TARAKAN - Kasus gangguan kecemasan masih banyak dialami kalangan remaja di Kota Tarakan. Di mana para remaja tersebut membutuhkan pendampingan psikolog untuk menyelesaikan permasalahnnya.
Adapun mayoritas gangguan kecemasan tersebut terjadi pada usia remaja hingga dewasa awal, yang masih berada di bangku sekolah. Selain itu, terdapat pula kelompok usia di atas 20 tahun hingga 30-an.
Hal tersebut diungkapkan Psikolog Henni Budiastuti, M.Psi., menjelaskan, banyak remaja Tarakan yang mengalami gangguan kecemasan.
"Biasanya yang datang itu kebanyakan mereka yang mengalami masalah mental, soft diagnosa dari apa yang mereka lihat dari media sosial," ujarnya, Senin (14/4).
Henni menambahkan gaya hidup yang tergantung pada penggunaan handphone dan media sosial (Tik Tok) turut mempengaruhi mental remaja ini.
"Hal ini dikarenakan mereka merujuk pada influencer, jadi apa yang dilakukan influencer itu yang dia tanamkan di otaknya," ungkapnya.
Kecemasan pada kelompok usia yang lebih tua, terjadi karena mengalami quarter life krisis mengalami peningkatan dikarenakan kesepian dan belum memiliki pekerjaan.
"Banyak klien yang datang untuk mempersiapkan mental, ketika di tanya kapan menikah, kapan punya anak, kapan punya pacar," tuturnya.
Dampaknya bagi kesehatan yaitu akan mengalami depresi yang berlebihan dan untuk mencegahnya harus memfilter segala informasi yang diterima.
"Cukup diterima saja informasinya, tapi jangan langsung dimasukan di otak," tuturnya.
Peran dan dukungan secara fisik dan mental dari para orang tua dan orang terdekat juga sangat diperlukan dalam kasus seperti ini.
"Ketika anak mengalami kecemasan, orang tua harus tau kebutuhan si anak," tutupnya. (*nkh/).
Editor : Azwar Halim