Jembatan Beton Garuda Sepala Dalung Tana Tidung Diresmikan, Akses Warga Makin Lancar

Sophian Hadi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:39 WIB
INFRASTRUKTUR: Dandim 0914/TNT Letkol Arm R. Florensius Ferdian Ricarda  bersama kepala. desa dan tokoh masyarakat meresmikan jembatan beton Garuda di Desa Sepala Dalung, Jumat (4/9). FOTO: SOPIAN/RADAR TARAKAN
INFRASTRUKTUR: Dandim 0914/TNT Letkol Arm R. Florensius Ferdian Ricarda bersama kepala. desa dan tokoh masyarakat meresmikan jembatan beton Garuda di Desa Sepala Dalung, Jumat (4/9). FOTO: SOPIAN/RADAR TARAK

TIDENG PALE – Jembatan Beton Garuda di Desa Sepala Dalung, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, resmi dimanfaatkan.

Pembangunan jembatan tersebut menjadi bagian dari satu paket pekerjaan pembangunan enam jembatan beton yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Tana Tidung.

Dandim 0914/TNT Letkol Arm R. Florensius Ferdian Ricarda mengatakan, peresmian Jembatan Beton Garuda di Sepala Dalung merupakan tahapan lanjutan setelah sebelumnya jembatan di Desa Seludau juga diresmikan.

Menurutnya, pengerjaan enam jembatan tersebut tidak dapat diselesaikan secara bersamaan lantaran kondisi sungai di setiap lokasi berbeda.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam pembangunan jembatan di Sepala Dalung adalah pengaruh pasang surut air sungai.

“Memang pekerjaannya tidak bisa selesai pada waktu yang sama karena kondisi sungainya berbeda-beda. Di sini karena dekat dengan sungai besar dan terpengaruh pasang surut, pekerjaan sempat terhenti ketika air pasang,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat proses pengeringan beton membutuhkan waktu lebih lama.

Florensius menyebut, dari total enam jembatan beton yang masuk dalam satu tahap pembangunan, saat ini dua jembatan telah selesai dan diresmikan, sementara empat lainnya masih dalam proses pengerjaan.

Jembatan yang dibangun memiliki ukuran bervariasi menyesuaikan kondisi sungai.

Untuk Jembatan Beton Garuda di Sepala Dalung, panjang bentang jembatan menyesuaikan kondisi lokasi dengan lebar dan panjang empat meter. 

Ia menegaskan, pembangunan jembatan tidak semata-mata mempertimbangkan aspek konstruksi, tetapi juga tingkat kebutuhan dan manfaatnya bagi masyarakat.

“Pertimbangan kita adalah jalur akses tersebut sering dilalui masyarakat. Kehadiran jembatan ini harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Jangan sampai dibangun, tetapi tidak dilalui dan akhirnya rusak sendiri,” katanya.

Menurutnya, tingkat pemanfaatan oleh masyarakat menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur yang telah dibangun.

Semakin sering digunakan untuk menunjang aktivitas masyarakat, semakin besar pula manfaat pembangunan tersebut.

"Jembatan yang dibangun di RT 2 ini bisa mengakses RT 5 dan kawaaan perkebunan warga dam PT Adindo," ujarmya.

Selain itu, kualitas bangunan juga menjadi perhatian agar jembatan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Florensius mengatakan, berdasarkan testimoni masyarakat yang diterima melalui anggota di lapangan, keberadaan jembatan beton tersebut memberikan rasa aman dan kemudahan bagi warga dalam beraktivitas.

Sebelumnya, masyarakat masih mengandalkan jembatan kayu ulin sebagai akses penyeberangan. Kondisi tersebut membuat warga harus lebih berhati-hati ketika melintas.

“Dengan adanya jembatan ini, masyarakat bisa lebih lancar. Kalau sebelumnya hanya jembatan kayu ulin, mereka harus hati-hati dan merasa takut. Sekarang dengan jembatan beton ini mereka merasa lebih lega dan berani untuk melewatinya,” pungkasnya.(*)

Editor : Sophian Hadi
Jembatan Garuda Dandim 0914/TNT Sepala Dalung