Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Cerita di Balik Makan Bergizi Gratis di Tarakan, Bantu Ekonomi Masyarakat, Siapkan Ikan 300 Kg Setiap Hari

Radar Tarakan • Rabu, 23 April 2025 | 16:29 WIB
Doc  Radar Tarakan PROGRAM PUSAT: Setiap hari disiapkan 3 ribuan paket makanan gizi gratis di Tarakan Utara.
Doc Radar Tarakan PROGRAM PUSAT: Setiap hari disiapkan 3 ribuan paket makanan gizi gratis di Tarakan Utara.


Setiap malam menjelang pukul 22.00 WITA, aroma tumisan mulai menyelimuti dapur umum di kawasan Tarakan Utara. Di dapur itu, belasan pekerja lokal sibuk menyiapkan menu makan pagi untuk ribuan siswa di sekolah esok harinya.

Agus Dian Zakaria, Tarakan

INILAH denyut nadi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) — janji politik Prabowo Subianto yang mulai diwujudkan, meski masih menyisakan banyak cerita dan catatan.

Di tengah berbagai kritik soal pelaksanaan yang dianggap tertutup dan minim koordinasi, program ini tetap berjalan.

Di Tarakan Utara, Jackson Situmorang, Pembina Yayasan Hidup Berbagi Kasih, menjadi salah satu ujung tombak pelaksana yang memastikan dapur MBG tetap mengepul tiap malam.

“Kami memang masih banyak belajar karena ini program perdana. Tapi prinsip kami satu, gunakan bahan lokal, libatkan warga lokal," kata Jackson dengan nada tegas namun bersahaja, saat ditemui Radar Tarakan, Selasa (22/4).

Menu MBG tidak hanya soal nasi dan lauk. Ia adalah rantai panjang yang menghubungkan petani sayur, nelayan ikan, pedagang pasar, hingga koki dan pengantar makanan.

Setiap hari, dapur umum membutuhkan sekitar 200 kilogram sayur, 270–300 kilogram ikan atau daging, dan hingga 500 kilogram beras untuk menyuplai makanan kepada lebih dari 3.244 sampai 3.400 siswa se-Tarakan Utara.


"Setiap hari kan jumlah siswa yang berangkat ke sekolah berbeda ada yang misalnya tidak masuk karena sakit, izin dan sebagainya. Jadi setiap pagi pihak sekolah melaporkan jumlah siswa yang hadir, kami sesuaikan saja," ujarnya.


Sayur-mayur seperti kacang panjang, sawi, dan kecambah dipasok dari petani lokal. Ikan pun dibeli langsung dari nelayan Tarakan. Sekitar 90 persen bahan lokal.


Hanya sedikit yang harus didatangkan dari luar kota, seperti wortel yang memang sulit dibudidayakan di wilayah ini.


“Kita ingin ekonomi masyarakat bergerak, jadi sebanyak mungkin bahan baku kita ambil dari sini. Kalau ada yang tidak bisa dipenuhi baru beli dari luar,” jelasnya.


Di balik sepiring nasi dan lauk yang disajikan kepada siswa, ada perencanaan yang matang.


Menu selalu berganti tiap hari agar anak-anak tidak bosan. Tumis buncis di hari Senin, sayur sop di hari Selasa, dan mungkin sawi di hari Rabu. Begitu seterusnya.


Tak hanya itu, tim juga mendata siswa yang memiliki alergi makanan.

“Kalau ada siswa yang alergi telur, ya kami ganti lauknya. Begitu juga kalau ada yang tidak bisa makan daging sapi, kami siapkan menu alternatif,” ujar Jackson.


Ia menyebut langkah ini penting karena kesehatan siswa adalah prioritas.
Pelaksanaan MBG ini tidak lepas dari peran 47 pekerja lokal yang terbagi dalam tim koki, pengemas, sopir, dan pengantar makanan.


Setiap malam mulai pukul 22.00 WITA, mereka bekerja hingga subuh. Tepat pukul 05.00, makanan sudah harus dikemas dan siap diantar ke sekolah-sekolah.

“Semua pekerja dari warga sekitar. Kita juga seleksi kokinya, nggak bisa asal-asalan. Harus yang bisa masak enak, bersih, dan teratur,” katanya, tersenyum.

Meski program ini masih dalam tahap awal dan belum sempurna, Jackson yakin MBG memberi dampak nyata — tidak hanya untuk gizi siswa, tapi juga bagi roda ekonomi lokal.

“Kami ingin program ini bukan cuma sekadar makan gratis. Tapi jadi gerakan yang hidupkan pasar, bantu petani, dan buka peluang kerja,” pungkasnya.(**/ana)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #Mbg #MBG Tarakan