TARAKAN - Gas elpiji 3 kilogram (kg) saat ini kembali menjadi buruan masyarakat lantaran sulit untuk didapatkan. Bukan hanya langka, bahkan ada yang menjual di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah. Lantas, kemana elpiji 3 kg diedarkan, mengapa warga kesusahan mendapatkan?
Seperti dikatakan Samuel (37) warga Kelurahan Juata Laut RT 13. Ia mengeluhkan sudah dua minggu ini sulit mencari tabung “melon”. Bukan hanya sulit didapat, bahkan harga yang diberikan juga di atas HET.
“Susah didapatkan, tidak apa-apa mahal yang penting ada. Ini dicari di mana-mana, tetap saja tidak ada,” katanya.
Sama halnya dengan, salah satu warga Rt 2 Kelurahan Karang Anyar Pantai, Sangkala mengatakan juga sangat sulit mendapatkan tabung gas. Dirinya sendiri tidak pernah mengambil dari pangkalan, dan hanya mengambil dari eceran karena selalu kehabisan
“Kalau dibeli di pangkalan selalu habis, mau tidak mau kami beli di pengecer,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengecer atau pemilik warung, Esti (39) mengatakan, dirinya sendiri memang tidak memiliki pangkalan karena tidak mengambil dari agen elpiji. Biasanya memang warga menitipkan tabung kosong di warungnya. Saat ada truk yang membawa tabung gas menuju Juata Laut, ia menukarkan gas titipan warga tadi.
“Kalau di daerah Korpri dan Juata Laut ada pangkalan. Tapi kalau di daerah Jembatan Kuning sampai jalan lurus itu tidak ada pangkalan,” ucap Esti.
Esti sendiri mematok harga yang berbeda dari HET yang ditetapkan pemerintah. Biasanya harga yang dipatok di daerahnya sebesar Rp 25 ribu per tabung. Tetapi biasanya jika mudah didapatkan maka harganya di patok seharga Rp 22 ribu per tabungnya.
“Kalau di sini rata-rata Rp 25 ribu, terkadang juga Rp 22 ribu. Tetapi kalau langka bisa sampai Rp 30 ribu. Kami hanya membantu saja, kalau ada kami tukarkan. Tidak menentu datangnya, kalau sudah dua minggu tidak ada, berarti sudah langka,” ungkapnya.
Berbeda dengan pangkalan KSU Nusa Indah, di Jalan Bhakti, RT 57 Karang Anyar yang merupakan agen dari Tarakan Mitra Andalan, yang menerapkan HET yang telah disesuaikan oleh pemerintah. Pemilik pangkalan, Sunarto mengatakan sudah sangat lama mengambil dari agen dan selalu menerapkan HET yang ditentukan.
“Saya selalu menerapkan HET, karena kami resmi. Tidak berani kami kalau menaikkan harga,” ujarnya.
Dikatakannya, dirinya sendiri selalu memberikan kepada siapa saja yang butuh, asalkan ada kartu keluarga dan juga KTP warga. Karena memang warga Rt 57 sudah banyak yang menggunakan gas alam, sehingga jika ada warga dari luar akan diberikan.
“Semuanya sudah diatur, dan kami memang menerapkan harga yang ada. Tetapi memang kalau sudah kosong, pasti kami kasih tau. Karena memang kalau sudah datang, langsung diserbu warga,” ungkapnya.
Sementara itu, Lurah Juata Laut, Badarudin Ishak mengatakan sampai saat ini belum mendengar laporan dari RT setempat mengenai kelangkaan tabung elpiji 3 kg. Bahkan untuk harga yang tinggi, dan jauh dari HET juga tidak pernah didengar keluhannya.
“Tidak ada keluhan kami dengar, dan belum ada laporan sama sekali dari manapun,” ungkapnya.
Salah satu agen elpiji, PT Tarakan Mitra Andalan, Iwan Setiawan mengatakan dengan adanya keluhan dari masyarakat, maka pihaknya melakukan sidak setiap harinya ke 82 pangkalan yang di bawah agen miliknya. Agar masyarakat merasa tenang dan pangkalan tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.
“HET sudah jelas, Rp 16 ribu. Jangan sampai ada yang menaikkan harga di atas harga yang sudah ditentukan pemerintah,” ujarnya.
Selama sidak yang sering dilakukan, tidak ditemukannya pangkalan yang melakukan hal-hal yang dilarang seperti menaikkan harga. Karena jika sampai ada yang tidak menerapkan HET, maka akan langsung memutuskan hubungan kerja.
“Itu dilarang, memang sudah kesepakatan bersama. Jadi tidak boleh dilanggar,” pungkasnya. (*/naa/udn)
Editor : Muhammad Erwinsyah