TIDENG PALE – Kerusakan jembatan hidrolik (movable bridge/MB) di Pelabuhan Juata, Tarakan, berdampak pada pelayanan penyeberangan.
Penumpang kapal feri terpaksa menunggu lebih lama saat proses turun dari kapal karena fasilitas sandar tidak berfungsi optimal.
Kepala PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Balikpapan Kantor Perwakilan Tarakan, Abdul Gafur, menjelaskan bahwa operasional kapal saat ini harus menyesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut.
“Jadwal yang kami buat itu disesuaikan dengan kondisi air. Jadi kapal tidak bisa lagi bebas berangkat cepat seperti sebelumnya,” ujarnya, Kamis (2/4).
Ia mengakui, kondisi tersebut membuat penumpang yang ingin segera tiba di tujuan harus bersabar karena waktu tunggu menjadi lebih lama, terutama saat proses bongkar muat di pelabuhan.
Menurutnya, pihak ASDP siap memberikan dukungan perbaikan jika ada permintaan resmi, termasuk mendatangkan teknisi untuk menangani kerusakan MB.
“Kalau memang dibutuhkan teknisi, kami siap membantu. Silakan bersurat, nanti kami fasilitasi teknisi,” tambahnya.
Abdul Gafur mengungkapkan, kerusakan jembatan hidrolik sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.
Bahkan, menjelang arus mudik Lebaran kemarin, kondisi MB kembali mengalami gangguan setelah sempat berfungsi normal pada Desember sebelumnya.
“ Terakhir Desember kemarin sempat normal, tapi saat arus Lebaran kembali mengalami kendala,” jelasnya.
Saat ini, ASDP mengoperasikan tiga armada untuk melayani penyeberangan.
KMP Manta yang melayani rute Tarakan–Sebawang.
Selain itu, terdapat KMP Julung-Julung yang melayani lintas provins, dari Tarakan ke Tolitoli dengan jadwal satu hingga dua kali dalam seminggu, tergantung kondisi cuaca.
Sementara KMP Manta II melayani lintasan Tarakan-Nunukan pulang pergi sebagai rute perintis.
Kapal tersebut juga melayani rute komersial Nunukan-Sebatik serta rute perintis Nunukan-Sei Menggaris yang dijadwalkan berlayar sekali dalam sepekan.
Pihak ASDP berharap perbaikan jembatan hidrolik dapat segera dilakukan agar pelayanan penyeberangan kembali normal, terutama untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.(ana)