Dari Komoditas ke Industri: Jalan Panjang Kaltara Naik Kelas

Radar Tarakan • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 02:52 WIB
Riza A. Wijaya, Asisten Analis di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara. FOTO: RADAR TARAKAN
Riza A. Wijaya, Asisten Analis di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara. FOTO: RADAR TARAKAN

Oleh: Riza A. Wijaya

Asisten Analis di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara

 

SELAMA bertahun-tahun, wajah ekonomi Kalimantan Utara sangat lekat dengan satu kata: komoditas. Batu bara, hasil hutan, perkebunan, perikanan, hingga mineral menjadi sumber penting aktivitas ekonomi daerah. Kekayaan alam menjadi modal utama. Namun, ada pertanyaan yang semakin relevan: kapan Kaltara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai tempat di mana bahan mentah tersebut diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya.

Berdasarkan publikasi AlamTri, kehadiran PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Bulungan menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan hilirisasi Kaltara. Fasilitas pengolahan aluminium tersebut telah memasuki fase pertama produksi dan mulai melakukan ekspor aluminium primer pada Juni 2026. Data perdagangan yang dikutip Reuters mencatat pengiriman sekitar 31.494 ton aluminium primer ke Amerika Serikat dan 3.569 ton ke Korea Selatan. Untuk 2026, perusahaan menargetkan penjualan aluminium sekitar 350 ribu ton. Ke depan, volume ekspor berpotensi terus meningkat seiring dengan upaya mencapai kapasitas produksi fase pertama sebesar 500 ribu ton per tahun. Pasar ekspor juga berpeluang semakin luas, tidak hanya ke Amerika Serikat dan Korea Selatan, tetapi mencakup Turki, Malaysia, serta sejumlah negara di Eropa.

Angka tersebut bukan sekadar cerita tentang satu perusahaan yang mulai berproduksi. Bagi Kaltara, ini dapat menjadi awal perubahan struktur ekonomi.

Data BPS menunjukkan bahwa pada 2025 Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian masih menghasilkan sekitar Rp41,87 triliun PDRB atas dasar harga berlaku, sedangkan Industri Pengolahan sekitar Rp13,66 triliun. Artinya, pertambangan masih jauh lebih besar. Namun, arah perubahan mulai terlihat. Bank Indonesia pada Laporan Perekonomiannya memperkirakan jika pertumbuhan ekonomi Kaltara 2026 akan berada pada kisaran 6,2–6,7 persen, antara lain didorong akselerasi Industri Pengolahan seiring masuknya KAI ke fase produksi komersial dan ekspor aluminium, serta meningkatnya produksi pulp di Tarakan.

Di sinilah makna hilirisasi menjadi lebih konkret.

Bayangkan Kaltara selama ini seperti menjual buah dari kebun. Nilai ekonominya tentu ada, tetapi sebagian besar nilai tambah justru muncul setelah buah tersebut diolah menjadi jus, selai, atau produk lainnya. Hilirisasi berusaha membawa sebagian proses tersebut lebih dekat ke sumber bahan baku.

Aluminium memberikan contoh yang menarik. Bauksit dan energi tidak berhenti pada aktivitas ekstraksi. Keduanya masuk ke rangkaian proses industri hingga menghasilkan aluminium yang dapat diperdagangkan ke pasar global. Ketika proses tersebut berlangsung di Kaltara, nilai tambah, kebutuhan tenaga kerja, jasa logistik, perdagangan, konstruksi, hingga aktivitas pendukung industri berpotensi ikut tumbuh.

Namun, mengatakan bahwa kehadiran KAI otomatis akan mengubah struktur ekonomi Kaltara tentu terlalu dini.

Industri pengolahan memiliki tantangannya sendiri. Industri berskala besar membutuhkan energi yang andal, infrastruktur logistik, kepastian regulasi, tenaga kerja terampil, serta rantai pasok yang efisien. Bahkan ekspor perdana KAI menunjukkan bahwa perjalanan dari pembangunan smelter menuju produksi stabil masih merupakan proses bertahap. Ekspor membuktikan aktivitas komersial telah dimulai, tetapi belum berarti struktur ekonomi daerah seketika berubah.

Karena itu, pergeseran dari pertambangan menuju industri pengolahan sebaiknya dilihat sebagai proses, bukan pergantian seketika.

Kaltara juga tidak perlu memilih antara pertambangan dan industri pengolahan. Tantangannya justru mengintegrasikan keduanya dalam satu rantai ekonomi yang saling menguatkan. Smelter aluminium dan pembangkit listrik membutuhkan pasokan energi yang andal, termasuk batu bara sebagai salah satu sumber energi. Di sinilah sektor pertambangan dapat menjadi bagian dari fondasi industri pengolahan. Ketika bahan baku, energi, industri, logistik, hingga jasa dan UMKM terhubung dalam satu ekosistem, nilai ekonomi yang tercipta tidak berhenti pada aktivitas penambangan, tetapi terus berlanjut hingga proses pengolahan dan distribusi produk bernilai tambah.

Jika mata rantai tersebut tersambung, pertumbuhan ekonomi tidak berhenti ketika komoditas keluar dari tambang atau pelabuhan.

Inilah jalan panjang Kaltara untuk naik kelas. Bukan sekadar menggali lebih banyak, tetapi mengolah lebih banyak. Bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi memperbesar nilai yang tinggal di daerah.

Ke depan, pangsa Lapangan Usaha Industri Pengolahan memang berpeluang semakin besar dan secara bertahap mengurangi dominasi pertambangan dalam struktur ekonomi Kaltara. Tetapi perubahan tersebut harus ditopang oleh lebih banyak investasi pengolahan, konektivitas, energi, SDM, dan keterlibatan pelaku usaha lokal.

KAI boleh menjadi salah satu lokomotifnya. Namun, agar perjalanan benar-benar sampai ke tujuan, Kaltara membutuhkan lebih banyak gerbong.

Sebab, naik kelas bukan ketika sumber daya alam semakin banyak dikeluarkan dari bumi. Naik kelas adalah ketika semakin banyak nilai dari sumber daya tersebut tercipta sebelum meninggalkan Kaltara. (***)

 

Editor : Azward Halim
KIHI Tanah Kuning Mangkupadi kipi Bank Indoensia