Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jumlah Kendaraan di Tarakan Meningkat, Dua Jalan ini Rawan Macet

Azwar Halim • Sabtu, 10 Juni 2023 | 12:39 WIB
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN  MACET: Salah satu titik jalan yang mengalami kemacetan di jam tertentu akibat meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahun.
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN MACET: Salah satu titik jalan yang mengalami kemacetan di jam tertentu akibat meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahun.
TARAKAN - Semakin bertambahnya penduduk di Kota Tarakan, membuat kemacetan tampak mulai terlihat di beberapa titik wilayah setiap harinya.

Seperti yang kerap terjadi di Jalan Slamet Riyadi dan Martadinata. Sehingga hal tersebut menghambat aktivitas sebagian besar masyarakat. Jika hal tersebut luput dari perhatian, maka kondisi tersebut semakin parah di masa yang akan datang.

Saat dikonfirmasi, Kasi Lalu Lintas Dinas Pehubungan (Dishub) Tarakan, Moh Anang Zakaria menerangkan, jumlah kendaraan roda empat di tahun 2022 tercatat sebanyak 6.354 yang terdiri dari berbagai jenis kendaraan. Sementara itu diperkirakan kendaraan roda dua memiliki jumlah lebih besar dari roda empat.

"Dari data tahun 2022 ada 6.354 kendaraan ini terdiri dari truk, tronton, pikap, mobil box, dan seterusnya. Jumlahnya 6 ribuan itu. Kalau mobil barangnya tidak signifikan, yang signifikan ini kan roda dua sebenarnya. Jadi kalau kaitannya dengan lalu lintas, sebenarnya untuk pribadi yang bisa dikatakan membawa dampak di ruang lalu lintas," ujarnya, Jumat (9/6).

Jumlah sesungguhnya tentunya jauh lebih banyak dari yang terdaftar mengingat saat ini cukup banyak kendaraan yang menggunakan plat atau nomor polisi luar Kaltara. Sehingga dengan status penggunaan plat luar membuat kendaraan tidak dapat terdeteksi.

"Tapi itu pun sebenarnya juga jika dia bandingkan antara kapasitas jalan yang ada dengan jumlah kendaraan untuk saat ini dari data yang ada belum masuk tahapan yang mengkhawatirkan. Cuma dalam tahapan tertentu memang ada orang meliput macet wajarlah di jam sibuk seperti di jalan Slamet Riyadi dan Jalan Ki Hajar Dewantara yang sifatnya isendentil. Cuma beberapa hal penyebab macet tidak hanya kendaraan," bebernya.

Terjadinya kemacetan di beberapa wilayah tidak terlepas dari penyalahgunaan fasilitas jalan seperti memarkir kendaraan di sembarang tempat atau pun adanya aktivitas berjualan yang memakan badan jalan. Dalam hal penindakan sebenarnya masuk pada ranah kepolisian atau pun Satpol PP. Hanya saja ia mengakui diperlukan ketegasan dalam menyikapinya.

"Tapi juga faktor aktivitas yang menyalahgunakan fasilitas ruang jalan untuk kegiatan perdagangan. Sebenarnya pengawasannya bukan hanya melibatkan Dishub tapi juga instansi lain Dinas Perdagangan dan Satpol PP. Saya kira juga masyarakat perlu edukasi dan solusinya bagaimana. Kalau tidak perhatian dari OPD maka kondisi ini akan semakin parah karena jumlah intensitasnya setiap tahun pasti meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk," ungkapnya.

"Seperti pedagang, toko bangunan, toko elektronik, supermarket, rumah makan itu kan masih banyak pakai badan jalan. Sehingga fenomena ini yang menyebabkan kemacetan di titik tertentu," lanjutnya.

Masyarakat biasanya memiliki kebiasaan yakni mengikuti sesuatu yang salah jika dianggap tidak melanggar dalam mencari keuntungan. Sehingga hal itulah membuat menjamurnya pedagang dan pelaku parkir liar lantaran kurangnya penindakan tegas yang dilakukan.

"Biasanya kalau dibiarkan maka yang lain akan mengikuti. Orang menilai kalau tidak dilarang berarti dianggap benar. Tipikal jalan di Tarakan ini masih kategori C untuk kelas nasional, ruas jalan berapa yang lewat itu masih memadai. Selain itu pengalihan arus juga memengaruhi kemacetan. Misalnya jalan ke penyeberangan di depan Makmur ditutup, otomatis  kendaraan akan beralih ke Slamet Riyadi mencari jalur alternatif. Akhirnya lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi semakin padat," terangnya.

"Solusinya mungkin bisa kembali dibukanya kembali penyeberangan di depan Makmur dengan memasang trafict light atau pemberlakuan satu jalur. Tapi tentunya ini memerlukan kajian dan simulasi," ungkapnya. (zac/eza) Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #macet