Pekarangan Rumah Disulap Jadi Sawah, Warga Sengkong Raup 360 Kg Beras Sekali Panen

Sophian Hadi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 12:22 WIB
Kades Sengkong Sulaiman
Kades Sengkong Sulaiman

 

TIDENG PALE – Pemanfaatan pekarangan rumah menjadi lahan produktif mulai menunjukkan hasil di Desa Sengkong, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung.

Program sawah pekarangan yang digagas pemerintah desa kini telah membuka sekitar 10 hektare lahan, dengan sebagian di antaranya sudah siap ditanami padi.

Kepala Desa Sengkong, Sulaiman, mengatakan lahan sawah tersebut tersebar di pekarangan rumah warga dan tidak berada dalam satu hamparan.

Dari total sekitar 10 hektare lahan yang telah dibersihkan dan dibuka sepanjang 2025 hingga 2026, sekitar 5 hektare sudah siap tanam pada akhir Juli lalu.

“Kalau lokasi yang sudah kami buka kurang lebih 10 hektare. Lahan ini berada di pekarangan rumah warga,” ujar Sulaiman, Selasa (4/8)

Menurutnya, program tersebut berawal dari upaya pemerintah desa menjadikan kegiatan gotong royong warga lebih produktif.

Selama ini, masyarakat rutin melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan rumput dan gulma di sekitar pekarangan rumah.

Daripada lahan hanya dibersihkan tanpa memberikan manfaat ekonomi, pemerintah desa mendorong warga memanfaatkannya untuk menanam padi.

“Setiap bulan kami dari pemerintah desa, RT dan warga melaksanakan kerja bakti. Daripada kerja bakti tidak produktif, lebih baik pembersihan gulma dan rumput itu kita arahkan untuk menjadikan lahan produktif dengan menanam padi,” jelasnya.

Program ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

"Minimal bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk kebutuhan pangan," katanya.

Untuk saat ini, hasil panen belum dipasarkan dan masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.

Sulaiman mencontohkan hasil panen dari lahan milik keluarganya.

Dengan menggunakan padi berumur sekitar tiga bulan, hasilnya mampu mencapai sekitar 360 kilogram beras.

“Untuk saat ini program ketahanan pangan di Sengkong hanya untuk dikonsumsi masyarakat. Belum dijual,” katanya.

Meski demikian, pemerintah desa mulai melihat peluang pengembangan pasar.

Sejumlah perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah tersebut, termasuk MIP, disebut siap menampung hasil produksi masyarakat apabila jumlah dan kontinuitas produksinya sudah memenuhi kebutuhan.

“Kalau ini bisa luas, mereka siap menampung hasil masyarakat. Artinya, kami dari pemerintah juga tidak bisa berdiri sendiri. Hasil Desa Sengkong dan desa lain yang fokus pada penanaman padi bisa kita kerja samakan,” ujarnya.

Ke depan, program tersebut ditargetkan berkembang lebih luas.

Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Pertanian dan Pangan direncanakan membuka cetak sawah seluas 15 hektare pada tahun depan.

Jika saat ini sawah dikembangkan di pekarangan rumah warga, pengembangan berikutnya akan diarahkan ke lahan kosong dan kawasan khusus yang memiliki hamparan lebih luas.

Sulaiman berharap pembangunan cetak sawah tersebut juga dilengkapi tanggul atau pematang yang cukup lebar.

Infrastruktur itu nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pembatas lahan sawah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai akses jalan.

Bahkan, pematang sawah diharapkan dapat ditanami komoditas lain seperti kelapa dalam sehingga satu kawasan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih beragam.

“Harapan kami pematangnya dibuat agak lebar supaya bisa dimanfaatkan untuk jalan. Di sana juga bisa kita tanami kelapa dalam. Jadi satu program bisa menghasilkan lebih banyak, ada padi dan ada kelapa,” tuturnya.

Dari sisi pembiayaan, program sawah pekarangan menggunakan anggaran ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa serta pola padat karya.

Skema ini dinilai sesuai dengan kondisi saat ini ketika pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran.

Menurut Sulaiman, penggunaan Dana Desa untuk program tersebut juga bertujuan memastikan manfaat anggaran dapat langsung dirasakan masyarakat.

“Kita menganggarkan dari Dana Desa supaya dananya bisa mengalir ke akar rumput. Masyarakat kita upah untuk membersihkan lingkungan dan pekarangan mereka. Jadi uangnya berputar di masyarakat sehingga ekonomi dan daya beli di tingkat bawah bisa berjalan,” pungkasnya.(*)

Editor : Sophian Hadi
Sengkong PEMKAB KTT sulaiman sawah