TIDENG PALE - Desakan keberatan datang dari masyarakat Desa Babakung dan Sebawang terkait rencana pembangunan Mako Yonif TP 922/Upun Taka di wilayah mereka yang dinilai berdampak pada keberlangsungan lahan perkebunan warga.
Warga menegaskan, sikap tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan pemerintah, melainkan upaya mempertahankan ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.
Hal itu disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Lucas Inci, yang menegaskan bahwa warga tetap mendukung pembangunan, namun meminta pemerintah lebih bijak dalam menentukan lokasi kegiatan.
“Kami bukan menolak pembangunan, tetapi lokasi yang ditentukan sangat berdampak pada perkebunan masyarakat,” ujarnya usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat antara warga dua desa bersama DPRD, Kodim, Yonif, dan unsur terkait lainnya, Selasa (13/5) .
Menurut warga, sebagian besar masyarakat Desa Babakung menggantungkan ekonomi dari sektor pertanian dan perkebunan sepert sawit serta buah-buahan
Karena itu, keberadaan kegiatan di lokasi yang direncanakan dikhawatirkan dapat mematikam pencaharian warga.
"Harapan anak kami bisa sekolah juga dari situ (perkebunan)," ungkapmya.
Selain menyoroti dampak ekonomi, masyarakat juga meminta agar pemerintah melakukan kajian ulang dan melibatkan tokoh desa dalam penentuan lokasi alternatif.
Warga berharap lokasi kegiatan dapat dipindahkan ke area yang tidak berdekatan dengan permukiman maupun lahan produktif.
“Harapan kami, pemerintah bisa duduk bersama dengan masyarakat untuk menentukan lokasi yang tidak merugikan warga,” tambah Lukas Inci.
Meski menyatakan penolakan terhadap lokasi, masyarakat tetap membuka ruang dialog dengan pemerintah.
Namun, mereka menegaskan sikap tetap sama, yaitu meminta relokasi demi menjaga keberlangsungan ekonomi warga desa.
Dengan adanya aspirasi ini, warga berharap pemerintah dapat menyeimbangkan antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan hidup masyarakat di tingkat desa.(*)
Editor : Sopian Hadi