TARAKAN - Meski sudah berjalan sekitar 10 tahun, program Sampah Semesta saat ini belum dapat menjawab tantangan lingkungan di Kota Tarakan. Hal itu terlihat dari masih banyaknya sampah di sungai, di pinggir jalan atau laut.
Beberapa penampakan sampah seperti di Gunung Selatan, Jalan Bhayangkara, Pantai Amal dan Binalatung sepertinya menunjukkan dugaan adanya aktivitas buang sampah hasil rumah tangga.
Kondisi ini menjadi persoalan lingkungan yang sudah terjadi bertahun-tahun meski saat ini pemerintah telah menerapkan program Sampah Semesta.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Pengendalian Bahan dan LB3 pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, Edhy Pujianto menerangkan, sejauh ia menilai program Sampah Semesta sudah berjalan cukup baik.
Hanya saja ia mengakui saat ini sebagian masyarakat masih menganggap persoalan lingkungan adalah hal sepele.
Hal itu dapat terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan ia menduga beberapa masyarakat tidak mengikuti program sampah semesta yang berjalan karena berbagai faktor.
"Sejauh ini sebenarnya program sampah semesta sudah berjalan baik, hanya saja memang di beberapa wilayah ini masyarakat ada yang tidak sepakat atau mampu membayar iuran di tiap RT. Karena tiap RT kan mengatur besaran iuran masing-masing. Tapi walau begitu tidak dibenarkan membuang sampah di pinggir jalan," ujarnya, Minggu (19/1).
"Iuran itu berdasarkan rembug warga, sebenarnya iuran itu bisa mentolerir warga yang tidak mampu. Misalnya dia sanggupnya berapa itu seharusnya dimaklumi khusus warga tidak mampu. Memang saat ini belum ada regulasi khusus yang mengatur iuran sampah, jadi setiap RT menetapkan harga sesuai kesepakatan masing-masing," sambungnya. (zac)
Editor : Azwar Halim