0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Potensi Besar Anyaman Rotan Sebuku, Siap Tembus Pasar Ekonomi Kreatif

Asrullah RT • Minggu, 28 Juni 2026 | 20:02 WIB
EKONOMI KREATIF : Hasil kerajinan anyaman rotan masyarakat Desa Kunyit dan Desa Sujau, Kecamatan Sebuku seperti, tikar, keranjang, kipas, tas yang berpeluang dikembangkan menjadi komoditas berdaya saing di pasar yang lebih luas.
EKONOMI KREATIF : Hasil kerajinan anyaman rotan masyarakat Desa Kunyit dan Desa Sujau, Kecamatan Sebuku seperti, tikar, keranjang, kipas, tas yang berpeluang dikembangkan menjadi komoditas berdaya saing di pasar yang lebih luas.

NUNUKAN - Kerajinan anyaman rotan yang diwariskan secara turun-temurun masyarakat Desa Kunyit dan Desa Sujau, Kecamatan Sebuku, dinilai memiliki potensi besar menjadi produk ekonomi kreatif unggulan Nunukan. Berbekal keterampilan tradisional yang masih terjaga, masyarakat mampu menghasilkan beragam produk bernilai ekonomi. Seperti, tikar, keranjang, tampi, kipas, tas hingga berbagai perlengkapan rumah tangga yang berpeluang dikembangkan menjadi komoditas berdaya saing di pasar yang lebih luas.

Melihat potensi tersebut, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan berkolaborasi dengan Pokja II TP PKK Nunukan melakukan penjangkauan potensi ekonomi kreatif di Desa Kunyit dan Desa Sujau, belum lama ini.

Ketua Pokja II TP PKK Kabupaten Nunukan, Mardiana mengatakan, penjangkauan potensi ekonomi kreatif membutuhkan sentuhan inovasi, peningkatan kualitas dan strategi pemasaran yang tepat. Sebab, produk-produk tersebut diyakini mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

"Ini menjadi langkah awal pemerintah daerah untuk memetakan potensi kerajinan berbasis sumber daya lokal. Sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif," ucap Mardiana, Minggu (28/6).

Dijelaskan, kemampuan menganyam yang dimiliki masyarakat, khususnya kaum perempuan di kedua desa tersebut, merupakan aset budaya sekaligus modal ekonomi yang perlu terus dikembangkan. 
Apalagi, menganyam sudah menjadi budaya yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya.

"Kami melihat masyarakat di sini memiliki keterampilan yang luar biasa. Potensi seperti ini sayang jika hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri. Dengan pendampingan dan inovasi, produk ini bisa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi," jelasnya.

Dijelaskan, ketersediaan bahan baku rotan yang melimpah di wilayah Sebuku menjadi keunggulan tersendiri. Kondisi ini membuat masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan baku sehingga peluang pengembangan usaha kerajinan semakin terbuka.

"Rotan tersedia cukup banyak di desa. Ini menjadi modal utama. Tinggal bagaimana kita meningkatkan desain, kualitas produk, memperbaiki kemasan, serta membuka akses pasar agar hasil anyaman masyarakat mampu bersaing," katanya.

Untuk itu, pengembangan kerajinan rotan tidak harus meninggalkan identitas lokal. Justru, ciri khas budaya yang dimiliki dapat dipadukan dengan desain yang lebih modern agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

"Kami berharap para perajin mulai mengembangkan produk-produk kreatif seperti gelang, cincin, bando, gantungan kunci, suvenir hingga aksesori etnik lainnya. Produk-produk seperti ini memiliki peluang pasar yang cukup besar, baik untuk wisatawan maupun melalui pemasaran digital," bebernya.

Dengan upaya ini, tidak sekadar meningkatkan pendapatan masyarakat, pengembangan kerajinan anyaman rotan juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal. Sebab, ketika kerajinan tradisional memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, generasi muda akan lebih tertarik mempelajari keterampilan tersebut sehingga warisan budaya tetap terjaga.

"Kalau generasi muda melihat kerajinan ini memiliki nilai ekonomi, mereka akan tertarik untuk belajar menganyam. Dengan begitu, warisan budaya tetap lestari sekaligus menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa," pungkasnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#ekonomi kreatif #umkm #nunukan #sebuku