Sejak satu tahun terakhir, Sesingal atau asesoris kepala khas Suku Tidung mulai familiar di mata warga Kaltara.
Sebab Sesingal menjadi salah satu asesoris lokal yang awalnya hanya diinstruksikan Gubernur Kaltara H. Zainal Arifin Paliwang untuk digunaan ASN di lingkungan Pemprov Kaltara, kabupaten/kota di hari hari tertentu.
SOPIAN HADI
ASBULLAH, staf Pemerintah Desa (Pemdes) Sengkong, Kecamatan Sesayap Hilir menangkap peluang tersebut dengan menjadikannya kerajinan Sesingal sebagai usaha sampingan.
Namun untuk memulai usahanya pada tahun 2021 lalu tidak mudah. Karena untuk memproduksi Sesingal tanpa belajar sangat sulit.
“Saya tidak belajar, otodidak saja,” singkat Asbullah, mengawali wawancara dengan wartawan Radar Tarakan di tempat tinggalnya kemarin (18/9).
Adapun awal pria yang akrab disapa Buy tertarik menciptakan Sesingal, setelah kerap melihat Sesingal yang diupload salah satu perajin Tarakan di media sosial Facebook.
Pria kelahiran Sengkong 14 April 1976 ini pun tertarik dan membelinya.
“Awalnya tidak ada niat mau bikin, tapi setelah saya perhatikan Sesingal yang saya beli, saya jadi tertarik membuatnya. Ya iseng iseng saja ngisi waktu luang,” jelas Buy yang mengaku dirinya sebagai pelopor perajin Sesingal di KTT.
Dari situ, bapak dua anak ini mulai mencoba membuka Sesingal secara perlahan untuk melihat cara melipat dan melilit kainnya.
Akhirnya mencoba membuat Sesingal sendiri.
Karena masih belajar, untuk menciptakan satu Sesingal membutuhkan waktu lama.
Bahkan untuk dua Sesingal menghabiskan waktu pagi hingga subuh.
Seiring berjalannya waktu dan keuletannya, permintaan Sesingal dari luar pun berdatangan.
Kini Buy pun bisa menghasilkan Sesinggal 5 sampai 7 dalam sehari.
“Saya produksi tergantung pesanan," ungkapnya.
Selain dari masyarakat KTT, pesanan produknya juga datang dari Tarakan, Nunukan, Bulungan dan Malinau.
Bahkan sampai ke Jakarta, sebab produknya juga kerap dijadikan oleh oleh atau cenderamata bagi warga di luar Kaltara termasuk Gubernur Kaltara.
“Walaupun tidak ada pesanan, saya tetap memproduksi, karena Sesingal saya juga ditaruh di showroom Dekranasda. Kadang kalau ada pameran di Jakarta, salah satu yang dibawa Sesingal saya,” ujarnya.
Sesingal yang dihasilkan suami dari Pitri Wulandari ini dihargai Rp 150 ribu.
Dari hasil penjualannya, ia mendapatkan keuntungan Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per gulung kain (bisa menghasilkan 27 Sesinggal).
Dari keuntungannya, ia dapat membeli mesin jahit portabel yang lebih besar dari sebelumnya seharga Rp 2,7 juta per unit.
“Pertama saya hanya menggunakan mesin jahit yang kecil itu, yang harganya hanya Rp 150 ribu. Tapi alhamdulillah, sekarang bisa beli yang besar,” ucapnya.
Hanya saja yang menjadi kendala bagi anak kelima dari enam bersaudara ini sulit mendapatkan bahan baku kain. Selama ini ia hanya mengandalkan pejual kain di Tarakan.
Sebab kain yang digunakan tidak sembarangan, tapi jenis tetoron.
”Tidak ada di KTT kain seperti ini,” ujarnya sembari menunjukkan kain yang ada didekatnya.
Karena itu ia sangat berharap kepada pemerintah khususnya instansi terkait untuk mencarikan solusinya agar produksi Sesingal terus berjalan tanpa putus.
“Kalau pesan di Tarakan kadang kosong, kalau sudah kosong saya setop lah ngerjain Sesingalnya, jadi sempat putus,” jelasnya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Disperindagkop yang telah memberikan modal usaha sehingga upayanya melestarikan budaya daerah dengan usaha Sesingalnya masih bertahan hingga saat ini.
“Biasanya pesanan itu kalau ramai pas ada pesta kawinan atau Irau, pesta budaya khususnya suku Tidung,” tutupnya. (**) Editor : Sopian Hadi