Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Anak - Anak yang Berjualan Hingga Larut Malam Diduga Dipaksa Orang Tua

Azwar Halim • Jumat, 12 Januari 2024 | 10:29 WIB
MENINJAU: Dinsos Tarakan menemui anak berjualan di jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Yos Sudarso, Tarakan. FOTO: DOK DINSOS TARAKAN
MENINJAU: Dinsos Tarakan menemui anak berjualan di jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Yos Sudarso, Tarakan. FOTO: DOK DINSOS TARAKAN
TARAKAN - Sebagai upaya tindak lanjut penanganan anak mengasong di Tarakan, Dinas Sosial (Dinsos) bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan peninjauan lapangan di beberapa titik yang disinyalir menjadi lokasi anak mengasong berkumpul. Dalam penyisiran tersebut petugas sempat tidak menemukan anak-anak tersebut lantaran diduga aksi tersebut telah bocor.

Sehingga beberapa lokasi seperti di Kelurahan Karang Balik dan Karang Anyar tidak ditemukan adanya anak-anak berjualan. Kendati demikian, saat menyambangi jembatan penyeberangan orang (JPO) di sekitar wilayah Simpang 4 Jalan Yos Sudarso. petugas mendapati beberapa anak berjualan sedang berkumpul sambil beristirahat.

Penyuluh sosial ahli muda Seksi Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan, Akhmad Sujai mengungkapkan setelah menemukan beberapa anak, pihaknya mewawancarai dan meminta sang anak pulang dan tidak berjualan kembali. Dikatakan, anak-anak berjualan dinilai berbahaya bagi diri sendiri dan mengganggu keselamatan pengendara.

“Setelah berkeliling, kami tidak menemukan anak-anak yang biasanya terlihat. Setelah itu, ada laporan staf kami bahwa anak tersebut berada di JPO GTM. Setelah itu kami langsung ke TKP menemui anak-anak tersebut. Aktivitas ini melanggar Undang-Undang tentang Perlindungan Anak karena pada dasarnya orang tua tidak diperkenankan mengeksploitasi anaknya,” ujarnya, Kamis (11/1).

“Mereka mengakunya disuruh sama orang tuanya. Sebelumnya keterangan orangtuanya kepada Satpol PP saat ditertibkan anaknya sendiri yang mau jualan, tapi ini anaknya bilang dia disuruh orangtuanya tepatnya dia dipaksa orangtuanya. Yang di JPO ini ada sejumlah anak mereka ada yang tinggal di Selumit Pantai ada yang mengaku di Juata,” sambungnya.

Beberapa kasus orang tua memaksa anaknya yang hasilnya disalahgunakan. Lanjutnya, salah satunya adanya 1 keluarga domisili Nunukan yang hidup menggelandang di Kota Tarakan bersama 4 orang anaknya. Satu keluarga ini kerap berpencar berjualan dan kerap berpindah lokasi. Namun ia menegaskan telah membawa 1 keluarga tersebut ke selter Dinsos Tarakan.

“Di sini ada ibu ibu terlantar atas nama Susilawati. Kasusnya ini dia punya empat anak dan salah satu berstatus disabilitas tunarungu. Anak-anaknya ini di bawah berpindah-pindah. Dia melibatkan anak anaknya untuk berjualan dan meminta-minta. Kalau suaminya dipenjara karena tertangkap kasus narkoba,” tuturnya.

“Saat ini mereka sudah di selter kami. Kami sempat berencana bekerjasama dengan Baznas untuk memberi bantuan berupa rumah sewa. Mereka tolak dan minta dipulangkan. Akhirnya kami setujui tapi kami membuat surat pernyataan kepada orang tua untuk menyuruh anaknya jualan. Dia memanfaatkan anaknya supaya banyak orang yang kasihan,” lanjutnya.

Dari pantauan Dinsos, pihakmya mengidentifikasi anak-anak ini biasanya menjual kacang, kerupuk, dan makanan ringan lainnya. Dikatakan, kegiatan jualan tersebut sebenarnya modus baru memanfaatkan anak untuk mengemis.

Lanjutnya, saat ini pihaknya mengumpulkan orangtua anak berjualan untuk mensosialisasikan Undang-Undang Perlindungan Anak yang di dalamnya memuat larangan untuk memperkerjakan anak di bawah umur dan sanksi pidana.

“Banyak yang tidak sekolah. Tapi ada juga yang masih sekolah. Mereka ini jualannya dari pagi sampai malam. Mereka sebenarnya tidak orang memberi uang tidak mengambil barang, supaya mereka tetap bisa menjualnya terus.

Sebenarnya mereka mengemis cuma dengan modus berjualan. Kenapa kami menilai demikian, karena memang mereka tidak melihat apa yang dijual dan dibutuhkan orang, tapi lebih menjual rasa kasihan,” jelasnya. (zac/lim) Editor : Azwar Halim
#Anak Berjualan #tarakan