KEBIJAKAN menurunkan harga tiket pesawat selama periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 tidak hanya berimplikasi pada transportasi penumpang.
Pelaku industri logistik memproyeksikan aturan tersebut akan ikut mendatangkan benefit bagi sektor logistik, terutama yang berkaitan dengan pengiriman kargo udara.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan mengatakan, kebijakan penurunan harga tiket periode Nataru sangat tepat. Hal itu akan mendorong mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional.
”Ini adalah kebijakan yang sangat tepat untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan di sektor pariwisata, logistik, dan ekonomi nasional secara keseluruhan,” ujar Akbar baru-baru ini.
Bagi sektor logistik, kebijakan itu dapat mempercepat pengiriman barang melalui kargo udara yang bakal mengalami lonjakan permintaan selama periode Nataru.
”Dengan harga tiket pesawat yang lebih terjangkau, biaya operasional pengiriman barang melalui jalur udara dapat lebih efisien. Ini akan mendorong kelancaran distribusi barang, khususnya untuk kebutuhan mendesak selama libur akhir tahun,” urai Akbar.
Menurut dia, pengurangan biaya logistik udara dapat membantu pelaku usaha dalam menjaga stabilitas harga barang di pasar sehingga memberi manfaat langsung kepada konsumen.
Kebijakan itu tidak hanya menguntungkan masyarakat dan pelaku usaha, tetapi juga memberikan efek ganda bagi perekonomian nasional.
”Dengan tingginya mobilitas masyarakat dan wisatawan, pemerintah daerah dapat meraup pendapatan lebih besar dari sektor pariwisata dan jasa terkait,” urai Akbar.
Selain itu, Akbar menilai, lonjakan aktivitas perjalanan akan mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah yang menyediakan barang dan jasa di sekitar destinasi wisata.
Dia optimistis tingginya aktivitas pengiriman selama Nataru akan memacu inovasi dan efisiensi di sektor logistik udara.
Terkait tantangan sektor logistik tahun depan, Ketua Regional Asia Pasifik International Federation of Freight Forwarders Association (FIATA) Yukki Nugrahawan Hanafi mengakui adanya potensi disrupsi supply chain global, termasuk pergeseran pusat produksi dan logistik.
Negara-negara ASEAN mulai dilirik sebagai alternatif pusat produksi untuk pasar global.
”Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN memiliki peluang besar. Ketika dunia melihat ASEAN sebagai pusat ekonomi baru, kita harus memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya,” kata Yukki.
Yukki juga berharap agar perusahaan logistik nasional tidak perlu khawatir berlebihan, tetapi justru harus memanfaatkan peluang yang ada. Perusahaan logistik Indonesia bisa memperbesar pangsa pasarnya sebagai dampak dari isu geopolitik dan perang dagang global.
Apalagi, isu perang dagang akan mendorong investasi asing di Indonesia, meningkatkan produksi nasional, dan akan mendorong pertumbuhan volume ekspor.
”Peningkatan permintaan terhadap produk alternatif dari Indonesia dapat mendorong volume ekspor yang pada gilirannya akan menguntungkan perusahaan logistik domestik,” tandasnya. (agf/fal/jpg/ndu/jnr)
Editor : Azwar Halim