NUNUKAN - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kecamatan Krayan Selatan, semakin dirasakan masyarakat. Stok BBM dilaporkan kosong sehingga memicu antrean panjang warga yang berharap pasokan baru segera tiba.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli mengatakan, krisis pasokan BBM terjadi akibat terhambatnya distribusi. Kondisi jalan yang rusak parah membuat kendaraan pengangkut BBM sulit menembus jalur menuju Krayan Selatan.
“Stok BBM untuk masyarakat saat ini kosong. Pasokan sangat tergantung pada kendaraan pengangkut yang mampu melewati jalan. Perjalanan yang normalnya hanya sekitar dua hari, kini bisa mencapai satu minggu,” ucap Oktavianus Ramli, Minggu (21/6).
Dijelaskan, akibat keterbatasan pasokan, harga BBM di tingkat masyarakat mengalami kenaikan dan berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 28 ribu per liter. Sementara itu, sebagian kebutuhan BBM masyarakat juga dipenuhi dari pasokan yang didatangkan dari Malaysia, meski jumlahnya sangat terbatas.
Menurut Oktavianus, BBM asal Malaysia dijual dengan harga antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per liter. Distribusinya pun tidak dilakukan dalam jumlah besar karena terkendala kapasitas angkut.
“BBM dari Malaysia memang ada, tetapi jumlahnya tidak banyak. Pengangkutannya terbatas, bahkan sebagian dibawa menggunakan sepeda motor dengan jeriken dari Long Bawan,” jelasnya.
Kelangkaan BBM tersebut mulai berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian warga Krayan Selatan. Banyak petani kesulitan memperoleh bahan bakar untuk menjalankan berbagai kegiatan di sawah.
“Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat, mulai dari pergi ke sawah, membersihkan lahan hingga pekerjaan pertanian lainnya yang menggunakan bensin,” tambahnya.
Pihaknya berharap perbaikan akses jalan dan jembatan yang menjadi jalur distribusi logistik dapat segera dilakukan agar pasokan BBM kembali normal.
"Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan tidak hanya memicu kenaikan harga BBM, tetapi juga menghambat produktivitas pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT