Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Mahalnya Harga Cabai Jelang Lebaran Juga Memiliki Andil, Tagihan Listrik Tinggi Memicu Inflasi

Radar Tarakan • Kamis, 10 April 2025 | 10:23 WIB

 

RAMA SIHOTANG/KP BERKONTRIBUSI SIGNIFIKAN: Mahalnya harga cabai di pasaran jadi salah satu penyebab inflasi bulanan di Kaltim.
RAMA SIHOTANG/KP BERKONTRIBUSI SIGNIFIKAN: Mahalnya harga cabai di pasaran jadi salah satu penyebab inflasi bulanan di Kaltim.

SAMARINDA - Kocek warga Kaltim tampaknya sedikit terkuras bulan lalu. Penyebabnya adalah pemakaian listrik yang tinggi hingga mahalnya harga cabai rawit. Kondisi itu mengakibatkan inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) yang cukup tinggi, mencapai 2,02 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat inflasi kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/y-to-d) hingga Maret 2025 berada di angka 0,75 persen.

“Tagihan listrik yang tinggi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil mencapai 1,34 persen,” papar Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.

Tak kalah pedas, harga cabai rawit juga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi. Yakni sebesar 0,16 persen. Selain dua komoditas tersebut, sejumlah keperluan pokok dan komoditas lain juga turut mendongkrak inflasi bulanan

“Di antaranya adalah ikan layang/ikan benggol (0,10 persen), udang basah (0,07 persen), bawang merah (0,06 persen), ikan tongkol/ikan ambu-ambu (0,05 persen), jagung manis dan cabai merah (masing-masing 0,03 persen),” lanjut dia.

Tak hanya itu, kelapa, wortel, kentang, telur ayam ras, bawang putih, terong, ikan gabus, santan jadi, ikan bandeng/ikan bolu, anggur, cumi-cumi, buncis, dan tahu mentah juga tercatat memberikan andil inflasi bulanan meski dalam skala yang lebih kecil, yakni masing-masing sebesar 0,01 hingga 0,02 persen.

“Di tengah dominasi kenaikan harga, ada beberapa komoditas yang justru memberikan andil deflasi atau penurunan harga secara bulanan. Harga daging ayam ras tercatat turun cukup signifikan dan memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen,” ungkap Yusniar.

Selain itu, bayam (0,03 persen), sawi hijau (0,02 persen), kacang panjang, tomat, kangkung, dan minuman ringan (masing-masing 0,01 persen) juga turut menahan laju inflasi.

Secara kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,64 persen.

Sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil mencapai 1,32 persen, didorong kuat oleh kenaikan tarif listrik.

Kelompok transportasi juga turut menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,04 persen. Terutama disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara (0,03 persen) dan angkutan laut (0,01 persen).

Di sisi lain, kelompok pakaian dan alas kaki serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga justru memberikan andil deflasi bulanan, masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen.

“Sementara kelompok kesehatan, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga, dan budaya, pendidikan, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran  memberikan andil inflasi bulanan yang relatif kecil (tidak siginifikan). Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen, terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dan sabun mandi,” jelas dia.

Kenaikan inflasi bulanan tersebut tentu menjadi perhatian bagi masyarakat Kaltim. Terutama dengan dominasi tagihan listrik yang tinggi dan harga keperluan pokok seperti cabai rawit.

Diharapkan pemerintah daerah bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan meringankan beban masyarakat.

BARANG MAHAL

Berdasarkan pantauan BPS Kaltim di empat kabupaten/kota, terjadi inflasi secara tahunan (year-on-year) yoy sebesar 1,36 persen.

“Itu berarti IHK (indeks harga konsumen) naik dari 106,28 pada Maret 2024 menjadi 107,73 pada Maret 2025,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana dalam rilis resminya Selasa (8/4).

Kenaikan harga secara umum tersebut dipicu oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 3,84 persen.

Menyusul di belakangnya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatatkan kenaikan paling tinggi, yakni 7,37 persen.

Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi antara lain pakaian dan alas kaki (0,42 persen), kesehatan (1,99 persen), dan transportasi (0,88 persen).

Lalu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (1,64 persen), pendidikan (1,39 persen), serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,11 persen).

Di sisi lain, ada beberapa kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan indeks. Sehingga sedikit menahan laju inflasi. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatatkan penurunan indeks paling signifikan.

“Yakni sebesar 4,06 persen. Selain itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga turun 0,40 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,64 persen,” lanjut dia.

Komoditas yang paling dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara tahunan pada Maret 2025 antara lain emas perhiasan dan cabai rawit.

Selain itu, kopi bubuk, udang basah, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), ikan layang/ikan benggol, bawang merah, nasi dengan lauk, air kemasan, sawi hijau, kelapa, ikan gabus, jagung manis, sepeda motor, daging ayam ras, kangkung, jeruk, semangka, dan mi juga turut menyumbang kenaikan harga.

“Sebaliknya, beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi atau penurunan harga secara tahunan. Di antaranya adalah tarif listrik, telepon seluler, sabun detergen bubuk, pengharum cucian/pelembut, sabun cair/cuci piring, detergen cair, dan pelicin/pewangi pakaian,” papar Yusniar.

Meski terjadi kenaikan harga, tingkat inflasi yoy Kaltim pada Maret 2025 sebesar 1,36 persen masih lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang mencapai 3,03 persen.

“Secara regional, dari empat kabupaten/kota yang dipantau di Kaltim. Semuanya mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Berau sebesar 1,71 persen dengan IHK 108,37. Sementara inflasi terendah terjadi di Penajam Paser Utara sebesar 1,19 persen dengan IHK 108,03,” tutupnya. (kpg/jnr)

Editor : Azwar Halim
#samarinda #cabai rawit #inflasi #tagihan listrik