Pernah merasa berada di titik terendah. Lalu memulai semuanya benar-benar dari titik nol. Itulah sekelumit kisah proses perjalanan panjang Andi Hajrayanti, salah seorang ibu rumah tangga yang sukses sebagai pebisnis kosmetik online dan kini menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah.
Andi Pausiah
Bisnis online itu sulit! Selain pakai ongkos kirim, barang yang diinginkan belum tentu sesuai ekspektasi. Untungnya juga tak banyak. Kira-kira demikianlah respons orang-orang yang pernah ditawarkan Andi Hajrayanti, saat memulai bisnisnya di zaman susah saat masih kuliah. Berlatar kebutuhan hidup mendesak dan tak ingin membebankan orang tua untuk pembayaran kuliah, keputusan untuk memulai bisnis online pun dilakoni Aje, sapaan akrab perempuan berhijab alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini.
“Mulainya karena kepepet uang jajan dan kebutuhan kuliah. Saya gak mau membebankan orang tua,” urai Aje, memulai kisahnya saat diwawancarai Radar Tarakan, Selasa (9/10).
Biaya kuliah saat itu cukup mahal. Terlebih, Aje tak tinggal dengan orang tua. Aje kuliah di Kota Makassar, orang tua berada di Tarakan, merantau. Jika tidak pandai mengatur Rp 1 juta jatah bulanan yang diberikan orang tua, dirinya pasti sulit hidup beradaptasi dengan lingkungan di Kota Makassar. “ Kadang belum habis bulan, saldo sisa Rp 75 ribu. Dari sana saya berpikir, saya harus hasilkan omzet sendiri,” lanjut Aje.
Memulai bisnis ternyata tak semudah ekspektasi Aje. Orang-orang hanya melihatnya sebagai Aje yang sukses finansial saat ini. Bukan di masa-masa sulit memulai usaha dari titik nol. Banyak rintangan yang harus dilalui. Niatnya hanya ingin membantu perekonomian orang tua. Dari cibiran hingga orang-orang nyinyir meremehkan keuntungan dari bisnis online pun sudah khatam dirasakan seorang Aje.
“Sebelum saya kuliah sudah banyak yang menghina saya bahkan keluarga saya. Tapi kami tetap sabar. Saya gak peduli dengan semua itu. Saya selalu berusaha sabar tanpa batas. Saya salut dengan orang tua saya . Dari merekalah saya belajar untuk kuat!” urai Aje mengenang perjuangan awal merintis bisnis online.
Di awal merintis usaha, Aje dijuluki ‘penjual susu’. Karena awalnya ia menjual produk minuman sachet khusus perempuan yang berkhasiat memutihkan wajah dan seluruh badan. Tak sedikit yang mencerca, tak sedikit yang mem-bully dan menganggap sebelah mata. Namun Aje tak mau patah semangat. Orang-orang yang pernah mengejek, ia anggap sebagai batu loncatan. Ia percaya tak ada proses yang menghianati hasil. Mulailah ia dengan modal sedikit demi sedikit.
“Saya belajar dari orang tua, nekat merantau. Mencoba peruntungan di tanah orang. Sampai saya kuliah saya akhirnya bertemu banyak orang dengan berbagai sisi dan karakter serta sifat. Dari sana saya belajar tentang perjuangan hidup,” lanjutnya meneteskan air mata, mengingat perjuangannya.
Tak disangka, berjalannya waktu, usaha yang dimulainya pun berbuah. Pelanggan terus berdatangan. Sampai akhirnya ia mendapat bonus dari sang owner nyaris mencapai angka Rp 1 miliar. “Tepatnya Rp 800 juta. Karena produk yang saya jualkan tidak hanya dari daerah Makassar, tapi luar daerah. Semua membutuhkan jasa pengiriman barang. Makanya saya sangat terbantu dengan jasa pengiriman barang. Seperti JNE,” ungkap perempuan yang pernah mengambil Jurusan Ekonomi di UMI Makassar ini. Bahkan penghasilannya waktu itu sekitar tahun 2015 jauh mengalahkan gaji pekerja kantoran. “Walaupun hanya ‘penjual susu’,” cetus Aje, terkekeh.
Namun bisnisnya tak berjalan lama. Sekitar 2017 bisnis yang dilakoninya mulai surut. Namanya rezeki, kata Aje. Bisa saja naik turun. Orderan pun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya sehari bisa menghasilkan Rp 7 juta, kini Rp 1 juta pun tak sampai. Pembeli makin surut. Bukan Aje namanya jika tak mencoba peruntungan lainnya. Ia tak mau terbelenggu dan terpuruk oleh keadaannya saat itu. Terlebih lagi saat itu ia harus berbagi tanggung jawab dengan sang suami. Tak berhenti sampai di produk minuman kecantikan, ia beralih sebagai seorang penjual skin care pemutih wajah.
“Setelah menikah, ada saja ujian rumah tangga. Sampai pernah uang sisa Rp 200 ribu. Saya saat itu lagi hamil, mau USG harus nunggu suami gajian dulu. Saya berpikir saya harus memulai yang baru, tidak bisa andalkan kalau hanya gaji suami,” kenang Aje lagi.
Dari media sosial Facebook kembali tercetus ide untuk menjual skincare produk kecantikan khusus wajah. Lagi dan lagi Aje harus mengeluarkan modal. Karena memulai bisnis harus berani berkorban. Modal untuk jualan dan modal untuk ongkos kirim harus diperhitungkan. Karena bisnisnya tetap bergantung dengan jasa pengiriman barang. Modal awal saat itu, diakui Aje diperoleh dari hasil berutang. Terpaksa berutang lantaran, gaji suami cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Aje masih ingat saat itu, harga produk sebagai modal awal yang harus dirogohnya yakni Rp 540 ribu. Siapa sangka, hingga 2018, income yang berhasil dicapainya total Rp 2,5 miliar. Angka fantastis untuk pebisnis pemula. Diakuinya per tiga bulan sekali income khusus skincare terhitung sekitar Rp 1 miliar. Di luar bisnis pakaian dan kosmetik lainnya. Kata Aje, dari 2017 usaha dirintisnya terus menampakkan perkembangan. Bahkan tak pernah terbesit, keuntungan yang dicapainya bisa digunakan untuk membeli dua unit mobil dan membangun dua ruko. Semua dari menjual kosmetik online.
“Ya semua ini adalah kehendak Allah. Hasil kesabaran saya dan doa orang tua yang tak pernah putus. Saya berumur 24 tahun, tapi saya tidak pernah menyangka, di usia saya yang masih muda sudah bisa membeli mobil, menghasilkan omzet sendiri dan memiliki anak buah sendiri, pure dari bisnis online,” beber perempuan kelahiran Sonjai, 20 November 1994.
Sampai saat ini, produk skincare yang dijualnya tak hanya dijualkan di daerah. Selain di wilayah Indonesia, produk skincare-nya sampai pula ke mancanegara. Misalnya Hongkong, Singapura, Malaysia dan Tionghoa. Khusus karyawan yang membantunya saat ini memang hanya satu. Tetapi, untuk agen dari bisnis skincare yang digelutinya, sudah tersebar di berbagai daerah. “Sekitar ratusan. Kalau khusus anak buah pribadi yang membantu packing dan angkut barang ada satu,” ujar perempuan yang berlamat di Kelurahan Kampung Empat, Kota Tarakan ini.
Bisnis online shop yang digelutinya tentu tak akan berjalan mulus tanpa jasa pengiriman barang. Salah satunya JNE Ekspres yang selalu membantu memasok dan mendistribusikan baik ke dalam daerah dan keluar daerah. “Selain POS, saya pakai Cargo dan JNE. Kurir itu, kesayangannya online shop. Tanpa mereka, kami pebisnis online gak bisa apa-apa. Karena mereka, online shop bisa berjalan lancar. Jasa mereka sangat sangat dibutuhkan oleh online shop,” aku anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Dari awal merintis pun, JNE sudah menjadi sahabat karib perempuan berdarah asli Bugis Bone ini. Siang malam tak pernah alpa bertemu dengan kurir dan petugas JNE. Karena untuk mengirim barang, prosesnya harus membutuhkan ongkos kirim.
Dari seorang reseller skincare, kini anak dari pasangan Andi Mujetabah dan Andi Hasnawati ini dipercaya sang owner untuk menduduki jabatan sebagai Asisten Owner di distributor inti di salah satu brand skincare ternama di Makassar. Sembari bisnis lainnya seperti pemasok pakaian dan jenis kosmetik lainnya tetap digeluti. Menurutnya semua yang berpotensi menghasilkan uang tak boleh disia-siakan. Jika ada yang berceloteh, jangan pedulikan! Jika perlu, cukup berpura-pura tuli. Karena belum tentu mereka bisa menjadi sehebat orang-orang yang dicerca. Itu pesan Aje. “Celotehan haters abaikan. Maju terus sampai waktunya orang itu akhirnya berkata, benar dia bisa sukses ternyata,” lanjut ibu anak satu ini.
Pesan Aje, semua orang bisa sukses tergantung dari cara dia menjemput kesuksesannya. Dalam berbisnis jangan pernah lupa untuk melibatkan Tuhan sebagai sang pemberi rezeki. Dan yang terpenting, sebagai seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan lulusan sarjana, mengapa harus berpenghasilan lebih? Karena untuk menjadi cantik itu butuh modal. Mengandalkan gaji suami boleh saja. Tapi tetap saja tak sebebas jika menggunakan penghasilan sendiri. “ Uang tidak dibawa mati, tapi gak ada uang rasanya ingin mati. Uang bukan apa-apa, tapi tanpa uang kita tidak bisa apa-apa,” kata istri dari Amrullah ini.
Biaya rumah tangga itu besar. Mustahil tak ada peningkatan pengeluaran. Perempuan meski berstatus ibu rumah tangga, yang dibutuhkan ‘bisnis’ bukan ‘ngemis’ lanjutnya. Suami wajib mencari nafkah untuk istri, namun istri tak salah jika membantu beban suami. Dengan tak meninggalkan kodrat sebagai seorang istri. “Alhamdulillah, suami sampai saat ini sangat mendukung. Tinggal kita berani mencoba. Entah sukses atau gagal, entah ada orang yang bercerita jelek, jangan dengarkan. Cukup lakukan dan buktikan,” pungkasnya. (***)
Editor : Azwar Halim