Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini fokus memilah program yang dinilai paling mendesak dan berdampak langsung terhadap pelayanan masyarakat.
“Untuk pelaksanaan Irau, kemungkinan besar tidak ada. Tapi untuk kegiatan budaya seperti tari pesisir, mungkin tetap kita adakan di penghujung tahun, itu pun dengan konsep kerja sama melalui TJSL atau CSR. Namun, itu belum bisa kita janjikan, kita lihat nanti ke depan,” ujar Bupati, Minggu (15/2).
Irau rutin digelar setiap dua tahun sekali. Bupati menyebutkan, jika tahun ini tidak dapat dilaksanakan, maka akan dipertimbangkan untuk diganti pada tahun berikutnya.
Menurutnya, kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. Pemerintah daerah saat ini memprioritaskan pemenuhan program-program wajib serta realisasi janji politik kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai visi dan misi pembangunan.
“Kita berpikir bagaimana pelayanan pemerintah kepada masyarakat tetap maksimal. Yang paling urgen itu pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Itu yang kita utamakan,” tegasnya.
Ia menilai kegiatan seperti Irau bersifat seremonial dan hiburan, sehingga urgensinya tidak setinggi program-program dasar yang menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.
“Kalau Irau itu kan sifatnya hiburan, seremonial saja. Bukan hal yang wajib. Jadi kita dahulukan yang wajib dulu,” pungkasnya.
Sebagai informasi, efisiensi anggaran juga berdampak pada kegiatan safari Ramadan yang biasa digelar setiap tahun dengan mengunjungi hampir semua desa.
Tahun ini, safari Ramadan hanya fokus di ibu kota kecamatan. (ana/lim)