TANA TIDUNG – Insiden speedboat Malinau Express VI yang bocor akibat menabrak batang kayu di Sungai Sesayap dua hari lalu jadi alarm bahaya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tana Tidung pun bergerak cepat dengan rencana mengirim surat resmi ke Balai Wilayah Sungai (BWS) agar penanganan sampah kayu di sungai segera ditangani serius.
Kepala DLH Tana Tidung, Mashuri, mengungkapkan kayu-kayu yang hanyut di Sungai Sesayap kerap mengancam keselamatan pelayaran.
Baca Juga: Regulasi Baru Dongkrak Penerimaan Pajak Daerah di Tana Tidung, Kabupaten Lebih Diuntungkan
Apalagi aliran sungai tersebut bukan hanya dilintasi warga Tana Tidung, tapi juga Malinau.
“Sebenarnya ini kewenangan BWS untuk mengoordinasikan pembersihan sungai. Kalau sebelumnya itu hanya inisiatif DLH Tana Tidung, sifatnya hanya memancing cuma belum maksimal karena terkendala alat dan anggaran,” ujarnya, Rabu (24/9/2025)
Mashuri menegaskan, sampah kayu yang hanyut merupakan akumulasi dari aktivitas masyarakat di hulu. Saat banjir atau air pasang, batang kayu ikut terbawa arus dan menumpuk di badan sungai.
Baca Juga: 554 PPPK Tana Tidung Resmi Terima SK, Wakil Bupati: Kinerja Dievaluasi Setiap Tahun
“Kalau tidak segera ditangani, potensi kecelakaan bisa terus berulang. Kita tidak ingin ada korban lagi,” tegasnya.
DLH Tana Tidung sendiri sebelumnya sempat menggelar aksi bersih-bersih di wilayah Sesayap Hilir bersama sejumlah stakeholder.
Namun kegiatan itu belum maksimal karena keterbatasan anggaran dan alat.
“Kita maunya rutin tiap tahun, tapi lagi-lagi terbentur anggaran,” kata Mashuri.
Baca Juga: Harga Gas LPG 3 Kg di Tana Lia Tembus Rp100 Ribu, Disperindagkop Tana Tidung: Itu Bukan Distribusi Resmi
Ia berharap, melalui koordinasi dengan BWS, upaya pembersihan sungai bisa lebih masif dan berkelanjutan bersama kabupaten lain.
"Karena sungai ini membentang hingga perbatasan Malaysia melintasi Malinau dan Nunukan," terangnya.
Menurut Mashuri, kayu sekecilpun bisa membuat kecelakaan apalagi besar.(ana)