Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Frekuensi Kemunculan Pesut di Perairan Tana Tidung Menurun, Aktivitas dan Habitat Kian Terancam ‎

Sopian Hadi • Selasa, 14 April 2026 | 11:35 WIB
 
 
MIRIS: Kondisi pesut yang masuk jaring nelayan di perairan Tana Lia tahun lalu. (DOK DINAS PPP)
MIRIS: Kondisi pesut yang masuk jaring nelayan di perairan Tana Lia tahun lalu. (DOK DINAS PPP)

TIDENG PALE – Keberadaan pesut (Orcaella Brevirostris) di perairan Kabupaten Tana Tidung disebut mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. 

‎Hal ini disampaikan Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Tana Tidung, Herni, berdasarkan hasil pemantauan lapangan dan keterangan masyarakat nelayan.

‎‎Herni mengungkapkan, fenomena kemunculan hewan dilindungi ini dulunya cukup sering terjadi, terutama di wilayah pinggir sungai yang dekat dengan permukiman warga.

‎‎“Sekitar dua tahun lalu, saat saya masih tinggal di pinggir sungai dekat Pelabuhan Lama, pesut sering muncul pada saat air guris. Bahkan subuh sekitar jam 5 sampai 6 pagi, mereka bermain di belakang rumah. Biasanya muncul dalam kelompok kecil, sekitar tiga sampai empat ekor,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Selasa (14/4).

‎Namun, sejak dirinya pindah dari kawasan tersebut pada tahun 2023, frekuensi kemunculan pesut mulai berkurang.

‎‎“Karena saya sudah pindah ke atas, saya jarang lagi memantau. Informasi dari nelayan masih ada, tapi tidak sesering dulu. Kemungkinan memang terjadi penurunan populasi,” jelasnya.

‎Secara pasti, ia tidak bisa menyebutkan jumlah mamalia langka di perairan Tana Tidung karena belum pernah melakukan penelitian.

‎Ia menambahkan, saat ini kemunculan hewan endemik Sungai Sesayap ini lebih sering dilaporkan di wilayah Sedulun dan pelabuhan lama Kecamatan Sesayap, meskipun jumlah yang terlihat juga tidak banyak.

‎Menurut Herni, salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberadaan pesut adalah kondisi perairan yang semakin menurun.

‎‎“Kondisi perairan kita dari tahun ke tahun tidak semakin baik. Ada pengaruh limbah, baik dari perusahaan maupun rumah tangga, serta sampah. Kalau habitatnya sudah tidak layak, pesut pasti akan bermigrasi mencari tempat yang lebih baik dan sumber makanan yang cukup,” terangnya.

‎‎Selain itu, aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan.

‎‎“Kami terus melakukan pengawasan dan pembinaan kepada masyarakat agar tidak menggunakan alat tangkap seperti setrum dan racun. Cara-cara itu sangat merusak, karena bisa membunuh semua biota, mulai dari ikan kecil hingga mikroorganisme yang menjadi bagian penting dalam rantai makanan,” tegasnya.

‎Herni menekankan bahwa rusaknya ekosistem dasar perairan akan berdampak langsung pada ketersediaan makanan bagi ikan-ikan besar, termasuk pesut.

‎‎“Kalau sumber makanan hilang, otomatis pesut juga akan bermigrasi. Itu sebabnya penting menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.

‎Dalam kegiatan pengawasan terpadu yang dilakukan bersama instansi terkait pada Agustus tahun lalu bersama DKP Kaltara, pihaknya bahkan menemukan kasus pesut yang terjaring alat tangkap nelayan.

‎‎“Saat pengawasan di wilayah pesisir Tana Lia, kami menemukan pesut masuk dalam pukat kurau yang dioperasikan di bawah 5 mil. Itu sangat memprihatinkan, karena pesut yang terjaring biasanya mati dan tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.

‎Lebih miris lagi, lanjut Herni, pesut tersebut kemudian dimanfaatkan oleh nelayan.

‎‎“Ada yang dijual dan ada juga yang dikonsumsi. Ini menjadi perhatian serius, karena menunjukkan masih kurangnya kesadaran akan perlindungan satwa tersebut,” ujarnya.

‎‎Terkait upaya perlindungan, Herni mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi keterbatasan, terutama dari sisi anggaran.

‎‎“Kegiatan pengawasan belum bisa dilakukan secara rutin karena keterbatasan anggaran. Tapi kami berharap ke depan bisa diakomodir, karena ini sangat penting untuk menjaga kelestarian perairan kita,” katanya.

‎‎Ia berharap, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan berbagai pihak, keberadaan pesut di perairan Tana Tidung dapat tetap terjaga dengan dilakukannya pengawasan.(ana)

Editor : Sopian Hadi
#hewan dilindungi #pesut sesayap #PEMKAB KTT #dinas pertanian