Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Cacingan Hambat Tumbuh Kembang Anak

Azwar Halim • Jumat, 28 Juli 2023 | 12:00 WIB
//KOPNYA///Pro Kaltara/// bawa Berau  AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN  Foto   Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Kaltara, dokter Franky Sientoro, Sp.A
//KOPNYA///Pro Kaltara/// bawa Berau AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN Foto Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Kaltara, dokter Franky Sientoro, Sp.A
TARAKAN - Sebagai upaya dalam menciptakan generasi emas di tahun 2045 pemerintah cukup serius dalam persoalan menanggapi stunting yang dapat menghambat perkembangan generasi usia dini. Sehingga hal tersebut membuat pemerintah terus berupaya serius dalam menjalankan berbagai program penanganan stunting.

Melihat kondisi tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cukup mengapresiasi upaya  tersebut. Kendati demikian IDAI mengingat jika hal tersebut tidak menyampingkan kasus-

kasus pada anak yang berhubungan dengan stunting. Salah satunya ialah kasus cacingan. Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kaltara, dokter Franky Sientoro, Sp.A  menerangkan kasus cacingan cukup rawan menyerang anak-anak.

"80 persen anak-anak berpotensi terinfeksi cacing. Kenapa kita fokus pada pencegahan cacing pada anak karena cacing mengganggu tumbuh kembang anak secara langsung. Cacing ini berkembang lewat saluran cerna, jadi seseorang yang cacingan mengeluarkan

kotoran kemudian dalam kotoran itu terdapat telur cacing. Namun secara tidak sengaja telurnya masuk ke tubuh kita, entah lewat jari tangan, makanan, atau kuku kaki dan siklusnya seperti itu,"ujarnya, (26/7/2023).

"Cacing itu bertahan hidup dia memakan makanan yang kita makan. Di usus halus kemudian di usus besar. Kalau di usus besar tidak masalah karena itu untuk dibagi, tapi kalau untuk usus halus itu kan untuk diri kita. Tapi dimakan lagi sama cacing,"sambungnya.

Dikatakannya, ciri anak yang terinfeksi cacing ialah mudah merasa lelah dan letih. Padahal, masa kanak-kanak merupakan masa di mana manusia memiliki antusias yang tinggi saat sedang aktif.

"Kalau pada orang terinfeksi letih, lesu dan paling utama kurang darah. Karena, cacing ini mengurangi protein sementara protein dibutuhkan untuk pembentukan zat eritrosit (Sel

darah merah) dan zat besi. Disamping itu juga, Kadang-kadang cacing ini membuat pendarahan di saluran pencernaan yang halus banget,"tuturnya.

"Sehingga secara tidak langsung pembuatan eritrosit ini tidak maksimal lalu terjadi pengeluaran sel darah juga. Pengeluarannya banyak, pembuatannya sedikit sehingga

membuat yang terinfeksi lemas, tidak bertenaga. Sehingga terjadi anemia (kekurang darah),"lanjutnya.

Dikatakannya, saat ini pihaknya cukup minum menerima laporan kasus cacingan. Dikatakannya hal itu tidak terlepas dari upaya serius pemerintah menuntaskan kasus

cacingan beberapa tahun lalu. Kendati begitu, minimnya kasus menurutnya bukan jaminan kasus tersebut sepenuhnya hilang. Sehingga kata dia, saat ini cukup penting menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi dan mengawasi rutinitas anak saat bermain.

"Kalau sekarang agak jarang, kalau dulu kita banyak menemukan kasus cacingan berbentuk bola. Cacing gelang bertumpuk menyerupai bola tenis kemudian menyumbat.

Karena penderita memimum obat cacing akhirnya cacingnya mabuk kemudian mereka bertumpuk membentuk bulatan. Akhirnya bulatan ini menyumbat, kalau sudah parah di operasi,"ujarnya.

"Kalau dulu kita sering dapat kasus ini, sekarang sudah jarang bahkan hampir tidak ada laporan. Karena ada program dari pemerintah yaitu pemberian obat cacing kepada anak-

anak dan ada penambahan zat besi pada ibu-ibu yang hamil. Jadi program itu sangat membantu,"pungkasnya. (zac/har) Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara