Jelang Musim Tanam, DP3 Tana Tidung Ingatkan Petani Waspadai Pembakaran Lahan

Sophian Hadi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:05 WIB
Kepala DP3 Tana Tidung Idris Hendro Wibowo
Kepala DP3 Tana Tidung Idris Hendro Wibowo

TIDENG PALE - Memasuki periode persiapan tanam benih padi, aktivitas pembakaran lahan oleh sebagian petani kembali menjadi perhatian. 

Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Tana Tidung mengingatkan masyarakat agar mewaspadai pembakaran lahan dan memastikan api tetap terkendali agar tidak merembet ke lahan milik warga lain.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo mengatakan, pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan sangat penting, terutama di wilayah yang masih menerapkan pola pertanian ladang berpindah.

Menurut Hendro, sebagian petani di wilayah daratan masih mengandalkan sistem ladang berpindah dengan menanam padi gogo atau padi kering. 

Pola tersebut umumnya dilakukan setahun sekali seiring dengan panen yang dilakukan. 

“Pembakaran biasanya dilakukan karena dianggap lebih cepat untuk membersihkan lahan. Selain itu, abu hasil pembakaran juga dianggap dapat membantu menyuburkan tanah, unsur haranya,” ujar Hendro, Kamis (27/8).

Meski demikian, ia menegaskan pembakaran lahan tidak boleh dilakukan sembarangan.

Petani yang menggunakan metode pembakaran harus memastikan api benar-benar terkendali dan tidak merembet ke lahan di sekitarnya.

“Kalau pun dilakukan pembakaran, tetap harus diawasi dan dipastikan apinya tidak merembet ke lahan sebelah,” tegasnya.

Hendro mencontohkan, api yang merambat dapat menimbulkan kerugian bagi pemilik lahan di sekitar, terutama masyarakat yang mengembangkan tanaman hortikultura maupun perkebunan.

Untuk mencegah hal tersebut, petani diminta melakukan pembersihan di sekitar area yang akan dibakar serta membuat batas pengamanan.

Langkah ini penting agar api tidak mudah menjalar ketika kondisi lahan kering dan angin cukup kencang.

DPPP Dorong Pertanian Menetap

Sebagai solusi jangka panjang, DPPP terus mendorong masyarakat menerapkan pola budidaya pertanian yang lebih menetap mengurangi ketergantungan terhadap sistem ladang berpindah.

Salah satunya melalui pengembangan lahan persawahan yang dinilai dapat mendukung keberlanjutan produksi pertanian sekaligus mengurangi kebutuhan membuka lahan baru.

Idris mengatakan, pemerintah, baik pusat maupun daerah, terus memberikan dukungan terhadap pengembangan persawahan agar masyarakat memiliki pilihan untuk bercocok tanam tanpa harus berpindah-pindah lokasi.

“Kami dari dinas pertanian ke depan mengarahkan masyarakat untuk melakukan budidaya tanpa harus membakar lahan. Kita juga terus mengedukasi masyarakat agar bertani dengan cara yang baik dan tidak berpindah-pindah,” katanya.

Namun, Hendro mengakui pola ladang berpindah masih dijalankan oleh sebagian masyarakat, khususnya di wilayah daratan.

Salah satu faktornya adalah keterbatasan lahan persawahan sehingga pertanian ladang berpindah-pindah masih menjadi pilihan bagi sebagian petani.

Hendro memastikan pesiapan tanam dipastikan akan berlangsung hingga September. Musim tanam akan berlangsung pada bulan Oktober.

"Musim tanam itu biasanya April dan Oktober. Untuk sekarang petani masih mempersiapkan lahannya," kata dia.

 

Kondisi cuaca yang cenderung lebih kering di saat ini menjadi momen petani menyiapkan lahannya. 

"Risiko kebakaran apabila pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar tanpa pengawasan," bebernya.

Namun, Hendro mengingatkan kemudahan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab.

Petani tidak hanya perlu memikirkan lahan yang akan dibuka, tetapi juga keselamatan lahan dan tanaman milik masyarakat di sekitarnya.

“Yang paling penting, kalau memang pembakaran dilakukan, harus diawasi. Pastikan api tidak merembet dan merugikan masyarakat lainnya,” pungkas Idris.

DPPP berharap edukasi dan pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat mendorong perubahan pola pertanian masyarakat.

Dengan begitu, pembukaan lahan dapat dilakukan secara lebih aman, produktif, dan tidak menimbulkan kerugian bagi lingkungan maupun petani lainnya.(*)

Editor : Sophian Hadi
DP3 karhutla Tana Tidung