Kepala Dinas Perhubungan Tana Tidung, M. Arief Prasetiawan, menjelaskan bahwa perawatan PJU menghadapi tantangan teknis, termasuk sensitivitas sistem kelistrikan dan kondisi cuaca. Meski demikian, pihak Dishub tetap berkomitmen melaksanakan perawatan secara rutin.
“Elektronik itu riskan gangguan. Cuaca berpengaruh, listrik juga berpengaruh. Tapi kami tetap semangat, tidak menganggap ini sebagai beban,” ujar Arief, Minggu (1/2).
Sejak tahun sebelumnya, pemerintah daerah telah menyelesaikan penerangan jalan di sejumlah ruas utama perkotaan, antara lain Jalan Bhayangkara, Jalan Kuburan, Aki Ulot, Kebun Sayur, dan Raja Wali. Tahun ini, Dishub Tana Tidung menargetkan perluasan PJU ke wilayah kecamatan, seperti Sesayap Hilir, Betayau, Muruk Rian, dan Tana Lia, dengan pendekatan bertahap sesuai kemampuan anggaran.
“Pelaksanaan tidak langsung satu kecamatan penuh, tapi simultan, sekitar 10-15 titik di setiap kecamatan, terutama di lokasi rawan dan yang paling membutuhkan PJU,” jelas Arief.
Selain aspek keselamatan, PJU juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan penerangan yang memadai, kawasan yang sebelumnya sepi di malam hari kini mulai ramai, mendorong perputaran ekonomi lebih panjang.
Terkait perawatan teknis, Dishub Tana Tidung menghadapi keterbatasan sarana dan sumber daya manusia. Perbaikan PJU idealnya dilakukan cepat, termasuk pada malam hari, menggunakan kendaraan khusus seperti skylift crane. Saat ini, pengadaan skylift crane mengandalkan bantuan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Arief menekankan pentingnya dukungan anggaran, baik dari pemerintah daerah maupun pusat, agar pengelolaan dan perawatan PJU dapat semakin optimal dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. “Harapan kami, ekonomi Tana Tidung tidak hanya hidup pagi dan sore, tapi juga malam hari. PJU punya peran besar di situ,” pungkasnya. (ana/lim)
Editor : Azward Halim