TIDENG PALE – Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan kesiapan generasi muda menghadapi persaingan di masa depan saat menghadiri kegiatan perpisahan siswa SMPN Terpadu Unggulan I Tana Tidung belum lama ini.
Dalam sambutannya, Ibrahim Ali menegaskan bahwa sekolah dengan label “terpadu” dan “unggulan” seharusnya benar-benar mencerminkan kualitas pendidikan yang baik, baik dari sisi mutu pembelajaran maupun pembinaan karakter siswa.
“Kalau sudah memakai nama terpadu dan unggulan, tentu kualitas pendidikannya tidak boleh diragukan. Biasanya konsepnya boarding school dan pembinaan siswa dilakukan secara terpadu,” ujarnya.
Karena itu harus ada evaluasi terkait nama berlabel terpadu unggulan tersebut agar tak menjadi beban.
Menurutnya, kegiatan perpisahan sekolah tidak perlu terlalu banyak diisi suasana haru, melainkan harus menjadi momentum memotivasi siswa agar siap menghadapi tantangan kehidupan setelah lulus sekolah.
“Saya tidak ingin anak-anak terlalu larut dalam kesedihan perpisahan. Yang harus dipersiapkan adalah tanggung jawab mereka lima sampai sepuluh tahun ke depan. Beban tantangan mereka nanti jauh lebih berat,” katanya.
Ia menegaskan, tugas pemerintah adalah memastikan pendidikan yang diberikan kepada anak-anak berjalan dengan baik dan berkualitas.
Dalam kesempatan itu, Ibrahim Ali juga mengungkapkan dirinya sempat menerima audiensi dari kepala sekolah dan guru SMA Negeri 1 Terpadu Unggulan sebelum menghadiri kegiatan tersebut.
Dari pertemuan itu, ia mendapatkan laporan bahwa banyak lulusan SMA di Kabupaten Tana Tidung masih kesulitan bersaing untuk masuk perguruan tinggi pada jurusan favorit, terutama karena kemampuan literasi dan numerasi yang dinilai masih rendah.
“Ini menjadi PR kita bersama. Jangan salahkan anak-anak. Yang harus introspeksi adalah kita semua, mulai dari bupati, pejabat, sampai guru-guru,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pembagian kewenangan dalam undang-undang pendidikan, pemerintah kabupaten hanya menangani pendidikan dasar seperti SD dan SMP, sementara SMA menjadi kewenangan pemerintah provinsi.
Meski demikian, menurutnya pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Ibrahim Ali juga menyinggung peran Yayasan Tanoto Foundation yang selama ini aktif mendukung pengembangan literasi dan numerasi diengan lokus satu satunya di Kabupaten Tana Tidung.
“Tanoto Foundation konsentrasi pada pengembangan literasi anak-anak. Tetapi hari ini kita masih mendapat laporan kemampuan literasi dan numerasi siswa kita masih kalah. Ini pekerjaan rumah besar,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya profesionalisme tenaga pendidik dalam memberikan layanan pendidikan terbaik kepada siswa.
“Kalau berbicara kesejahteraan guru, pemerintah sudah berupaya memenuhi. Tetapi sekarang pertanyaannya, apakah pendidikan terbaik sudah benar-benar diberikan kepada anak-anak kita?” katanya.
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah bagaimana mempersiapkan generasi muda agar mampu berkompetisi di masa depan.
Ia juga mengakui adanya keterbatasan pemerintah kabupaten dalam mengintervensi kebijakan pendidikan tingkat SMA karena kewenangan tersebut berada di bawah pemerintah provinsi.
“Kadang ada jarak pemisah karena guru SMA berada di bawah provinsi. Sehingga pemerintah kabupaten tidak bisa sepenuhnya mengintervensi program pendidikan di SMA,” pungkasnya.(*)
Editor : Sopian Hadi