NUNUKAN - Upaya untuk menyingkap tabir sejarah evolusi dan keanekaragaman hayati di daratan Kalimantan memasuki babak baru. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) secara resmi menyambut kedatangan tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Smithsonian Institution di Kabupaten Nunukan.
Kedatangan tim peneliti gabungan BRIN dan Smithsonian Institution menandai dimulainya agenda riset internasional. Dan riset kali ini mengusung tema 'Research on the Rediscovery of Bornean Areas of Endemism of Evolutionary Source of Southeast Asia's Remarkable Terrestrial Biodiversity'.
Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito saat memimpin langsung penerimaan tim peneliti pertama yang akan segera turun ke lapangan menyampaikan, tim terdiri dari pakar-pakar mamalia terkemuka.
Diantaranya, Nurul Inayah, Peneliti Laboratorium Mamalia dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, serta Dr. Melissa Hawkins, Peneliti dari Departemen Mamalia, Smithsonian Institution - National Museum of Natural History. Dan anggota tim lainnya juga tim dari Louisiana State University yang akan segera menyusul.
Pihaknya menyampaikan antusiasme dan harapan besar atas terlaksananya kolaborasi sains berskala global ini. Ia menjelaskan bahwa fokus utama dari survei ini adalah pengamatan dan pendataan kelompok mamalia kecil di lanskap hutan Kayan Mentarang.
"Melalui survei mamalia kecil ini, kita berharap dapat mengungkap lebih dalam kekayaan biodiversitas yang ada. Lebih jauh lagi, hasil temuan ini menjadi penguatan data keanekaragaman hayati mamalian di TNKM sekaligus menjadi dasar dalam upaya konservasi pengelolaan kawasan," ucap Seno.
Dijelaskan, data tersebut dinilai krusial tidak hanya bagi literatur akademik dunia yang mempelajari sumber evolusi satwa darat Asia Tenggara, tetapi juga sebagai pijakan strategis bagi Balai TNKM dalam merumuskan kebijakan pengelolaan dan perlindungan kawasan ke depannya.
Untuk itu, pihaknya berharap kegiatan eksplorasi tetap berjalan harmonis dengan alam dan manusia. Seluruh tahapan pengambilan data wajib menjaga kelestarian ekosistem kawasan Taman Nasional. "Serta senantiasa menghormati dan memperhatikan kearifan budaya masyarakat adat setempat yang selama ini menjadi garda terdepan penjaga hutan Kayan Mentarang," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT