Melihat kondisi tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cukup mengapresiasi upaya tersebut. Kendati demikian IDAI mengingat jika hal tersebut tidak menyampingkan kasus-
kasus pada anak yang berhubungan dengan stunting. Salah satunya ialah kasus cacingan. Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kaltara, dokter Franky Sientoro, Sp.A menerangkan kasus cacingan cukup rawan menyerang anak-anak.
"80 persen anak-anak berpotensi terinfeksi cacing. Kenapa kita fokus pada pencegahan cacing pada anak karena cacing mengganggu tumbuh kembang anak secara langsung. Cacing ini berkembang lewat saluran cerna, jadi seseorang yang cacingan mengeluarkan
kotoran kemudian dalam kotoran itu terdapat telur cacing. Namun secara tidak sengaja telurnya masuk ke tubuh kita, entah lewat jari tangan, makanan, atau kuku kaki dan siklusnya seperti itu,"ujarnya, (26/7/2023).
"Cacing itu bertahan hidup dia memakan makanan yang kita makan. Di usus halus kemudian di usus besar. Kalau di usus besar tidak masalah karena itu untuk dibagi, tapi kalau untuk usus halus itu kan untuk diri kita. Tapi dimakan lagi sama cacing,"sambungnya.
Dikatakannya, ciri anak yang terinfeksi cacing ialah mudah merasa lelah dan letih. Padahal, masa kanak-kanak merupakan masa di mana manusia memiliki antusias yang tinggi saat sedang aktif.
"Kalau pada orang terinfeksi letih, lesu dan paling utama kurang darah. Karena, cacing ini mengurangi protein sementara protein dibutuhkan untuk pembentukan zat eritrosit (Sel
darah merah) dan zat besi. Disamping itu juga, Kadang-kadang cacing ini membuat pendarahan di saluran pencernaan yang halus banget,"tuturnya.
"Sehingga secara tidak langsung pembuatan eritrosit ini tidak maksimal lalu terjadi pengeluaran sel darah juga. Pengeluarannya banyak, pembuatannya sedikit sehingga
membuat yang terinfeksi lemas, tidak bertenaga. Sehingga terjadi anemia (kekurang darah),"lanjutnya.
Dikatakannya, saat ini pihaknya cukup minum menerima laporan kasus cacingan. Dikatakannya hal itu tidak terlepas dari upaya serius pemerintah menuntaskan kasus
cacingan beberapa tahun lalu. Kendati begitu, minimnya kasus menurutnya bukan jaminan kasus tersebut sepenuhnya hilang. Sehingga kata dia, saat ini cukup penting menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi dan mengawasi rutinitas anak saat bermain.
"Kalau sekarang agak jarang, kalau dulu kita banyak menemukan kasus cacingan berbentuk bola. Cacing gelang bertumpuk menyerupai bola tenis kemudian menyumbat.
Karena penderita memimum obat cacing akhirnya cacingnya mabuk kemudian mereka bertumpuk membentuk bulatan. Akhirnya bulatan ini menyumbat, kalau sudah parah di operasi,"ujarnya.
"Kalau dulu kita sering dapat kasus ini, sekarang sudah jarang bahkan hampir tidak ada laporan. Karena ada program dari pemerintah yaitu pemberian obat cacing kepada anak-
anak dan ada penambahan zat besi pada ibu-ibu yang hamil. Jadi program itu sangat membantu,"pungkasnya. (zac/har) Editor : Azwar Halim