Mengunyah es batu kerap menjadi kebiasaan bagi sebagian orang, terutama saat cuaca panas. Sensasi dingin dan segar yang dihasilkan membuat aktivitas ini terasa menyenangkan. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi dan terkadang berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu.
Mengutip Mayo Clinic, kebiasaan mengunyah es batu secara berulang dikenal sebagai pagophagia. Kondisi ini merupakan salah satu bentuk pica, yakni dorongan untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan dan tidak memiliki nilai gizi, seperti kertas, tanah, atau kapur.
Pagophagia dapat berkaitan dengan kekurangan zat besi, baik yang sudah menyebabkan anemia maupun yang belum. Dalam kondisi tertentu, dorongan mengunyah es juga dapat berkaitan dengan faktor emosional atau kondisi psikologis tertentu.
Selain kemungkinan penyebab tersebut, kebiasaan menggigit es batu juga perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan gigi dan rahang.
Mengutip Cleveland Clinic, berikut enam risiko yang perlu diketahui.
1. Lapisan Pelindung Gigi Bisa Retak
Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya. Meski dikenal sebagai jaringan terkeras dalam tubuh manusia, enamel tetap dapat mengalami kerusakan akibat tekanan berulang.
Menggigit es batu yang keras dapat meningkatkan risiko retakan pada lapisan tersebut. Berbeda dengan jaringan tubuh lainnya, enamel yang sudah hilang tidak dapat tumbuh kembali secara alami.
Karena itu, menjaga keutuhan enamel menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan kesehatan gigi dalam jangka panjang.
2. Gigi Menjadi Lebih Sensitif
Kebiasaan mengunyah es batu dapat memperburuk kerusakan enamel yang sudah terjadi. Ketika lapisan pelindung gigi menipis atau mengalami kerusakan, bagian dalam gigi menjadi lebih rentan terhadap rangsangan.
Akibatnya, seseorang bisa merasakan ngilu saat mengonsumsi makanan atau minuman panas, dingin, maupun manis. Jika sensitivitas berlangsung terus-menerus, pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
3. Gigi Berisiko Retak hingga Patah
Tekstur es batu yang keras memberikan tekanan cukup besar ketika digigit. Apabila dilakukan berulang kali, tekanan tersebut dapat menyebabkan gigi retak, terkikis, atau bahkan patah.
Risiko ini bisa lebih tinggi pada gigi yang sebelumnya sudah mengalami kerusakan, memiliki tambalan besar, atau menggunakan mahkota gigi.
Untuk mengurangi kemungkinan cedera, sebaiknya hindari menggigit es batu secara langsung.
4. Tambalan dan Restorasi Gigi Bisa Rusak
Tidak hanya gigi asli, bahan restorasi gigi juga dapat terdampak akibat kebiasaan mengunyah benda keras.
Tekanan saat menghancurkan es batu dapat menyebabkan tambalan, veneer, atau mahkota gigi mengalami keretakan maupun terlepas. Jika hal ini terjadi, seseorang mungkin memerlukan pemeriksaan dan perawatan ulang oleh dokter gigi.
Bagi orang yang pernah menjalani perawatan gigi, menghindari kebiasaan tersebut menjadi langkah pencegahan yang penting.
5. Otot Rahang Mengalami Nyeri
Menghancurkan es batu membutuhkan tenaga dari otot rahang. Ketika aktivitas ini dilakukan berulang kali, otot dan sendi rahang dapat mengalami tekanan berlebihan.
Dampaknya dapat berupa rasa pegal, nyeri, atau ketidaknyamanan saat membuka mulut dan mengunyah makanan.
Mengurangi kebiasaan mengunyah benda keras dapat membantu mencegah tekanan berlebih pada rahang.
6. Kawat Gigi Berisiko Mengalami Kerusakan
Bagi pengguna kawat gigi, mengunyah es batu dapat menimbulkan masalah tambahan. Tekanan yang dihasilkan ketika menggigit benda keras berpotensi membuat braket terlepas atau merusak komponen ortodontik lainnya.
Kerusakan tersebut dapat mengganggu proses perawatan dan membuat pengguna perlu mengunjungi dokter gigi untuk memperbaikinya.
Oleh sebab itu, pengguna kawat gigi dianjurkan menghindari makanan atau benda yang terlalu keras, termasuk es batu.
Kapan Kebiasaan Mengunyah Es Batu Perlu Diwaspadai?
Mengunyah es batu sesekali tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kesehatan. Namun, jika keinginan tersebut muncul terus-menerus, sulit dihentikan, atau terasa sangat kuat, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan.
Dorongan yang menetap dapat menjadi salah satu tanda kekurangan zat besi. Dokter dapat melakukan pemeriksaan dan, jika diperlukan, tes darah untuk mengetahui apakah terdapat anemia atau kekurangan zat besi.
Hindari mengonsumsi suplemen zat besi tanpa mengetahui kebutuhan tubuh melalui pemeriksaan yang sesuai.
Untuk menjaga kesehatan gigi, pilihlah es yang dibiarkan mencair di mulut daripada menggigitnya secara langsung. Jika muncul rasa ngilu, nyeri rahang, atau gigi terasa retak, segera konsultasikan dengan dokter gigi.
Dengan mengenali penyebab dan risikonya sejak dini, kebiasaan yang terlihat sepele ini dapat ditangani sebelum menimbulkan masalah yang lebih serius.
Editor : Rahul