Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Puasa Tak Picu Penyakit, Dokter Imbau Warga Jaga Pola Makan dan Aktivitas

Sopian Hadi • Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:27 WIB

Sekretaris Dinas Kesehatan Tana Tidung, dr. Budi Samroni.
Sekretaris Dinas Kesehatan Tana Tidung, dr. Budi Samroni.
TIDENG PALE - Menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan tidak serta-merta menimbulkan penyakit. Justru, keluhan kesehatan yang kerap muncul selama puasa lebih banyak disebabkan oleh pola makan yang keliru dan perilaku hidup yang tidak seimbang.

 

Hal tersebut disampaikan dr. Budi Samroni. Ia menegaskan puasa aman dijalani masyarakat selama memperhatikan asupan gizi, waktu makan, serta tetap menjaga aktivitas fisik.

 

“Puasa itu tidak menimbulkan penyakit. Keluhan biasanya muncul karena tidak terbiasa. Apalagi saat berbuka orang cenderung ‘balas dendam’, makan berlebihan, gorengan, dan manis-manisan. Itu biasanya bisa menyebabkan gangguan pencernaan,” ujarnya, Jumat (20/2).

 

Menurutnya, lambung yang seharian kosong perlu diberi adaptasi secara bertahap saat berbuka.

 

Pria yang juga sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Tidung itu mengingatkan agar masyarakat tidak langsung mengonsumsi makanan berat dalam jumlah besar.

 

Idealnya, isi lambung dibagi menjadi sepertiga makanan, sepertiga cairan, dan sepertiga udara.

 

“Jangan sampai lambung diisi penuh makanan karena itu akan memperberat proses pencernaan dan memicu rasa begah hingga mual,” jelasnya.

 

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi makanan yang terlalu pedas, asam, dan berminyak, terutama saat berbuka.

 

Bagi warga yang memiliki riwayat gangguan lambung seperti gastritis atau asam lambung, pemilihan makanan menjadi hal yang sangat penting.

 

Terkait penderita asam lambung, ia menegaskan bahwa puasa tetap dapat dijalani. Bahkan, dalam kondisi tertentu, puasa justru membantu mengistirahatkan lambung.

 

“Kecuali lambung yang sudah ada lecet. Kalau yang biasa, aman saja,” katanya.

Namun, proses adaptasi memang dibutuhkan, khususnya di awal Ramadan.

 

Selain pola makan, aktivitas fisik juga perlu tetap dijaga selama puasa. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan atau menghentikan kegiatan harian.

 

“Olahraga tetap boleh, pagi atau sore hari, tapi jangan yang berat. Aktivitas fisik ringan penting untuk menjaga kebugaran,” katanya.

 

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak langsung tidur setelah sahur atau berbuka karena dapat mengganggu proses pencernaan.

 

Pola hidup seperti makan lalu tidur kembali setelah sahur dinilai tidak sehat.

 

“Setelah sahur dan salat Subuh, sebaiknya tetap ada aktivitas ringan. Tidur siang boleh, tapi waktu terbaik biasanya setelah Zuhur. Ini untuk masyarakat umum yang tidak bekerja. ASN tentu tidak untuk tidur,” tambahnya.

 

Bahkan, ia menyebut kebutuhan tubuh dengan sahur yang cukup sudah dapat menopang hingga waktu berbuka.

 

“Kalau makan banyak saat sahur malah bikin begah, jadi sesuaikan saja. Makan sebelum kenyang,” ucapnya.

 

Secara keseluruhan, ia menegaskan kebutuhan energi tubuh selama puasa tetap tercukupi jika sahur dilakukan dengan gizi seimbang.

 

Perubahan utama saat Ramadan hanya pada waktu makan, bukan pada kebutuhan tubuh itu sendiri.

 

“Intinya, sesuaikan porsi dan kualitas makanan, tetap aktif, dan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan begitu, puasa bisa dijalani dengan nyaman dan tubuh tetap sehat,” pungkasnya. (ana/lim)

Editor : Azward Halim
#puasa #kesehatan #Tana Tidung