TARAKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) arakan menegaskan hingga saat ini sudah tidak terdapat adanya laporan kasus Leptospirosis di Kota Tarakan.
Hal tersebut menyusul sembuhnya dua pasien yang bermukim di RT 45 Kelurahan Karang Anyar dan RT 14 Kelurahan Karang Balik pada Januari hingga April 2025 lalu.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinkes Tarakan dr Devi Ika Indriarti M.Kes menerangkan, kedua pasien tersebut telah dipulangkan setelah menjalani perawatan intens di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT).
Diungkapkan Devi Kota Tarakan cukup rawan terhadap penyebaran virus Leptospirosis lantaran maraknya pemukiman yang juga dihuni banyak tikus.
Diungkapkannya, penyebab berkembang biaknya tikus tidak terlepas dari lingkungan yang kurang bersih yang membuat tikus memiliki banyak sumber makanan.
"Temuan kasus sebelumnya yakni Kelurahan Karang Anyar pada 26 Februari di RT 45 dan di RT 14 Kelurahan Karang Balik pada 8 April 2025. Dua pasien ini sudah sembuh. Kalau tahun-tahun sebelumnya ada dirawat dan kita lakukan pemeriksaan sampel. Kadang pasien sudah membaik, tapi hasil sampel tetap ditindaklanjuti,” ujarnya, Senin (9/6).
"Penyebab leptospirosis dari bakteri Leptospira sp. Bakteri ini disebarkan oleh tikus. Kami telah mengambil sampel tikus, dengan melakukan pemasangan perangkap tikus. Setelah itu kami melakukan membeda tikus dan sampelnya dikirim ke Banjarbar untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Dari hasil itu dipastikan tikus tersebut positif Leptospirosis. Sampel tikus itu diambil di wilayah pesisir Kota Tarakan," sambungnya. (zac)
Editor : Azwar Halim