Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

MENYELAMATKAN BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BERMUTU BAGI GENERASI Z

Radar Tarakan • Senin, 15 Juni 2026 | 14:45 WIB
Oleh: Dr. Marso, S.E., M.Si
Oleh: Dr. Marso, S.E., M.Si

Sejak kemerdekaannya, Indonesia menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Para pendiri bangsa menyadari bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga kemampuan bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri. Karena itu, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa salah satu tujuan negara adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Amanat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan instrumen strategis untuk mewujudkan cita-cita nasional.

Pendidikan yang bermutu menjadi kunci dalam mencapai tujuan negara, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Seluruh tujuan tersebut bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki bangsa. Negara yang memiliki manusia unggul akan lebih mampu menciptakan kesejahteraan, menjaga persatuan, serta beradaptasi terhadap perubahan global.

Dalam perspektif teori Human Capital, yang diperkenalkan oleh Theodore Schultz pada awal 1960-an, pendidikan merupakan investasi yang meningkatkan kualitas manusia, produktivitas ekonomi, dan daya saing bangsa. Namun, tantangan pendidikan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu, terutama dalam mendidik Generasi Z, yaitu generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Generasi Z hidup berdampingan dengan internet, media sosial, dan telepon pintar sejak usia dini. Mereka memiliki akses yang hampir tanpa batas terhadap berbagai sumber informasi. Kondisi ini membuka peluang besar bagi proses pembelajaran karena pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat dan mudah. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan baru.

Salah satu tantangan terbesar adalah banjir informasi. Setiap hari Generasi Z menerima ribuan pesan, berita, video, dan berbagai konten digital. Tidak semua informasi tersebut benar dan bermanfaat. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan berbagai konten yang menyesatkan beredar dengan sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan untuk “naik kelas dan dapat ijazah”, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kemampuan memilah informasi secara bijaksana.

Tantangan berikutnya adalah menurunnya kemampuan fokus. Pola konsumsi informasi yang serba cepat membuat sebagian generasi muda terbiasa menerima informasi singkat dan instan. Akibatnya, mereka sering mengalami kesulitan ketika harus membaca teks yang panjang, memahami konsep yang kompleks, atau melakukan refleksi mendalam. Oleh karena itu, sistem pembelajaran perlu beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi secara kreatif tanpa menghilangkan tujuan utama pendidikan, yaitu membangun kemampuan berpikir yang mendalam dan sistematis.

Media sosial juga memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap kesuksesan. Popularitas sering kali dianggap lebih penting daripada kompetensi. Jumlah pengikut, tayangan, atau tingkat viralitas kadang dipersepsikan sebagai ukuran keberhasilan yang lebih menarik dibandingkan prestasi akademik atau kontribusi nyata bagi masyarakat. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat, kondisi ini dapat melahirkan generasi yang lebih mengejar pengakuan sesaat daripada pencapaian yang bermakna.

Selain itu, Generasi Z menghadapi tekanan psikologis yang semakin besar. Kompetisi akademik, tuntutan sosial, serta budaya membandingkan diri melalui media sosial dapat memicu kecemasan, stres, bahkan menurunkan rasa percaya diri. Karena itu, pendidikan yang bermutu harus memperhatikan kesehatan mental peserta didik. Oleh karena itu, institusi pendidikan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang aman untuk bertumbuh, berekspresi, dan mengembangkan potensi diri.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, pendidikan karakter menjadi semakin penting. Bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang berintegritas. Berbagai persoalan bangsa seperti korupsi, intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, dan rendahnya kepedulian sosial menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup. Pendidikan harus menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, toleransi, gotong royong, dan cinta tanah air.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman moral kehidupan berbangsa. Pendidikan yang bermutu harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

Selain membangun karakter, pendidikan juga harus membekali Generasi Z dengan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Di masa depan, banyak pekerjaan akan berubah akibat perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi. Namun, kemampuan manusia untuk berinovasi, berempati, bekerja sama, dan mengambil keputusan yang bermoral akan tetap menjadi keunggulan yang tidak tergantikan.

Keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua berperan dalam membentuk karakter dan mengawasi penggunaan teknologi. Guru harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu memahami karakteristik generasi digital. Pemerintah berkewajiban menyediakan akses pendidikan yang berkualitas dan merata, sementara masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung budaya belajar.

Pada akhirnya, menyelamatkan bangsa melalui pendidikan yang bermutu berarti mempersiapkan Generasi Z menjadi generasi yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati dirinya. Pendidikan harus mengubah derasnya arus informasi menjadi pengetahuan, teknologi menjadi sarana pemberdayaan, dan tantangan global menjadi peluang menuju kesejahteraan. Apabila pendidikan berhasil melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan bertanggung jawab, maka amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan terwujud. Melalui pendidikan yang bermutu, Indonesia tidak hanya membangun sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga membangun peradaban yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.

Editor : Rahul
#bangsa #generazi z #pendidikan #opini