Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Keutamaan Salat Berjamaah

Azwar Halim • Kamis, 20 April 2023 | 05:37 WIB
Bimas Islam Kantor Kemenag Tarakan, Herman Aisa Pabittei, S.Ag
Bimas Islam Kantor Kemenag Tarakan, Herman Aisa Pabittei, S.Ag
Oleh: Herman Aisa Pabittei, S.Ag

YANG dimaksud dengan salat berjamaah adalah salat bersama yang sekurang-kurangnya terdiri dari dua orang yaitu seorang imam dan makmum, dimana seorang makmum harus mengikuti perbuatan imam dan tidak boleh mendahului setiap gerakannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman yang artinya “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (QS. An- Nisa’ : 102).

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam pernah bersabda yang artinya “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama’ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka. (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun salat yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjama’ah adalah salat wajib (seperti salat 5 waktu, dan salat Jumat) maupun salat sunnah (Salat Hari Raya, Salat Tarawih, Salat Witir, Salat Istisqa’, Salat Gerhana, dan Sholat Jenazah).

Para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimanakah hukum melaksanakan salat secara berjama’ah, berikut ini  pendapat dari para ulama tersebut. Sebagian ulama dari madzab Syafi’i dan Maliki menyatakan bahwa hukum dari salat berjama’ah itu adalah fardhu kifayah, sedangkan sebagian ulama yang lainnya menyatakan bahwa hukum salat berjama’ah adalah Sunnah Muakkad.

Para ulama dari Madzab Hanafi menyatakan bahwa hukum salat berjama’ah itu adalah wajib. Sedangkan menurut para ulama dari Madzab Hambali menyatakan bahwa hukum salat berjama’ah adalah Fardhu Ain bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh dan akan mengakibatkan dosa apabila mereka meninggalkannya.

Akan tetapi pada dasarnya berjama’ah bukanlah termasuk dalam syarat sahnya salat, sehingga apabila salat dikerjakan sendirian salat tersebut akan tetap sah. Berikut ini keutamaan dari salat berjamaah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melipatgandakan pahala bagi mereka yang melaksanakan salat secara berjamaah.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam pernah bersabda yang artinya “Salat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding salatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan salat berjamaah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan salat, maka malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat salatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan salat selama dia menanti pelaksanaan salat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadist yang lain, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya “Salat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding salat sendirian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Manusia paling besar pahalanya dalam salat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu salat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” (HR. Muslim)

Mereka akan terhindar dari gangguan syaitan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam yang artinya “Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan salat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan syaitan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian (salat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Daud dan  An-Nasai)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menaunginya di hari kiamat kelak. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya, seseorang yang hatinya bergantung di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkumpul dan berpisah karena-Nya, seseorang yang diinginkan (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, maka ia mengatakan,’ Sesungguhnya aku takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala’, seseorang yang bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di nafkahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam keadaan sepi (sendiri) lalu kedua matanya berlinang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghapuskan kesalahan-kesalahan bagi mereka yang salat berjama’ah serta akan meninggikan derajat mereka. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya “Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah melaksanakan salat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala).” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan surga bagi mereka yang salat secara berjamaah. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya “Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (HR. Abu Dawud)

Bagi mereka yang melaksanakan salat berjamaah di masjid merupakan tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan selalu memuliakan tamu-tamu-Nya.

Barang siapa yang berwudhu di rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi masjid, maka ia adalah tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan siapa yang di kunjunginya wajib memuliakan tamunya.” (HR. ath Thabrani)

Di dalam Kitab Az-Zuhd, Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah meriwayatkan dari ‘Amr bin Maimun, bahwasanya ia mengatakan, “Para sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatakan, ’Rumah Allah di bumi adalah masjid, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di dalamnya”

Salat berjamaah dapat menghindarkan seseorang dari sifat nifak. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam pernah bersabda yang artinya “Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kelak (dalam keadaan) sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia memelihara salat setiap kali ia mendengar panggilan salat (Adzan). Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensyariatkan sunnanal huda (jalan-jalan petunjuk) dan sesungguhnya salat berjamaah merupakan bagian dari sunnanil huda. Apabila kamu salat sendirian di rumahmu seperti kebiasaan salat yang dilakukan oleh seorang mukhallif (yang meninggalkan salat berjama`ah) ini, berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, apabila kamu telah meninggalkan sunnah nabimu, berarti kamu telah tersesat. Tiada seorang pun yang bersuci (berwudhu`) dengan sebaik-baiknya, kemudian dia pergi menuju salah satu masjid melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencatat baginya untuk setiap langkah yang diayunkannya satu kebajikan dan diangkat derajatnya satu tingkat dan dihapuskan baginya satu dosa. Sesungguhnya kami berpendapat, tiada seorang pun yang meninggalkan salat berjama`ah melainkan seorang munafik yang jelas-jelas nifak. Dan sesungguhnya pada masa dahulu ada seorang pria yang datang untuk salat berjama`ah dengan dipapah oleh dua orang laki-laki sampai ia didirikan di dalam barisan shaff salat berjama`ah.” (HR. Muslim). Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish-Shawab. (*/Pelaksana Penyusun Bahan Penerbitan Dakwah Seksi Bimas Islam Kemenag Tarakan)


Baca berita selengkapnya di Koran Radar Tarakan atau berlangganan melalui Aplikasi Radar Tarakan yang bisa di download di :

Photo
Photo


Editor : Azwar Halim
#tausiah #ramadan