TANA TIDUNG – Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di bidang numerasi.
Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Gasing Academy, lembaga pendidikan yang mempopulerkan metode matematika inovatif bernama Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan).
Kerja sama ini menyusul undangan resmi dari Gasing Academy kepada Pemkab Tana Tidung pada 4 Juli 2025 di Jakarta.
Undangan tersebut menjadi awal pembahasan rencana pelatihan guru dan siswa dengan metode yang telah terbukti efektif di berbagai daerah tertinggal di Indonesia.
Sekretaris Disdikbud Tana Tidung, Irdiansyah, menjelaskan bahwa metode Gasing adalah metode asli Indonesia yang dikembangkan oleh Prof.
Yohanes Surya, Ph.D., fisikawan sekaligus pendidik yang selama ini dikenal luas dalam membina siswa-siswa Indonesia hingga menjuarai olimpiade matematika tingkat dunia.
“Metode Gasing bukan sekadar teknik belajar cepat, tetapi pendekatan menyeluruh yang membentuk logika, rasa percaya diri, dan pola pikir siswa dan guru. Ini betul-betul transformasi cara pandang terhadap matematika,” ungkap Irdi saat ditemui media, Kamis (17/7/2025).
Irdi memaparkan bahwa hasil evaluasi numerasi siswa di Tana Tidung masih tertinggal cukup jauh dibandingkan rata-rata provinsi maupun nasional.
Di jenjang SD, nilai numerasi pada 2022 hanya mencapai 14,47, naik di 2023 menjadi 20,99, namun sedikit menurun di 2024 menjadi 20,76. Padahal, rata-rata provinsi Kalimantan Utara di tahun yang sama adalah 22,19, dan nasional 28,58.
Situasi lebih memprihatinkan terjadi di SMP, dengan nilai numerasi pada 2022 sebesar 6,29, sempat naik ke 11,78 di 2023, lalu menurun drastis ke 5,44 pada 2024. Angka ini sangat jauh dibandingkan rata-rata provinsi sebesar 16,4 dan nasional 21,09.
“Inilah mengapa kita butuh metode alternatif seperti Gasing. Karena pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan numerasi secara signifikan dalam waktu singkat,” jelas Irdi.
Yang membuat metode Gasing istimewa, lanjut Irdi, adalah karena Prof. Yohanes Surya menolak menjualnya ke negara lain, meskipun banyak negara tertarik.
“Beliau ingin memprioritaskan anak-anak Indonesia terlebih dahulu. Terutama anak-anak yang tinggal di daerah pinggiran, yang selama ini dianggap tertinggal, lambat berhitung, dan sulit memahami matematika,” katanya.
Metode Gasing telah diterapkan di lebih dari 110 daerah, melibatkan lebih dari 11.000 guru dan siswa, serta menghasilkan lebih dari 13.700 siswa yang kini pandai berhitung. Banyak dari mereka berasal dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Salah satu kisah inspiratif datang dari Papua, di mana seorang siswi kelas 6 SD mampu mengajar mata kuliah kalkulus kepada mahasiswa di Universitas Cenderawasih.
“Itu bukan cerita fiktif. Itu fakta. Karena dia belajar dengan metode Gasing, dan ini membuktikan bahwa anak Indonesia punya potensi besar jika diberi metode yang tepat,” tutur Irdi.
Kerja sama dengan Yayasan Gasing ini akan dilakukan dalam tiga fase pelatihan:
Fase A: Pelatihan 32 guru dan 64 siswa,Fase B: Pelatihan lanjutan untuk 72 guru dan 144 siswa dan Fase C (Pengimbasan): Hasil pelatihan akan disebarluaskan ke seluruh sekolah di Kabupaten Tana Tidung melalui skema pendampingan.
“Pelatihan akan dilatih langsung oleh trainer resmi Yayasan Gasing. Nantinya, metode ini akan dikembangkan secara masif melalui program pengimbasan agar semua sekolah merasakan manfaatnya,” jelas Irdi.
Sistem kerja sama tidak menggunakan MoU biasa, melainkan melalui mekanisme pengadaan jasa pendidikan lewat Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Irdi menekankan bahwa salah satu tujuan utama dari metode Gasing adalah mengubah mindset guru dan siswa.
“Selama ini matematika dianggap momok menakutkan. Sulit, tidak menyenangkan, dan hanya untuk anak-anak tertentu. Dengan Gasing, matematika menjadi menyenangkan, penuh semangat, dan bahkan bisa menjadi pelajaran favorit,” ucapnya.
“Bayangkan jika seluruh guru dan siswa kita merasa santai, rileks, dan senang saat belajar matematika. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi rasa takut. Hasilnya pasti luar biasa,” tambahnya optimis.
Irdi berharap, keberhasilan penerapan metode Gasing di Tana Tidung bisa menjadi ikon keberhasilan transformasi pendidikan daerah.
“Kalau ini berhasil, bukan tidak mungkin Tana Tidung bisa menjadi ikon dan contoh daerah lain. Kita ingin menunjukkan bahwa daerah kecil pun bisa menghasilkan generasi hebat,” tutupnya.
Program yang mendukung visi misi kepala daerah "KTT Unggul" ini akan diterapkan mulai tahun depan dan diharapkan bisa berjalan langsung dua fase.(ana)
Editor : Azwar Halim