SAMARINDA - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim gencar mengampanyekan pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKKH Kaltim, drh. Diah Anggraini, mengimbau peternak untuk segera melaporkan jika menemukan gejala PMK seperti luka di mulut dan kuku ternak ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan). Laporan cepat sangat krusial untuk penanganan efektif.
Meski PMK dapat disembuhkan, penyakit tersebut berpotensi menurunkan produktivitas ternak, terutama sapi perah. Dia menegaskan bahwa PMK bukan penyakit zoonosis, artinya tidak menular ke manusia.
Namun, penyakit ini sangat menular antar hewan dengan daya tular 100 persen, dan dapat menyebabkan kematian pada anak ternak hingga 50 persen.
"Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat pula penanganan dilakukan, sehingga dampak pada produktivitas dan reproduksi ternak dapat diminimalisasi," imbuhnya.
Mengingat sebagian besar kebutuhan ternak Kaltim berasal dari luar daerah yakni 70 persen, pengawasan lalu lintas hewan terus diperketat. Baik pemasukan hewan hidup maupun daging beku. Masyarakat pun didorong berperan aktif sebagai pelapor jika menemukan tanda-tanda PMK.
Berkat upaya bersama, kasus PMK di Kaltim berhasil ditekan sejak Oktober 2024. Hingga saat ini, belum ada laporan baru terkait penyakit tersebut.
Namun, ancaman penyakit lain seperti Lumpy Skin Disease (LSD) tetap menjadi perhatian. Sebanyak 50 ekor sapi di Kaltim terjangkit LSD pada Januari 2025. Kasus terbanyak ditemukan di Paser, Kutai Kartanegara, dan Samarinda.
Berdasarkan data, kasus di Paser yakni 41 ekor sapi. Dari jumlah tersebut, 39 ekor berhasil sembuh.
Sementara satu ekor mati, dan satu lagi dipotong. Sedangkan di Kutai Kartanegara, ditemukan empat kasus, di mana seluruh sapi terjangkit dipotong. Sementara Samarinda, tercatat lima kasus dengan satu ekor sembuh dan empat ekor dipotong.
Untuk mengantisipasi penyebaran LSD lebih luas, DPKH telah melakukan berbagai upaya seperti vaksinasi, surveilans, dan sosialisasi kepada peternak.
Termasuk pada 13 Januari lalu, dinas terkait adakan Kick Off Pengendalian dan Penanggulangan PMK melalui Biosecurity di Pasar dan Penampungan Hewan, Jalan Poros Samarinda-Bontang.
"Sebagai langkah antisipasi menjelang Ramadan dan Idul Fitri, DPKH akan menurunkan tim ke seluruh kabupaten/kota, untuk memonitor gejala klinis pada hewan ternak. Harapannya, PMK dan LSD dapat terkendali sebelum momentum Idulfitri dan Iduladha," pungkasnya. (rdh/jnr)
Editor : Azwar Halim