Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Listrik Padam 14 Jam, PLN Tarakan Sebut Insiden Pecahnya Arrester

Radar Tarakan • Senin, 1 Juli 2024 | 09:43 WIB

 

Retno Wulandari Manager PLN ULP Tarakan FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Retno Wulandari Manager PLN ULP Tarakan FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Padamnya listrik di Kota Tarakan sejak Sabtu (29/6) pukul 20.30 Wita hingga Minggu (30/6) pukul 12.30 Wita di Kota Tarakan mengganggu produktivitas warga Tarakan. Sehingga hal ini dinilai menjadi pemadaman listrik terparah sejak 10 tahun terakhir. Manager PLN ULP Tarakan, Retno Wulandari menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Kota Tarakan.

Padamnya listrik terjadi disebabkan oleh pecahnya arrester atau biasa juga lightning arrester di divider 8 yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Tarakan Tengah. Sehingga pecahnya arrester menimbulkan ledakan yang berdampak pada meluasnya gangguan ke jaringan lain hingga se-Tarakan.

Diketahui, arrester adalah suatu alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap surya petir (surge). Alat pelindung terhadap gangguan surya ini berfungsi melindungi peralatan sistem tenaga listrik dengan cara membatasi surge tegangan lebih yang datang dan mengalirkannya ke tanah.

"Sebelumnya kami memohon kepada seluruh masyarakat Kota Tarakan atas ketidaknyamanannya akibat kondisi ini. Perlu diketahui penyebab pemadaman yang terjadi cukup lama tadi malam hingga siang, disebabkan oleh kami menemukan adanya kondisi arrester yang rusak. Kemudian saat menyadari kondisi tersebut, petugas kami langsung ke lapangan untuk melokalisir gangguan jadi supaya sistemnya ini bisa pulih kembali," ujarnya, Minggu (30/6).

"Kemudian pada saat kami melakukan perbaikan, ternyata ditemukan kondisi kabel kopler atau kabel yang menghubungkan pembangkit ke beban juga ada gangguan. Sehingga, yang seharusnya pembangkit ini bisa dioperasikan, jadi tidak bisa dioperasikan. Jadi untuk menghindari kondisi semakin parah, sekitar pukul 23.00 Wita, sebagian sistem di Tarakan sudah menyala secara bertahap sekitar 70 persen," sambungnya.

Dalam proses penanganan pihaknya dihadapkan dengan kehati-hatian guna menghindari dampak susulan. Selain itu, kondisi Tarakan yang diselimuti hujan dan petugas yang belum istirahat membuat pihaknya harus ekstra berhati-hati demi keselamatan bekerja.

Dalam proses perbaikan pihaknya memperbaiki satu persatu gardu. Hal itu dilakukan untuk memastikan kembali titik mana saja yang terdampak cukup parah.

"Kemudian karena proses pengerjaannya cukup kompleks dan terkendala hujan jadi ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi kami, karena hujan ini kan terkait faktor keamanan juga. di samping itu tim hampir tidak ada istirahat, terus bekerja sepanjang malam. Jadi pekerjaan hampir klir baru sekitar pukul 10.00 Wita dari proses pergantian kabel, terminasi sampai konek kembali ke beban normal walaupun listrik menyala pukul 12.30 Wita," ungkapnya.

"Terus kenapa baru menyala sekitar pukul 12.00 Wita, karena meski pekerjaan sudah selesai di jam 6 pagi tapi pembangkit kami belum bisa langsung difungsikan dengan menambah beban lagi dikhawatirkan terjadi overload lagi di sistem pembangkit yang bisa menyebabkan jeglek. Sehingga butuh proses beberapa jam untuk kembali bisa menambah bebannya secara perlahan," lanjutnya.

"Kami menangganinya step by step sangat smooth dan hati-hati oleh sebab itu pergardu kami lepas satu persatu. Kemudian kami masukkan beban-beban kecil sehingga ketika ada kejutan beban besar dikhawatirkan menghantam ke sisi pembangkit lagi. Sehingga mungkin penormalannya bisa lebih lama," urainya.

Selain itu, ia menegaskan selain pecahnya arrester hal itu berdampak pada terbakarnya saluran udara tegangan menengah (SUTM). Sehingga kondisi tersebut membuat pihak harus melakukan pergantian kabel baru agar untuk mengantisipasi gangguan susulan.

"Memang kabelnya itu juga harus diganti karena kondisinya terbakar sehingga memang harus diganti baru namanya SUTM itu juga yang terbakar. Untuk penyebabnya hingga saat ini kami masih menunggu proses investigasi penyebabnya terbakarnya kabel," ungkapnya.

"Sepertinya ini yang pertama kalinya dan memang butuh effort juga dari semua pihak. Untuk maintenance pasti ada cuma untuk lebih detailnya secara teknis sebenarnya ke teman-teman yang bertugas di pembangkit. Tapi sepertinya persoalan ini tidak termaping oleh teman-teman di pembangkit karena sekarang pun hasil investigasinya belum keluar. Target dalam beberapa hari ke depan," jelasnya. (zac/lim)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #pln #listrik padam