TARAKAN – Tongkang Intan 7504 yang ditarik Tug Boat (TB) KSA tujuan Tarakan-Malinau, menabrak dermaga keberangkatan Pelabuhan Tengkayu I SDF Tarakan sekitar pukul 07.40 wita kemarin (15/1).
Akibat peristiwa tersebut dermaga keberangkatan mengalami kerusakan pada atap dan pondasi. Tak hanya itu, speedboat Minsen Express tujuan Tanjung Selor terpaksa batal berangkat, karena mengalami kerusakan pada pagar bagian buritan dan haluan kapal.
Salah seorang saksi mata Jimy mengatakan, sebelum tongkang Intan 7504 menghantam dermaga keberangkatan Pelabuhan Tengkayu I, kondisi cuaca di perairan Tarakan, tiba-tiba berubah drastis. Hujan disertai angin kencang yang membuat gelombang meninggi.
“Tongkang itu sebelumnya berada di tengah laut, namun saat hujan turun dan angin, tiba-tiba tongkang itu hanyut sehingga menghantam dermaga keberangkatan,”ujarnya.
Pada saat menghantam dermaga, saat itu tongkang Intan 7504 sedang dalam posisi yang masih ditarik oleh TB KSA. “Mungkin TB KSA tidak kuat menarik tongkang tersebut, karena kondisi cuaca pada saat itu hujan deras disertai angin kencang dan gelombang tinggi,” bebernya.
“Sebenarnya ada 3 speedboat yang bersandar, dua di antaranya sempat melepaskan tali agar tidak tertabrak, sementara speedboat Minsen Express lambat melepas tali sehingga tertabrak oleh Intan 7504,” tambahnya.
Saksi Mata lainnya, Mustari menuturkan, sebelum menabrak dermaga kedatangan Pelabuhan Tengkayu I, tongkang Intan 7504 juga sempat akan menabrak perumahan warga pesisir Kelurahan Lingkas Ujung. “Tapi tiba-tiba bergerak mengarah ke pelabuhan, yang mengakibatkan pondasi dan atap dermaga rusak,” ucapnya.
Di tempat yang sama, salah seorang penumpang speedboat Sadewa, Ana menuturkan dia mengalami cedera di kepala, penyebabnya tidak lain karena kepalanya terhantam benda keras yang ada di dalam speedboat, setelah didorong penumpang yang panik saat tongkang Intan 7504 menabrak speedboat.
“Saat itu saya sudah di dalam kapal cepat SB Sadewa dengan tujuan Nunukan bersama sekitar 50 orang penumpang. Tiba-tiba ada yang teriak menyuruh kami cepat keluar dari speedboat, karena ada tongkang yang akan menabrak, saat saya akan keluar ada penumpang yang panik mendorong saya sehingga kepala saya terkena benda keras di dalam kapal,” ucapnya.
Terpisah, Kepala KSOP kelas III Tarakan, Letkol Marinir Abdul Rahman melalui kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli Syaharuddin mengatakan, penyebab tongkang Intan 7504 yang ditarik oleh TB KSA menabrak dermaga kedatangan Pelabuhan Tengkayu I karena kondisi cuaca yang tiba-tiba berubah ekstrem.
“Sebelum kejadian cuaca pada saat itu masih normal, meski hujan ketinggian gelombang hanya 0,50 cm hingga 0,70 cm. Namun saat pukul 07.00 Wita, tiba-tiba terjadi cuaca ekstrem yakni hujan disertai angin kencang yang membuat ketinggian gelombang mencapai 1 meter hingga 1,5 meter,” bebernya.
Akibat angin kencang yang bertiup dari barat dan gelombang yang mencapai 1 meter hingga 1,5 meter ini, membuat lambung kiri tongkang BG Intan terdorong dari tengah laut hingga menabrak dermaga kedatangan Pelabuhan Tengkayu I.
“Saat itu TB KSA yang dinakhodai Ahmad Andreansyah tidak dapat mengendalikan tongkang, yang posisinya tidak mengangkut batu bara. Sehingga menabrak dermaga kedatangan. Pada pukul 07.40 Wita. Tongkang akhirnya bisa ditarik kembali oleh TB KSA Pada pukul 08.00 Wita,” bebernya.
Akibat insiden tongkang Intan 7504 menabrak dermaga kedatangan Pelabuhan Tengkayu I, jadwal keberangkatan speedboat sempat ditunda selama 1 jam, karena kondisi cuaca yang masih belum memungkinkan untuk berlayar.
“Pukul 08.48 Wita baru bisa berangkat lagi, setelah kondisi cuaca dianggap aman dan baik untuk berlayar. Akibat insiden ini satu speedboat Minsen Express tidak jadi berlayar karena mengalami kerusakan,” bebernya.
Terkait peristiwa kali ini, pihaknya akan memeriksa nakhoda TB KSA yang menarik tongkan Intan 7504, sementara untuk kerusakan yang diakibatkan peristiwa kali ini, pihaknya sudah menghubungi owner melalui agen untuk meminta pertanggung jawaban.
“Pada prinsipnya mereka siap memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dalam peristiwa kali ini, mulai dari dermaga hingga kapal cepat yang rusak,” tuturnya.
Sementara itu, Forecaster Stasiun Meteorologi di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Raa’ina Farah menerangkan pukul 05.00 Wita terjadi pertumbuhan awan, yang disebabkan adanya belokan angin masuk ke wilayah Kaltara. Lalu bergerak menuju arah selatan Tarakan yang memicu terjadinya pertumbuhan awan konvektif.
“Jadi karena adanya belokan angin memicu pertumbuhan awan konvektif. Angin kencang bisa terpicu dari awan konvektif tadi,” terangnya kepada Radar Tarakan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (15/1).
Adapun angin bergerak dari arah barat daya ke barat laut. Dengan kecepatan berkisar 6 hingga 15 knot atau rata-rata 20 kilometer per jam. Sedangkan untuk tinggi gelombang berkisar 0.5 hingga 1.25 meter, dalam artian masih dalam kategori slight sea.
“Itu masih belum warning tapi harus tetap hati-hati. Kalau warning tinggi gelombang di atas 1,25 meter, itu sudah termasuk gelombang menengah,” jelasnya.
Diperkirakan cuaca Selasa (16/1) hari ini, kemungkinan hujan sedang dengan tinggi gelombang 0.5 hingga 1.25 meter. Angin bergerak dari arah barat daya menuju barat laut dengan kecepatan 6 hingga 15 knot. Cuaca besok diperkirakan masih sama dengan hari ini (Senin),” ujarnya.
Meskipun tidak terjadi hujan ekstrem, ia tetap mengimbau agar masyarakat Kaltara, khususnya Tarakan tetap berhati-hati. Apalagi berpergian dengan menggunakan speedboat dan harus mematuhi aturan atau memakai life jacket.
“Perkiraannya berawan sampai hujan ringan. Tapi tetap hati-hati kalau bepergian, entah itu ke Tanjung Selor atau ke daerah lain, jangan lupa menggunakan life jacket-nya,” imbaunya.
Terpisah, Anggota DPRD Tarakan, Rusli H.Jabba mengatakan, sedikitnya ada lima kejadian tongkang yang hanyut terbawa arus air laut dan angin kencang hingga menabrak wilayah pesisir Tarakan terutama permukiman penduduk.
Menurut Rusli, insiden seperti ini hendaknya menjadi evaluasi dan catatan serius instansi terkait yang memiliki kewenangan dan regulasi di wilayah perairan.
“Saya sarankan agar posisi parkir kapal-kapal tongkang ini mulai dipikirkan pihak terkait agar tidak di depan perairan pesisir Beringin,” kata Rusli kepada Radar Tarakan, kemarin.
Sebab jika cuaca buruk terjadi di perairan pesisir Tarakan, terutama angin kencang dan ombak besar, maka yang selalu was-was adalah warga di pesisir.
“Kejadian seperti ini bukan sekali ini terjadi. Sudah sering sekali. Dari catatan saya sudah lima kejadian tongkang menabrak wilayah pesisir,” ungkap Rusli.
Ia pun menyarankan agar kapal-kapal tongkang yang mayoritas mengangkut batu bara tersebut parkir di satu wilayah yang sama dan jauh dari permukiman penduduk. “Baiknya di depan Pantai Amal,” sarannya.
Pasalnya, sambung Rusli, musibah tongkang yang terbawa arus hingga menabrak rumah penduduk di pesisir selalu merugikan banyak warga. Kasus di tahun 2012 misalnya. Hingga saat ini banyak warga pesisir di Kelurahan Selumit Pantai yang kabarnya belum diganti rugi oleh pemilik tongkang.
Haji Darsa, salah seornag pemilik kios BBM Derawan Indah yang berdomisili di RT 28 Kelurahan Selumit Pantai membenarkan pernyataan Rusli.
“Tempat usaha kios BBM kami yang rusak belum dibayar sampai sekarang. Hanya dijanji,” kata Darsa yang menemui Radar Tarakan, Senin (15/1) sore.
Proses mediasi memang sudah dilakukan antara pihak perusahaan dengan warga. Namun yang menemui dirinya hanya staf perusahaan, bukan pemilik tongkang.
“Sudah hampir enam tahun tidak pernah terealisasi,” tutur Darsa yang mengaku kerugiannya mencapai Rp 2,5 miliar untuk bangunan dan BBM.
Ini juga dibenarkan Ketua RT 18 Kelurahan Selumit Pantai, Husain Hamid. Diakuinya, di wilayah mereka sudah dua kali kejadian tongkang menabrak rumah di pesisir. Yaitu di tahun 2012 dan 2014.
“Sebagian memang ada yang sudah dibayar dan sebagian ada yang belum. Sekarang tinggal satu rumah warga yang belum diganti rugi dan satu kios yang belum dibayar,” ungkap Husain. Pihaknya berharap, kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Sebab banyak sekali kerugian yang dialami warga dan belum ada penyelesaian yang tuntas.(jnr/*/one/ddq/nri)
Editor : Azwar Halim