SAMARINDA – Sektor pertambangan dan penggalian diyakini masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini.
Sebab dari sisi pengeluaran, pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) konsisten menjadi penopang utama pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Kaltim.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, Kutai Timur, Kutai Kartanegara dan Balikpapan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2023 lalu.
Sementara dari sisi sektor usaha, pertambangan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kontribusi sebesar 38 persen dari angka pertumbuhan ekonomi Bumi Etam.
Secara volume, Josua menyampaikan ekspor batu bara masih mengalami kenaikan pada tahun ini, hingga 8,7 persen.
Namun secara nilai, ekspor emas hitam tersebut berpotensi turun hingga 19 persen dibandingkan tahun lalu. Hal itu terjadi akibat penurunan harga.
Pada September lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan sebesar USD 125,15 per ton.
Dalam paparannya pada acara Temu Responden Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim baru-baru ini, dia juga menyebut jika Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor utama.
Namun demikian, nilai ekspor ke Negara Tirai Bambu itu masih mengalami kontraksi pada 2024. Sementara ekspor ke India, sebagai negara tujuan ekspor terbesar kedua tumbuh positif. Begitu juga ke Vietnam.
"Dari data Januari-Juli 2024, ekspor ke Tiongkok turun 10,2 persen. Begitu juga ke Filipina sebagai negara tujuan terbesar ketiga juga turun 27,4 persen. India naik 8 persen," ujarnya.
Penurunan terdalam yakni ke negara Afrika hingga 63,8 persen, kemudian Belanda turun 55,6 persen.
Kenaikan ekspor tertinggi semester I 2024 ke Irak mencapai 281,2 persen, disusul Australia & Oceania dengan 159,2 persen. Secara total, dari 20 negara tujuan, sepanjang Januari-Juli 2024 alami kontraksi hingga 14,3 persen.
Lebih lanjut, pekerja di Kaltim paling banyak bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Namun, sektor dengan produktivitas tertinggi terdapat pada sektor real estate, pertambangan serta informasi dan komunikasi.
Sedangkan untuk realisasi investasi, masih tumbuh stabil. Terutama investasi domestik. Josua menjelaskan, industri batu bara masih menjadi sektor utama penerima investasi di Kaltim.
"Sektor pertambangan cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan provinsi lain pada 2023 lalu, meski secara tren masih relatif tinggi," ujarnya.
Besarnya investasi pada sektor tersebut tidak mampu mendorong pertumbuhan yang relatif tinggi dalam lima tahun terakhir.
Sehingga, menarik investasi pada sektor-sektor yang memiliki multiplier tinggi terhadap perekonomian Kaltim menjadi salah satu cara untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan.
"Sektor terkait pertambangan dan agrikultur masih menjadi penarik investasi di Kaltim. Lebih lanjut lagi, Kutim dan Balikpapan masih menjadi destinasi utama investasi. Pembangunan IKN, membawa prospek pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aktivitas konstruksi dan investasi,” pungkasnya. (ndu/jnr)
Editor : Azwar Halim