FENOMENA child grooming kembali menjadi perbincangan publik seiring maraknya diskusi di media sosial. Terutama berkaitan dengan e-book yang dirilis aktris Aurelie Moeremans, Broken Strings, yang menceritakan pengalaman pribadinya. Netizen Indonesia pun ramai membahasnya, bahkan sampai di tahap menyebutkan public figure lain sebagai terduga pelakunya.
Lalu, apa sebenarya child grooming itu sendiri? Dalam laman resminya, Bravehearts salah satu lembaga perlindungan anak internasional memaparkan penjelasan tentang fenomena kekerasan terhadap anak di bawah umur itu.
Braveharts menyebut, child grooming adalah proses manipulatif yang dilakukan secara bertahap oleh pelaku, yang umumnya orang dewasa, untuk membangun hubungan emosional dengan anak. Tujuan akhirnya Adalah eksploitasi, umumnya seksual ataupun emosional.
“Proses ini umumnya jarang berlangsung secara instan, dan sering kali dibungkus dalam bentuk perhatian, dukungan emosional, atau relasi yang tampak aman dan wajar,” tulis Bravehearts, yang berbasis di Australia
Karena sifatnya yang bertahap, child grooming kerap luput dikenali. Bahkan oleh orang-orang terdekat korban, ataupun korban itu sendiri.
Bravehearts yang sudah menjalani upaya perlindungan sejak 1997 pun meriset perlindungan anak, child grooming umumnya mencakup beberapa pola berikut:
- Membangun kepercayaan secara intens
Pelaku menunjukkan perhatian berlebihan, empati, atau sikap “paling mengerti” kondisi anak. Anak dibuat merasa didengarkan dan divalidasi secara emosional. - Pendekatan personal dan berulang
Komunikasi dilakukan secara rutin dan semakin intens, baik lewat pesan pribadi, media sosial, gim daring, maupun pertemuan langsung. - Menciptakan hubungan yang terasa spesial
Pelaku membuat anak merasa memiliki ikatan khusus, berbeda dari hubungan dengan orang lain, misalnya dengan kalimat seperti “kamu beda”, “cuma aku yang ngerti kamu”. - Isolasi emosional
Anak perlahan dijauhkan secara psikologis dari orang tua, keluarga, atau teman, dengan cara menanamkan rasa tidak percaya pada lingkungan sekitar atau mendorong hubungan yang bersifat rahasia. - Normalisasi batas yang tidak wajar
Pelaku secara perlahan menggeser batasan, baik dalam bentuk topik pembicaraan, candaan, maupun interaksi fisik atau visual, agar anak terbiasa dan tidak merasa itu salah. - Pemanfaatan ketimpangan kuasa
Pelaku memanfaatkan usia, pengalaman, status, atau posisi tertentu untuk mengontrol keputusan dan emosi anak. - Eksploitasi
Tahap akhir, yang sering kali berupa pelecehan atau penyalahgunaan seksual, meskipun tidak selalu langsung terjadi dan bisa muncul setelah proses panjang.
SULIT DIDETEKSI
Salah satu tantangan terbesar dalam kasus child grooming adalah tidak adanya tanda eksplisit di awal. Banyak perilaku pelaku terlihat seperti kepedulian biasa, sehingga kerap dianggap tidak berbahaya. Padahal, yang membedakan grooming dari interaksi normal adalah niat, pola berulang, dan arah relasi yang semakin tidak seimbang.
Child grooming bukan soal satu pesan, satu percakapan, atau satu tindakan. Ia adalah pola pendekatan yang sistematis dan manipulatif, yang bertujuan menempatkan anak dalam posisi rentan. Memahami item-item di atas penting agar publik dapat lebih peka terhadap tanda awal, tanpa terburu-buru menghakimi, tetapi juga tidak mengabaikan risiko yang nyata. (man)
Editor : Nur Rahman