TARAKAN - Dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tarakan yang ke-27, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan terus melakukan persiapan matang menjelang hari H pada 5-6 Oktober mendatang.
Pelaksanaan Iraw Tengkayu diharapkan dapat menarik perhatian besar masyarakat sekaligus menjadi agenda yang memperkenalkan budaya Kota Tarakan.
Sekretaris Kota (Sekkot) Tarakan, Jamaluddin mengungkapkan, saat ini persiapan Festival Iraw Tengkayu sudah mencapai 90 persen.
Kesiapan tersebut seperti kesiapan penari, pembuatan Padaw Tuju Dulung (perahu), dan persiapan pawai.
Diungkapkannya, nantinya pelaksanaan Iraw Tengkayu akan dilanjutkan dengan pelaksanaan pawai untuk melengkapi kemeriahan HUT Kota Tarakan.
“Saat ini sudah mencapai sekitar 90 persen. Insyaallah pelaksanaannya hampir sama dengan tahun lalu, ada prosesi penurunan perahu dan pawai.Pawai dilaksanakan di start dari depan stadion Datu Adil. Nanti juga ada undangan tamu dari luar seperti Staff Ahli Kementerian Pariwisata RI, Kepala Daerah se-Kaltara dan pejabat lainnya. Sedangkan dari Tawau Malaysia, dan Kepulauan Sulu Filipina belum ada konfirmasi apakah akan datang atau tidak. biasanya kita undang," ujarnya, (1/10).
"Festival ini berupa upacara ritual menghanyutkan sesaji ke laut dan dirangkai dengan berbagai macam perlombaan. Pembuatan Padaw Tuju Dulung hampir rampung dikerjakan. Begitu juga dengan tari-tarian yang akan dibawakan 176 orang penari di Iraw Tengkayu, pada Minggu 6 Oktober di Pantai Amal," sambungnya.
Diungkapkannya, jika pelaksanaan Iraw Tengkayu sebelumnya dilaksanakan 2 tahun sekali, kini sejak era Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tarakan periode 2019-2024, dr. Khairul, M. Kes-Effendhi Djuprianto pelaksanaan Iraw menjadi setahun sekali.
Menurutnya, tentunya pelaksanaan Iraw yang dilaksanakan setiap tahun menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Kota Tarakan.
Lanjutnya, pelaksanaan Iraw Tengkayu tersebut juga memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM di Kota Tarakan.
"Pelaksanaan Iraw sejak beberapa tahun lalu ada perubahan yang sebelumnya 2 tahun sekali menjadi satu tahun sekali. Ini merupakan hal positif karena memberikan hiburan untuk masyarakat. Ini juga mengerahkan percepatan perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM," katanya.
Budayawan Tarakan, Datuk Norbeck menerangkan, proses pengerjaan Padaw Tuju Dulung sebenarnya telah rampung.
Namun demikian, hal itu tinggal dipasangkan biasa saja. Lanjutnya, ada banyak hiasan yang dipasang pada Padaw Tuju Dulung, namun hal tersebut tidak memerlukan waktu yang lama.
"Sebenarnya sudah selesai, cuma tinggal memasang hiasannya saja. Proses pembuatan dimulai dari meligai, kemudian panji dulung, panji ulin, panji gating, panji kapi serta pari-pari dan sambulayang. Kemudian dihias tabur-tabur berbentuk bintang bersudut delapan yang mempunyai makna kekeramaian dan meriah. Artinya orang datang dari 8 penjuru angin," tukasnya.
"Ini dilengkapi dengan tiga warna mulai dari kuning, hijau dan merah. Dalam tradisi Tidung, kuning adalah warna nomor satu ditinggikan dan dilebihkan, dimuliakan dihormati sebagai symbol kuning. Warna hijau melambangkan keyakinan atau kepercayaan dan merah melambangkan ketegasan dan keberanian. Proses penurunan Padaw Tuju Dulung mengikuti pasang surut air laut dan menjadi pertimbangan," urainya.
Prosesi ini tidak mengikat dengan sebuah keharusan. Sebab Iraw Tengkayu dimaknai secara harfiah sebagai pesta laut.
Asal muasalnya tradisi tersebut mengadopsi budaya suku Tidung penduduk asli Tarakan di zaman dulu. Kemudian di Iraw Tengkayu dilakukan perayaan memperingati HUT pelantikan raja.
"Tema prosesi ini mengenang masa kejayaan Kerajaan Tarakan abad ke-17. Sekitar 1.731 Kerajaan Tarakan itu sudah tidak Berjaya dalam arti di bawah kerajaan lain yakni di bawah Kerajaan Bulungan. Muncullah acara tema mengenang masa kejayaan sebelum 1.731. Rangkaian prosesinya pelarungan Padaw Tuju Dulung, melambangkan keberangkatan Raja,” tambahnya. (zac/lim)
Editor : Azwar Halim