Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jadikan Politik Sebagai Jawaban Misi untuk Indonesia

Azwar Halim • Selasa, 19 Februari 2019 | 10:59 WIB
jadikan-politik-sebagai-jawaban-misi-untuk-indonesia
jadikan-politik-sebagai-jawaban-misi-untuk-indonesia

Berkaca dari kisah hidup Amirah Kaca, selama menempuh pendidikan di luar negeri, semakin membuat Amirah bertekad untuk mengubah Negara Indonesia menjadi maju dan berkembang. Agar tak kalah saing dengan negara maju yang ada dibelahan dunia. Demikian kisahnya.


Sejak kecil, Amirah merupakan seorang anak kutu buku. Saking hobinya, Amirah bahkan sering berkunjung ke perpustakaan hanya untuk membaca buku. Namun tak hanya membaca buku, Amirah pun aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya. Hingga suatu hari, sejak Amirah duduk di bangku SMA di Australia, Amirah sempat menjadi representatif kelas dan ikut berbagai kegiatan klub serta mengikuti berbagai lomba, seperti pidato, debat dan sebagainya.


“Pokoknya pas SMA saya senang banget dengan perpustakaan, tapi di sisi lain saya senang sekali mencoba berbagai kegiatan baru,” tuturnya.


Nah, ketika duduk di kelas 3 SMA, Amirah memutuskan untuk kembali menuntut ilmu di Indonesia dan bersekolah di SMA Negeri 1 Bandung kemudian mempersiapkan diri untuk menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).


Berkah keaktifan Amirah ketika berada di bangku SMA, ternyata tak membuat semangat berorganisasi Amirah menjadi pudar ketika menempuh pendidikan di ITB. Seperti mengikuti kegiatan kabinet keluarga mahasiswa atau yang biasa dikenal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dengan jabatan terakhir sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB.


Dari sisi akademis, Amirah sempat menjadi asisten lab sistem finansial di ITB, akhirnya setelah 4 tahun aktif berorganisasi di kabinet keluarga mahasiswa, Amirah berhasil lulus menempuh pendidikan di ITB. Bahkan ia langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan internasional yang bergerak di bidang teknologi yang disebut International Business Machines (IBM).


“IBM itu salah satu perusahaan informasi yang tertua di dunia, karena IBM merupakan perusahaan pertama yang menciptakan komputer untuk digunakan di level organisasi atau perusahaan,” bebernya.


Awal karir Amirah terbentuk semasa mengais rejeki di IBM selama 4 tahun. Selama bekerja, Amirah diposisikan sebagai karyawan yang harus berinteraksi dengan para klien guna memberikan solusi agar teknologi informasi dapat membenahi sebuah organisasi yang dimiliki para klien.


“Misalnya bank mau menambah nasabah atau menciptakan pelayanan online banking yang lebih mudah digunakan nasabah, lewat itu saya membantu memformulasikan infrastruktur apa yang dibutuhkan klien saya agar bisa melayani nasabahnya dengan baik,” jelasnya.


“Kalau nasabahnya banyak, tapi teknologi informasinya tidak dikembangkan dan tidak sesuai, maka saya akan memberikan konsultasi dan solusi ke perusahaan-perusahaan,” sambungnya.


Semasa berkarir di IBM, Amirah tak hanya memiliki klien yang berasal dari perusahaan swasta saja, namun juga perusahaan besar yang ada di Indonesia pun pernah menjadi klien Amirah seperti Bank BTN, Bank CIMB NIAGA, Taksi Blue Bird, Jasamedika dan sebagainya.


Tak hanya perusahaan swasta, namun klien Amirah pun ada yang berasal dari pemerintahan. Melalui hal tersebut, Amirah memperhatikan bahwa ternyata institusi pemerintahan lah yang justru membutuhkan lebih banyak bantuan, yang bahkan sampai saat ini setiap pemerintah daerah masih banyak yang melakukan proses secara manual hingga membuat proses pelayanan di masyarakat menjadi lamban.


“Misalnya masyarakat mau membuat izin atau surat, itu dibutuhkan birokrasi yang panjang. Sedang kalau di perusahaan swasta dengan teknologi informasi, semuanya akan cepat. Pasti lebih banyak yang memilih untuk bertemu teller bank, dibanding petugas kecamatan atau Dukcapil. Inilah yang membuat saya tergerak, kenapa sektor publik atau pemerintahan itu tidak bisa memberikan pelayanan sebaik sektor swasta?,” katanya.


Melalui hal tersebut, Amirah pun semakin tertarik akan misi memperbaiki sistem kinerja dan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Sehingga Amirah pun memutuskan untuk tak lagi bekerja di IBM, namun mencari kesempatan untuk bekerja pada program maupun proyek yang dapat membantu pemerintah dalam proses perbaikan sistem pelayanan di masyarakat.


Berdasarkan misinya itu, Amirah memutuskan untuk bergabung dalam Bandung Trust Advisory Group, yakni sebuah lembaga non profit yang membantu pemerintah daerah guna perbaikan sistem pelayanan. Seperti pengimplementasian procurement berbasis elektonik.


“Jadi misalnya perusahaan yang mau ikut lelang merasa bingung dan berbelit-belit, itu jadinya lebih mudah. Atau cara mengimplementasikan sistem pengaduan, sehingga dapat menerima keluhan masyarakat secara langsung,” ucapnya.


Usai bekerja di bidang reformasi dan birokrasi selama satu tahun, Amirah berhasil mendapatkan program beasiswa Presiden Republik Indonesia tingkat Strata 2 di Inggris. Perolehan beasiswa tersebut pun diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia yang ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono.


“Waktu itu, saya memang memilih untuk lanjut pendidikan S2, guna mewujudkan impian saya yakni melakukan perbaikan disektor publik, dan saya mengambil jurusan Master Of Publik Administration (MPA), yang belajar tentang administrasi dan kebijakan publik di London,” akunya.


London School of Economics and Political Sciense (LSE) merupakan salah satu universitas terbaik di dunia bidang ekonomi dan ilmu sosial. Perasaan haru dan bahagia menyelimuti diri Amirah ketika berhasil dinyatakan lulus untuk menempuh pendidikan di London School of Economics and Political Science (LSE), dikarenakan dapat berbagi pikiran dengan berbagai macam mahasiswa seluruh dunia yang telah memiliki latar belakang pembangunan dan managemen publik dan bekerja dibidang pemerintahan.


Melalui pendidikan S2-nya, membuat Amirah mengetahui banyak tentang hal apa saja yang terjadi di belahan negara, seperti Chili, Amerika Selatan, Peru, Amerika Serikat, Afrika, Timur Tengah, Mesir, Italia dan sebagainya, hingga membuat Amirah menjadi terinspirasi untuk menciptakan inovasi di Indonesia.


“Banyak sekali contoh yang bisa ditiru dari negara lain yang dapat diimplementasikan di Indonesia, misalkan sistem CPNS di Inggris ternyata sangat professional. Jadi, mengapa kinerjanya tinggi itu karena mereka dituntut untuk bekerja layaknya di perusahaan. Berbeda dengan sistem CPNS di Indonesia yang terbilang masih sangat generalis,” ungkapnya.


Pada negara maju, Amirah menyatakan lebih pro aktif terhadap teknologi seperti regulasi mobil terbang yang berada di Jepang, meski mobil terbang tersebut belum ada, sedang di Indonesia masih memberikan respon lambat terhadap kemunculan teknologi. Misalkan seperti kasus ojek online yang baru direspons pemerintah ketika telah berjalan di masyarakat.


“Saya melihat di negara lain membuat kebijakan itu dengan melihat berpuluh-puluh tahun ke depan, kalau di Indonesia masih seperti memadamkan api terus menerus,” tuturnya.


Sejak berada di London, Amirah juga diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan Bank Of England yang merupakan bank sentral milik Inggris. Dalam perusahaan tersebut, Amirah diberikan tugas untuk memberikan laporan terkait perkembangan perusahaan teknologi Inggris yang bergerak di bidang finansial.


Usai menempuh pendidikan di London School of Economics and Political Science (LSE), Amirah menuai banyak masukan agar tetap bekerja di Bank Of England, sebab dengan adanya ijazah S2 luar negeri akan memudahkan Amirah untuk mendapatkan pekerjaan di berbagai perusahaan internasional dunia. Namun karena perolehan beasiswa S2 tersebut diperoleh dari Indonesia, maka Amirah memilih untuk mengabdikan dirinya di Indonesia dengan menerapkan ilmu pendidikan yang telah ia dapatkan selama berada di luar negeri.


“Jadi saat kembali, saya kembali kerja di Bank Dunia cabang Indonesia, dengan tugas menangani program Bank Dunia cabang Indonesia yang berada di Jakarta bersama pemerintah pusat seperti Bappenas, Kemendagri. Konsultasi yang saya berikan itu adalah bagaimana pemerintah bisa menggunakan teknologi untuk memperbaiki pelayanan dan sistem agar memiliki kinerja yang baik, sehingga pelayanan ke masyarakat juga baik,” jelasnya.


Usai bekerja di Bank Dunia, Amirah pun mendapatkan pelajaran yang berarti, yakni bagaimana menyalurkan usulan atau ide kepada pemerintah untuk melakukan perbaikan. Namun hal itu tidak akan terjadi jika hanya menjadi ide, untuk itu Amirah memutuskan untuk membawa misinya dan menerjunkan dirinya ke dalam dunia politik.


“Karena hanya di politik dimana pengambilan keputusan itu ada, karena orang-orang di politik itu yang menentukan prioritas untuk berani melakukan perubahan atau tetap berjalan ditempat,” pungkasnya. (*/shy/fly)

Editor : Azwar Halim