KEBUDAYAAN etnis Tionghoa identik dengan simbol beserta maknanya. Selain menyukai warna merah, di kalender Cina pun identik dengan hewan. Konon masyarakat Tionghoa mempercayai hewan merupakan makhluk pertama yang menginjakkan kaki di bumi ini.
Pengusaha kue Moniq Tarakan, Monica Tjangtojo menjelaskan ada tiga hewan atau simbol yang wajib untuk sembahyang bagi arwah leluhur warga Tionghoa ini. Mewakili udara, darat dan laut. Biasanya hewan persembahan atau untuk sembahyang ini dimasak tim atau dikukus dengan sedikit garam.
“Misalnya udara, berarti yang terbang atau unggas, seperti ayam. Kemudian darat, ada hewan berkaki empat seperti babi dan dari laut ada ikan. Kalau di rumah, biasanya ayam dimasak utuh sama kepalanya, babi dan ikan bandeng,” terang wanita berusia 33 tahun ini ditemui di rumahnya April lalu.
Lantas bagaimana dengan kepiting? Biasanya dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa sesuai dengan masing-masing tradisi. Tionghoa pun beragam suku. Seperti Tiociu, Konghucu, Hokchia, Kantonis dan Hakka.
Sepengetahuannya, kepiting dari kaca mata suku Kantonis ini tidak mewajibkan ada menu kepiting di dalam tradisinya. “Saya enggakpernah dengar sih. Setahu saya, kalau dari suku Kantonis, kebanyakan yang wajib itu ayam kukus, babi dan ikan bandeng, tapi tidak boleh disisik. Tapi teman-teman yang suku lain juga kayaknya sama,” lanjutnya.
Namun ibu dari dua anak ini mengaku warga Tionghoa sangat menyukai konsumsi menu kepiting. Tetapi tidak pula dikaitkan dengan simbol atau makna dari kepiting itu sendiri.
Konon warga Tionghoa mempercayai, wanita hamil tidak diperbolehkan mengonsumsi kepiting. Ketika dilanggar, anak yang lahir pun akan bergerak aktif seperti kepiting. “Pamali, karena nanti anaknya tidak bisa diam. Karena kepiting kan gerak terus. Waktu itu (saat hamil), saya langgar batas. Makanya anakku juga orangnya aktif, lari sana-sini (terlalu aktif). Tapi mitos aja sih, tidak ada alasan jelas,” bebernya.
Kendati demikian, patung kepiting terbesar ada di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur. Sebuah kepiting raksasa di bagian atap pintu masuk atau gerbang. Konon patung kepiting raksasa ini salah satu keunikan dari klenteng tersebut.
Berbeda dengan kelenteng pada umumnya, yang biasanya memasang ornamen naga. Seperti di Kelenteng Kong Hu Cu Toa Pek Kong, di Markoni, Tarakan, Kalimantan Utara. “Patung kepiting raksasa ada di kelenteng, di Tuban. Itu patung kepiting terbesar setahuku. Kalau di sini (Tarakan) enggakada patung kepitingnya. Kita juga enggakmewajibkan harus makan kepiting. Perayaan juga jarang sajikan menu kepiting,” jelasnya.
Menurut di keluarganya atau tradisi suku Kantonis, kepiting biasanya dimasak berkuah. Seperti sup asparagus dan sup kepiting jagung. Capit atau sepitnya pula digoreng crispy. Sedangkan kepiting dimasak saus, seperti saus lada hitam, saus asam manis, saus tiram dan saus pedas manis, pun jarang disajikan.
“Itu juga bukan menu wajib. Kepiting dimasak saus juga jarang dihidangkan. Palingan hari biasa aja. Karena saat kami makan kan tangan dipenuhi saus, jadi kotor. Kepiting jalannya miring, tapi maknanya tidak pernah dengar juga,” tutupnya. (*/one/lim)
Editor : Azwar Halim