TARAKAN - Karena terjadinya hujan lebat yang mengguyur Kota Tarakan beberapa hari lalu, membuat beberapa alat berat terendam air. Akibatnya terendamnya alat berat tersebut proses penggalian embung Rawasari harus terhenti beberapa hari ke depan.
Saat dikonfirmasi usai melakukan kunjungan, Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Said Usaman Assegaf menerangkan, seharusnya pihaknya sudah dapat menggunakan Embung Rawasari pada akhir bulan ini. Namun, karena kejadian tersebut pihaknya mau tidak mau harus kembali bersabar.
"Intakenya sudah, pompa-pompa sudah tinggal embungnya lagi itu belum selesai. Kalau embungnya sudah jadi terus airnya sudah ada baru salurkan kalau segala mesin dan pipanya sudah standby semua," ujarnya kemarin, (1/5).
Meski demikian, ia optimis pihaknya sudah bisa mengaktifkan embung Rawasari pada akhir februari. "Karena ada kejadian kemarin mau tidak mau molor satu bulan ke depan. Seharusnya kalau tidak ada kendala itu sudah kita bisa gunakan akhir januari. karena targetnya akhir Januari sudah operasi semua. Tapi kami optimislah sudah bisa mengoperasikannya akhir Februari. Karena tadi kami juga melakukan kunjungan bersama DPUTR mereka juga menargetkan bulan depan," tuturnya.
Sementara itu, mengenai progres pengerjaan embung tersebut ia menerangkan, jika saat ini pengerjaan Embung Rawasari sudah berada di tahap 90 persen ke atas.
"Mungkin lebih baiknya soalnya pengerjaan ada baik dikonfirmasi ke DPUTR karena mereka yang mengawas pekerjaannya kami hanya terima jadi saja," jelasnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) kota Tarakan Muhammad Haidir membenarkan hal tersebut. Ia menerangkan pengerjaan tersebut telah mencapai tahap akhir. Ia menerangkan, sebenarnya target penyelesaian pengerjaan berakhir pada akhir Januari 2019, namun karena adanya kendala alam, sehingga rampungnya pekerjaan harus tertunda satu bulan.
"Kemungkinan pengerjaan itu sudah rampung akhir Februari. Sebenarnya kemarin itu akhir Januari cuma karena 4 alat kita terendam akhirnya nanti kita melakukan perbaikan dulu dan mau tidak mau penyelesaian tertunda," terangnya.
Dikatakannya, hingga saat ini pihaknya sedang melakukan proses pembuanga air pada embung dengan cara menyedot air melalui pompa. Meski demikian ia belum mengetahui secara pasti total kerugian. Karena tengelamnya alat berat tersebut alhasil pihaknya untuk sementara belum dapat melanjutkan pekerjaan. "Iya masih kita sedot air. Ada beberapa pompa kita pakai. Mungkin dalam satu dua hari ini airnya sudah habis. Mau tidak mau kita perbaiki lagi alat beratnya. Untuk kerugian kami kurang tahu pastinya yang jelas rusaknya 4 alat berat ini pasti memakan biaya ratusan juta," ujarnya.
Meski demikian, dengan sisa waktu pengerjaan yang masih ada ia berharap semoga pengerjaan berjalan lancar. Selain itu ia berharap tidak terjadi kendala alam yang berpotensi membuat perampungan embung tertunda. (*/zac/udn)
Editor : Azwar Halim