Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Butuh Lahan 3,5 Hektare, Proyek Energi Terbarukan di Nunukan bersama Perusahaan Jepang

Asrullah RT • Jumat, 10 April 2026 | 15:36 WIB
PEMBAHASAN : Pemkab Nunukan bersama Kraftia Corporation saat membahas kelanjutan pembangunan pembangkit listrik hibrid yang menggabungkan tenaga surya (PLTS) dan biomassa (PLTBm) di wilayah Nunukan.
PEMBAHASAN : Pemkab Nunukan bersama Kraftia Corporation saat membahas kelanjutan pembangunan pembangkit listrik hibrid yang menggabungkan tenaga surya (PLTS) dan biomassa (PLTBm) di wilayah Nunukan.

NUNUKAN - Pembahasan teknis rencana proyek energi terbarukan bersama Kraftia Corporation kembali dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan pada Kamis (9/4). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembangkit listrik hibrid yang menggabungkan tenaga surya (PLTS) dan biomassa (PLTBm) di wilayah Nunukan.

Diketahui, Kraftia Corporation merupakan perusahaan teknologi asal Kyushu, Jepang yang berfokus pada pengembangan inovasi ramah lingkungan dengan visi menciptakan lingkungan hidup yang lebih nyaman dan berkelanjutan melalui pemanfaatan energi hijau.

Asisten Administrasi Umum Setkab Nunukan, Sirajuddin mengatakan, pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya pada 3 Desember 2025 lalu. "Pertemuan ini penting untuk melihat perkembangan proyek sekaligus mencari solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan,” ucap Sirajuddin.

Dijelaskan, pembahasan difokuskan pada progres pembangunan PLTS dan PLTBm yang direncanakan berlokasi di Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan. Proyek ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia dengan lokus di Nunukan.

"Proyek ini melibatkan PLN Unit Layanan Nunukan, serta didukung pendanaan dari New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO)," jelasnya.

Sirajuddin menyatakan bahwa Pemkab Nunukan akan segera melakukan rapat internal untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kesiapan lahan yang diminta. “Kami akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini agar keputusan yang diambil tepat dan mendukung kelancaran proyek,” katanya.

Sementara, perwakilan Kraftia Corporation, Akbar menambahkan, proyek yang diinisiasi sejak tahun 2024 ini mengalami penyesuaian. Terutama akibat kenaikan biaya. “Terjadi perbedaan harga yang cukup signifikan dari perencanaan awal, sementara NEDO telah menetapkan batasan standar biaya yang tidak dapat dilampaui,” ungkapnya.

Lanjutnya, terjadi embengkakan anggaran mencapai sekitar Rp 140 miliar yang dipengaruhi kenaikan biaya konstruksi pembangkit biomassa, pekerjaan sipil serta transportasi bahan baku tandan kosong kelapa sawit.

“Kondisi per Maret 2026 menunjukkan adanya peningkatan biaya yang cukup besar dibandingkan perencanaan awal. Sehingga proyek ini sempat berisiko tidak dapat dilanjutkan,” tambahnya.

Meski demikian, sejumlah langkah efisiensi telah dilakukan, antara lain melalui desain ulang pekerjaan sipil dengan melibatkan konsultan, negosiasi langsung dengan produsen boiler, serta koordinasi dengan kementerian terkait untuk memperoleh pembebasan pajak mengingat proyek ini merupakan hibah.

Kemudian, penyesuaian juga dilakukan pada kapasitas PLTS dari 1,8 MWp menjadi 1,3 MWp, bahkan disiapkan opsi hingga 0,65 MWp guna menekan biaya lebih lanjut. “Langkah ini kami ambil agar proyek tetap berjalan tanpa mengurangi fungsi utamanya dalam menjaga keandalan listrik di Nunukan,” bebernya.

Senada yang disampaikan perwakilan Kraftia Corporation, Ida Lisa menegaskan bahwa peran Pemkab Nunukan dalam proyek ini difokuskan pada penyediaan dan pematangan lahan. Dari total lahan sekitar 3,5 hektare yang telah disiapkan, pemerintah daerah diminta untuk mematangkan lahan seluas kurang lebih 0,8 hektare di area yang lebih datar.

Ia menegaskan, langkah ini dinilai penting untuk mendukung efisiensi pembangunan, khususnya dalam menekan biaya pekerjaan sipil serta mempermudah proses konstruksi fasilitas biomassa. “Kami tetap berkomitmen bahwa meskipun ada penyesuaian kapasitas, tujuan utama proyek ini tidak berubah, yaitu memastikan pasokan listrik tetap stabil, terutama saat terjadi pemadaman,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa proyek ini merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jepang kepada Indonesia. Sehingga standar spesifikasi dan keselamatan harus memenuhi ketentuan tinggi. “Kami ingin memastikan kualitas dan aspek keselamatan benar-benar terjaga,” harapnya.

Manager ULP PLN Nunukan, Rendra, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut. “Kami sangat mendukung program energi baru terbarukan ini, dari sisi sistem, kami sudah siap dan tinggal menunggu realisasi proyek,” singkatnya.

Untuk diketahui, kapasitas terbaru pembangkit, yakni biomassa sekitar 2,5 megawatt dengan kapasitas maksimal hingga 3 megawatt. Sementara PLTS direncanakan sebesar 650 kilowatt peak dengan dukungan baterai sekitar 2,8 megawatt. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#perusahaan jepang #listrik #nunukan #energi terbarukan