perlu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan generasi muda dari jeratan narkoba. Sehingga sejak tahun 2010 ia memutuskan untuk mendedikasikan dirinya untuk merangkul anak-anak usia dini untuk mengaji. Iya dia menjadi guru ngaji secara sukarela untuk mencegah anak-anak terjebak pada dunia hitam.

"Awalnya saya prihatin melihat lingkungan rumah saya yang menjadi pusat peredaran narkoba. Mungkin sebagian besar peredaran narkoba di Tarakan berasal dari tempat ini. Dari orang dewasa sampai anak-anak menjual sabu-sabu secara terang-terangan di depan rumah mereka. Saya prihatin melihat masa depan anak-anak yang terjerat kehidupan dunia hitam karena orang tuanya," ujarnya, Senin (30/6).

"Jadi suatu hari saya berpikir bagaimana menghentikan ini, sementara saat ini pemerintah juga sudah kewalahan menangani ini. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajar ngaji, saya kumpulkan anak-anak setiap sore ngaji di rumah saya. Itu semua gratis, saya mengajar sukarela karena tujuannya supaya mereka mengerti agama dengan harapan mereka bisa menjalani hidup lebih baik," sambungnya.

Ia menceritakan, sejak dulu warga Kampung Bersinar hidup layaknya masyarakat pada umumnya. Namun sejak masuknya fenomena narkoba tahun 2005 mengubah segalanya.

Baca Juga: Job Fair di Tarakan Masih Diminati Pencari Kerja

Masuknya narkoba di kampung tersebut membuat masyarakat setempat tidak lagi antusias menjalankan profesinya sebagai nelayan, pedagang atau kuli bangunan.

Hal itu tidak terlepas dari penghasilan yang mengiurkan serta kerja yang tidak menguras tenaga. Puncak dari peredaran narkoba terjadi sekitar 2010 yang kala itu masyarakat tidak lagi berjualan secara sembunyi-sembunyi. Sehingga hal itu yang Edy terpanggil melakukan sesuatu.

"Waktu itu sebenarnya juga polisi sudah masuk, menangkap juga. Tapi itu tidak cukup membuat warga berhenti. Semakin hari peredaran narkoba khususnya sabu-sabu di sini semakin banyak. Mungkin hanya berapa rumah saja yang tidak terikat narkoba, bisa dihitung jari. Anak-anak kecil saat itu sudah tidak asing dengan narkoba, mereka juga sudah tahu itu dilarang pemerintah. Tapi mereka kadang terpaksa harus membantu orang tuanya atau mencari uang jajan," ungkapnya.

"Tapi mau bagaimana kebanyakan waktu itu anak-anak ada yang putus sekolah ada juga yang belum pernah sekolah. Jadi saya pikir bagaimana masa depan kampung ini. Sementara waktu itu juga pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya saya kumpulkan satu-satu anak-anak untuk mengaji di rumah saya. Supaya mereka ada kegiatan dan mengerti mana yang baik dan mana yang dilarang agama," ucapnya.

Bertahun-tahun Edy berjuang untuk mengcounter pengaruh narkoba kepada anak-anak di Kampung Bersinar, bahkan tidak jarang upaya Edy mendapat penolakan dari beberapa warga.

Namun Edy tidak menyerah, Edy lagi-lagi membujuk beberapa anak yang tidak tertarik mengaji sampai akhirnya lambat laun muridnya terus bertambah. Bagi Edy, meski para pemuda dan orang tua sudah sulit terselamatkan, setidaknya ia bisa menyelematkan generasi anak usia dini melalui ilmu agama.

"Tidak mudah, gratis saja banyak yang tidak mau apalagi membayar. Saya harus membujuk mereka dari rumah ke rumah untuk mengaji. Mereka sudah tidak sekolah, jangan sampai mereka tidak ngaji. Setidaknya saya bisa mengajarkan dia mengaji sekaligus membaca dan berhitung yang tidak mereka dapatkan karena tidak sekolah. Harus sabar, dan terus bosan mengajak mereka. Kalau hari ini mereka malas mengaji besok saya ajak lagi," tukasnya.

"Alhamdulillah, dari yang ikut ngaji di bawah 10 orang sekarang sekitar 80-an orang. Sudah banyak anak-anak yang saya ajar sudah besar, sudah berkeluarga. Dan saya sangat bersyukur berkat bantuan pemerintah juga kampung ini bisa ke arah jauh lebih baik dari seperti dulu," jelasnya.

Meski bertahun-tahun Edy membina anak usia dini di Kampung Bersinar melalui pendidikan agama, namun hal tersebut belum mampu membuat Kampung tersebut terbebas narkoba.

Namun bagi Edy kala itu, meski ia tidak dapat mengubah fenomena di lingkungannya secara menyeluruh, setidaknya ia bisa meminimalisir pengaruh narkoba di kawasan tersebut.

Sampai pada akhirnya pemerintah benar-benar serius menanggani peredaran narkoba di kampung tersebut sejak 2024 sehingga cita-cita Edy menemukan titik terang.

"Alhamdulillah tahun 2024 tempat ini diresmikan menjadi kampung bersinar, kemudian pengawasan mulai diperketat dan dibangun pos di depan. Tidak jarang BNN, Polda masuk mengawasi. Karena usaha itu akhirnya warga di sini perlahan-lahan kembali ke profesinya dulu menjadi nelayan atau kuli bangunan," jelasnya.

"Setelah diresmikan tahun 2024, murid saya juga bertambah akhirnya saya pindah mengajar di masjid sekaligus dibentuk TPA (Tempat Pengajian Anak). Sekarang sudah ada sukarelawan lain yang membantu saya. Kadang dari Polda juga mengirimkan polwan bergantian membantu mengajar anak-anak mengaji. Sampai sekarang anak mengaji masih gratis tidak ada dipunggut biaya," urainya.

Ia bersyukur kini upayanya membuahkan hasil. Upaya yang dulu ia bangun seorang diri akhirnya mendapat banyak atensi dari berbagai pihak sehingga ia dapat mendirikan TPA seiring pembangunan masjid di kawasan tersebut.

Dan hingga hari ini namanya dan guru sukarelawan lainnya baru didaftarkan menjadi guru ngaji resmi yang tercatat di Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Tarakan.

Selain itu, TPA yang dirintisnya juga mendapatkan bantuan barang inventaris keperluan ngaji dari berbagai pihak seperti lembaga pemerintah, komunitas dan organisasi. Sehingga TPA yang dirintisnya sudah memiliki fasilitas seperti meja belajar, koleksi buku agama dan kipas angin.

"Alhamdulillah tahun ini saya bersama sukarelawan lain sudah dicatat dan disertifikasi sebagai guru ngaji resmi BKPRMI. insyaallah tahun depan kami sudah mendapatkan tunjangan insentif dari pemerintah. Tapi yang paling penting bagi saya, bagaimana saya berbuat sesuatu untuk memperbaiki kehidupan masyarakat di kampung ini," tuturnya.

Di usianya yang sudah sepuh, Pria kelahiran Palu 1960 ini berharap kelak TPA yang dirintisnya dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya. Dan ia berharap kampung bersinar akan terus terjaga dari pengaruh negatif yang merusak generasinya.

Baginya kehidupan bukan hanya soal berbuat dan menghasilkan. Namun lebih dari itu, ia harus memastikan apa yang sudah ia kerjakan dapat terjaga dari generasi ke generasi.

Oleh sebab itu, ia juga aktif membina pengajar ngaji muda agar selalu konsisten dan tidak mengedepankan materi dalam mengajarkan ilmu agama. Sehingga dikatakannya, seorang pendidik hanya terfokus pada pengabdian yang membuatnya dapat konsisten.

"Saya yakin kalau kita ikhlas membantu sesama di jalan Allah, maka Allah akan senantiasa menurunkan rezekinya. Bahkan semut saja yang keluar lubang rezekinya sudah disiapkan oleh Allah. Selagi kita berjuang untuk agama dan kebaikan rezeki itu pasti ada. Saya percaya itu dan alhmdulillah anak saya 8 orang hidup kami selalu bercukupan dengan hanya membuka warung kelontong di rumah," tuturnya.

Meski hanya memiliki warung kelontong, namun warung kelontongnya selalu ramai pembeli setiap harinya. Usaha itulah yang menghidupi Edy beserta seorang istri dan delapan anaknya. Bagi Edy, sedikit banyaknya rezeki adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri.

"Dari warung itu, saya bisa menghidupi anak saya secara layak dan mampu menyekolahkan anak-anak saya. Alhamdulillah selama hidup saya tidak pernah merasa kekurangan. Karena patokan saya bersyukur tidak melihat pencapaian orang. Meski hari ini makan nasi sama garam kita tetap harus bersyukur karena itu kita bisa memperpanjang hidup kita,", pungkasnya. (zac)

Editor : Azwar Halim
#Melawan Narkoba #peredaran narkoba #tarakan #kaltara #ilmu agama #Selumit Pantai Tarakan